Postmodernisme Dan Ide Keterbukaan : Mengukur Peran Mahasiswa Islam melalui Dakwah Akademis (Bag. 1)

0
24

Keberagaman etnis, suku, Agama dan cara pandang, memang menjadi satuan realitas yang tidak dapat dicegah dan dihindari. Kelelahan atas kondisi kemanusiaan, ekonomi, politik dan budaya yang lambat laun memakan nilai-nilai perbaikan dan moralitas atas manusia dan alam, telah membuat ribuan teori tidak lebih sekedar nyanyian skeptik bagi kaum Postmodern, lantas mengalah pada zaman adalah pilihan bijaksana.

Pertama, “postmodern dengan holismenya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi seutuhnya”. (Stanley J. Grenz, Etos Postmodernisme, hal. 7)

Dalam tataran individu, kebebasan menentukan nilai dan gaya hidup, menjadi barang haram untuk diusik orang lain, dimana kebijaksanaan dan kearifan individu diukur melalui besarnya toleransi terhadap prinsip nilai dan gaya hidup yang berbeda.

Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayaan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan, “Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi Anda,” dan “Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda.” (Stanley J. Grenz, Etos Postmodernisme, hal. 9)

Bagi Postmodernisme, manusia benar-benar membutuhkan pembebasan, bukan oleh kebenaran, tetapi dari keseluruhan ide kebenaran. Kebebasan yang sebenarnya, adalah memberikan kebebasan untuk berbeda, diterima secara toleran meskipun kita minoritas. (Pip Jones, Pengantar Teori-teori sosial, 227)

Kedua, generasi Postmodern tidak lagi menimbang rutinitas dalam aspek rasional dan norma, namun menimbang realitas dan kebenaran dari aspek emosional, hasrat kenikmatan, dan serba memaklumi.

Orang bekerja bukan karena meyakini adanya nilai inheren (kewajiban cari nafkah, Pen) dalam kerja, melainkan semata-mata menjadikan kerja sebagai sarana pemuas dorongan kenikmatan, prinsip kenikmatan merajalela mengalahkan prinsip realitas… (Donny Grahal Adian, Percik pemikiran, 74)

Donny Grahal melanjutkan, bahwa Postmodernitas ditandai dengan “…gerakan-gerakan sosial (LSM-LSM), seperti gerakan Feminis, gerakan lesbi dan homoseksual, gerakan antirasisme, gerakan etnik minoritas, dan gerakan buruh (Sosialisme)”.

Beberapa indikasi peralihan paham Modern ke Postmodernisme diatas, merupakan bentuk arus budaya yang sebenarnya datang dari sekelompok elit Intelektual abad ke 19 dan 20 seperti Nietzsche, Max Weber, Heidegger, Foucault, Lyotard, dan Derrida.
Buah pemikiran seorang ilmuan memang bukan perkara remeh, dalam sejarah, hampir tidak ada gerakan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tidak dilatarbelakangi oleh karya pikir para ilmuan.

Jika Hitler, Napoleon, Mussolini, dan Lennin menjadikan karya Machiavelli, The Prince, sebagai inspirasi untuk langkah politik yang kotor, tanpa belas kasihan dan banjir darah, maka dari gerakan perempuan, seorang Ilmuan Perempuan seperti Dora Russel, justru berteori bahwa, untuk menaklukkan penindasan dan dominasi laki-laki, ia merumuskan bahwa tubuh perempuan harus diumbar semaksimal mungking untuk mewujudkan kekuasaan perempuan.

“…menjadikan tubuh perempuan sebagai alat politik untuk meraih tuntutan hak-hak perempuan. Ide pembebasan tubuh perempuan dalam menikmati kesenangan seksual adalah tema yang ditekankan berulang-ulang untuk kemajuan perempuan ke arah kesetaraan dan kebebasan. Maka… tugas penting feminisme adalah untuk menerima dan mempropagandakan seks. Dari sinilah muncul ide mempolitisasi tubuh perempuan untuk menerima dan mempropagandakan seks. Dari sinilah muncul ide mempolitisasi tubuh perempuan untuk menguasai dunia”.(The Body dan Socialism : Dora Russell in the 1920)

Dari ide Dora Russel diatas, tanpa kita sadari, muslimah indonesia, yang bisa jadi bagian dari anggota keluarga kita, telah berpakaian minim terbuka, dan yang ada dikepala kita, itu adalah trend fashion biasa yang lahir dari budaya, minim yang tau, bahwa fenomena ini berawal dari wacana akademik.

Sebagaimana buah pikir anti Tuhan lainnya, Postmodernisme adalah ekspresi traumatik masyarakat barat terhadap Modernisme, yang dianggap menjadi sebab lahirnya kapitalisme, penjajahan, Industrialisasi tidak sehat, alienasi manusia, dan eksploitasi Alam.

Maka teori Hegel terus bergulir, bahwa kebenaran itu bersifat dialektis, kebenaran akan terus berkembang, yang benar hari ini, akan salah di masa depan, dan tergeser oleh kebenaran baru.

Ketiga, tidak seperti Modernisme yang menyebarkan paham Rasionalnya melalui karya-karya ilmiah, Postmodernisme justru kebanyakan menyebarkan pahamnya melalu Televisi, film, budaya POP, ragam kuliner dan pakaian.

Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite saja, tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop dan media massa. (Stanley J. Grenz, Etos Postmodernisme, 36)

Postmodernisme merupakan “Pemilik konsep pengetahuan dan konstruksi sosial atas selera dan gaya. Tidak perlu berpikir keras untuk menyadari pentingnya manipulasi media dalam pembentukan konsep tentang apa yang gaya dan tidak dalam pikiran konsumen…” (Dr Zaprulkhan, Epistemologi Postmodernisme, 308)

Mengenai paham Postmodern, memang memerlukan penjabaran yang luas, Postmodern sebagai wacana akademik, tanpa sadar telah merasuki cara pandang para elite dan masyarakat mengenai konsep Manusia dan kebahagiaan.

Maka, Mahasiswa Islam sebagai ujung tombak perjuangan dakwah akademis mulai dipertanyakan, langkah apa yang seharusnya para intelektual-akademisi muslim ini lakukan dalam menyikapi arus deras Postmodernisme yang telah membudaya ?

Pertanyaan selanjutnya, perhatian apa yang telah diberikan segenap elemen juang umat Islam kepada mereka ?

Bersambung…

**********

Penulis: Sayyid Fadhlillah
(Pengurus Madani Institute & Kordinator Kastra PD LIDMI Makassar)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here