Bupati Takalar, Syamsari Kitta bahas Islam dan Nasionalisme di Madani Islamic Forum

0
118

Makassar – Madani Institute (Center For Islamic Studies) mengadakan Madani Islamic Forum (MIF) dengan Tema Islam dan Nasionalisme, Bertempat di Meeting Room Lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang A.P. Pettarani Makassar. Kamis (21/11/19).

Menghadirkan pembicara Bupati Takalar, Bapak Syamsari Kitta, S.Pt.,M.M mengupas Islam dan Nasionalisme.

Islam dan Nasionalisme pada akhirnya menjadi dialektika yang panjang. Keduanya diperhadapkan pada masalah dan kondisi realitas mulai dari akar rumput hingga ke tata negara.

“Islam dan nasionalisme adalah permasalahan yang sebenarnya telah tuntas pada masa founding father. Tapi, dialekektikanya terus berkembang sepanjang waktu utamanya ketika Islam terus dilekatkan dengan seluruh simbol-simbol Islam yang tidak semestinya. Cadar dan cingkrang contohnya yang menjadi simbol dalam beragam kemudian dilekatkan dengan terorisme dan radikalisme. Umat Islam adalah umat yang damai dan harusnya memiliki sifat rahmatan lilalamin,” ucapnya.

Pembicaraan tentang kesepakatan dalam nasionalisme di Indonesia kira-kira seperti kejadian piagam madinah. Ada nilai yang disepakati bersama untuk hidup dalam teritori Madinah. Di Indonesia kesepakatan itu disebut dengan pancasila.

“Oleh karena itu, memang sudah seharusnya wacana yang terus mempertentangkan antara Islam dan Nasionalisme tidak lagi kita permasalahkan. Seharusnya, kontribusi apa yang kita telah dan akan lakukan setalah perbincangan Islam dan Nasionalisme itu selesailah yang menjadi pokok perhatian kita di masa-masa yang akan datang,” lanjutnya.

Syamsari Kitta mengatakan bahwa Indonesia sekarang ada pada gelombang ke tiga.

“Hari ini, telah lahir gelombang ketiga Indonesia. Generasi baru yang tidak berhadapan langsung dengan penjajahan dan tidak terikat secara emosional dengan masa mempertahankan kemerdekaan. Generasi baru ini betul-betul adalah generasi yang lahir dari reformasi dan harus mengisi kemerdekaan. Dan Umat Islam Indonesialah yang harusnya memiliki andil paling besar dalam mengisi kemerdekaan bangsa kita karena secara jumlah kita ummat yang terbesar dinegeri ini. Gelombang ketiga inilah dimana seharusnya kita untuk tidak mempermasalahkan lagi istilah-istilah yang disetting untuk menekan ummat Islam,” imbuhnya.

Tokoh cendekia sulsel itu pun memberikan solusi tentang masalah islam dan nasionalisme

“Oleh karena itu, dalam kondisi kita mengalami shifting generasi seperti saat ini, maka tidak perlu lagi ada diskursus tentang Islam dan Nasionalisme. Yang perlu kita pikirkan selanjutnya adalah bagaimana caranya membuat “tulang punggung” Indonesia. leadernya harus dibentuk, kepemimpinnya harus dibentuk dan itu ada dipundak anak muda hari ini, generasi baru Indonesia, Gelombang ketiga Indonesia,” harapnya.

Bupati Takalar ini pun menutup materinya dengan penegasan bahwa Islam adalah agama yang akan sejalan dengan kemajuan zaman.

“Nilai paling dasar yang dapat kita lakukan adalah sebagai ummat Islam harusnya kompatibel dalam menyelesaikan setiap permasalahn utama bangsa. Islam ini adalah agama yang akan terus sesuai dengan kemajuan zaman, akan selalu kompatibel dalam menyelesaikan permasalahan ummat di setiap masanya. Oleh karena petunjuk itu telah ada, maka kita ummat Islam-lah yang ada di Indonesia yang harus menggunakan petunjuk itu dalam menyelesaikan permasalahan ummat dan bangsa yang sifatnya sangat mendasar dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak dengan jadinya ummat Islam Indonesia menjadi problem solver dari masalah kebangsaan dan masyarakat, maka secara tidak langsung kita telah melaksanakan fungsi-fungsi tujuan Islam itu diturunkan sebagai agama yang Rahmatan lil alamin,” tutupnya.

Laporan: Humas Madani Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here