Kelemahan Umat Islam, Karena Jauh Dari Agama

0
15

Kelemahan umat islam, salah satu diantaranya disebabkan oleh jauhnya umat islam dari agamanya.

Terbukti bahwa Indonesia yang mayoritas muslim, masih banyak yang ‘buta’ terhadap ilmu-ilmu islam (ulumuddin).

Karena itu bermunculan lembaga-lembaga untuk berperan dalam usaha perbaikan umat. Hal itu dilihat dari bermunculannya lembaga dakwah harokah, lembaga pendidikan, sampai lembaga filantropi untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial seperti rendahnya akses kesehatan, tingkat pendidikan, kemiskinan serta advokasi bagi masyarakat muslim.

Dalam bidang Ekonomi, lahirnya lembaga-lembaga syariah sudah bermunculan, namun respon masyarakat masih sangat minim. Ada anggapan bahwa sistem syariah masih sama dengan sistem konvensional. Padahal jika ekonomi islam ingin dimajukan, harus dimulai dari kesadaran untuk memilih lembaga keuangan syariah.

Hal yang menggembirakan adalah berjamurnya lembaga pendidikan islam dengan berbagai konsep yang ada. Dan bak gayung bersambut, hadirnya institusi pendidikan islam banyak diminati oleh masyarakat. Sehingga kita mendapati sekolah-sekolah swasta banjir pendaftaran, karena tingginya animo masyarakat untuk pendidikan islami, khususnya pada pembiasaan membaca dan menghafal al-Quran.

Akan tetapi hal yang masih sangat minim perhatian adalah kehadiran lembaga yang fokus pada pengkajian dan penelitian yang memproduksi karya-karya ilmiah serta media yang mensosialisasi ilmu-ilmu agama (Ulumu ad-Diin) yang penting dalam masyarakat. Ilmu yang menjadi tonggak peradaban islam.

Sementara di sisi lain, proyek sekulerisasi yang melanda dunia islam bukanlah tanpa desain. Sekulerisasi adalah Megaproyek yang mendapatkan gelontoran dana serta perencanaan sistematis melalui lembaga-lembaga seperti CSIS (Center For Strategic and International Studies) yang dibiayai oleh Rand Corporation dan CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) yang berkedudukan di Indonesia. Secara serius lembaga-lembaga seperti ini memproduksi karya yang dibangun di atas asas-asas sekulerisme.

Tambah malangnya isu-isu politik disikapi secara reaktif dan membabi buta. Emosi tersebut kemudian disalurkan ke dalam berbagai media sosial. Sehingga media sosial dipenuhi dengan ujaran-ujaran tak bermutu, sumpah serapah bahkan tuduhan-tuduhan ‘kasar’ dari kesimpulan-kesimpulan pendek berbekal satu-dua teori konspirasi. Padahal, kita seharusnya disuguhkan dengan informasi dari dunia yang damai, dan lebih rasional tinimbang informasi yang berdasar sentimen (kelompok) belaka.

Apa yang menjadi fenomena tersebut sebenarnya (bisa jadi) termasuk dalam apa yang disebutkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai ‘Ghutsa’, fenomena ‘buih’. Dimana umat islam gampang diobok-obok karena tidak memiliki pemikiran yang mendalam, rasional dan konsisten terhadap isyarat wahyu.

Mungkin hal itu disebabkan karena belum hadirnya tokoh yang punya perhatian terhadap hal tersebut, atau mungkin juga disebabkan masih diliputinya cara berpikir sebagian masyarakat dengan pandangan-pandangan sekuler.

Kita bisa dapati, masjid dengan menara yang berdiri megah namun tidak memiliki fungsi selain ‘tiang speaker’. Fungsi estetika lebih didahulukan dibanding fungsi edukasi.

Padahal para ulama serta intelektual sepakat bahwa pokok persoalan umat hanya bisa diurai dan diselesaikan lewat jalur pendidikan. Umat butuh ditanamkan dengan cara pandang (worldview) yang benar yang merupakan hasil dari aqidah yang benar.

Jika cara pandang-nya (worldview) benar, maka sikap dan tindakannya akan benar. Dengan begitu seorang muslim akan tahu, dan bisa meletakkan segala sesuatu secara benar sesuai posisinya. Akhirat akan ditempatkan lebih tinggi dari akhirat. Ilmu agama adalah fardhu ‘ain dibanding ilmu umum yang fardhu kifayah. Ilmu lebih mulia dari harta. Dan taqwa adalah faktor utamanya. Jika itu bisa terimplementasi secara benar, aka akan terwujud masyarakat islami. Masyarakat beradab yang dipimpin oleh kekuasaan islam, yakni hirasati ad-Diin wa Siyaasati ad-Dun ya. Menjaga agama dan mengelola bumi. Tujuan akhirnya adalah lahirnya ‘Masyarakat Madani’.

Karena itulah Madani – Center for Islamic Studies hadir untuk berkontribusi di bidang tersebut. Sehingga lahirlah program – program kuliah dan forum – forum kajian islam yang fokus pada masalah intelektual.

Sebagai langkah awal, Madani – Center for Islamic Studies berkewajiban untuk mensosialisikan program – program yang dianggap dibutuhkan oleh masyarakat. Dan menawarkan kepada pemerhati dakwah, kajian dan pendidikan islam untuk bisa bersama dalam program – program Madani.

Terima kasih, Jazakumullahu Khairan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here