Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

0
12

Keutamaan Ramadhan

Allah SWT menjadikan ibadah di setiap waktu dan tempat tertentu. Dan Allah SWT memilih waktu dan tempat tertentu untuk dilebihkan di atas sebagian waktu dan tempat yang lain. Di belahan bumi ini Allah memilih kota Makkah dan Madinah sebagai kota yang berkah. Demikian pula Syam dan Palestina.

Demikian pula selama setahun Allah memilih bulan ramadhan sebagai bulan dilimpahkannya pahala serta momentum untuk berlomba – lomba dalam kebaikan. Dalam beberapa penjelasan dari ayat – ayata al-Qur’an dan dari hadits Nabi SAW ada beberapa keutamaan dari bulan Ramadhan.

Pertama, Bulan diturunkannya al-Qur’an.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Al-Qur’an adalah kitab mulia, dan semua yang terkait dengan al-Qur’an akan menjadi mulia. Demikian pula kitab – kitab suci yang lain yang juga diturunkan di dalam bulan ramadhan.

Kedua, Setan dibelenggu dan pintu syurga dibuka.
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari)

Maksud dari hadits ini bisa bermakna dua. Bahwa secara nyata memang hal tersebut terjadi. Bisa juga bermakna majas, bahwa karena di bulan ini mudah untuk berbuat kebaikan.

Ketiga, Terdapat malam yang penuh kemuliaan.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3)

Ayat ini menjeleskan turunnya al-Qur’an pada fase awal. Dimana al-Qur’an turun dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia dalam jumlah seperti sekarang. 30 Juz, 114 Surah dan 6236 Ayat. Setelah di Baitul ‘Izzah, Malaikat Jibril membawanya kepada Nabi Muhammad SAW dalam jangka waktu 23 Tahun, sesuai kondisi dan sebab turunnya ayat – ayat tersebut.

Keempat, Bulan Ramadhan adalah waktu dikabulkannya doa. Sebab di dalamnya orang – orang berpuasa. Dan orang yang berpuasa doanya makbul di sisi Allah SWT.

Nabi SAW bersabda : “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi’ (H.R. Tirmidzi).

Keutamaan ramadhan kali ini secara pelaksanaan tentu berbeda dengan ramadhan – ramadhan sebelumnya. Dimana Pandemi CoVid-19 yang menggejala hampir di seluruh negara membuat kita, kaum muslimin menjadi terbatas dalam melakukan ibadah – ibadah jama’iy. Hingga tulisan ini disusun (Ahad/10/5), ada 13.645 kasus di Indonesia. Dimana pasien sembuh sebanyak 2.607 orang dan yang meninggal 959 orang. Sementara secara global, data yang dirilis oleh Worldmeters menyebutkan ada 3.911.454 kasus positif dan sekitar 270.339 orang meninggal dunia.

Sebenarnya bukan kali ini wabah terjadi. Dalam sejarah disebutkan ada beberapa gelombang wabah yang mematikan. Juga ketika masa kekhalifahan Umar Bin Khattab Ra.

Wabah dan Thaun dalam Sejarah

Seperti dikutip di kompas.com ada beberapa wabah yang mematikan yang terjadi sebelum pandemi CoViD-19.Wabah

1. Justinian

Pada pemerintahan Justinianus I, kaisar kerajaan Bizantium abad ke-6, terjadi sebuah wabah pes yang dikenal sebagai wabah Justinian. Pandemi ini diperkirakan telah menewaskan antara 30 hingga 50 juta orang. Wabah ini benar-benar terjadi, tetapi para peneliti masih mempelajari bukti terkait tingkat keparahannya sekitar 1.500 tahun yang lalu. Akibat penyakit tersebut, sebagian besar perdagangan terhenti dan kekaisaran melemah. Kondisi ini memungkinkan peradaban lain untuk merebut tanah Bizantium. Ketika Justinianus berusaha menyatukan kembali bagian timur dan barat dari kekaisaran Romawi tersebut, terjadilah wabah. Dia pun dipersalahkan dan menjadi akhir dari era.

2. Black Death

Antara tahun 1347 dan 1351, wabah pes menyebar ke seluruh Eropa. Penyakit ini menewaskan sekitar 25 juta orang. Pandemi ini kemudian dikenal sebagai Black Death. Wabah tersebut menjadi awal menurunnya perbudakan karena begitu banyak orang meninggal.

3. Cacar

Orang-orang Eropa mengenalkan sejumlah penyakit baru ketika pertama kali tiba di benua Amerika pada tahun 1492. Salah satunya adalah cacar, sebuah penyakit menular yang menewaskan sekitar 30 persen dari mereka yang terinfeksi. Selama periode tersebut, cacar merenggut nyawa sekitar 20 juta orang atau hampir 90 persen dari populasi di Amerika saat itu. Namun, pandemi ini justru membantu para orang Eropa untuk menjajah dan mengembangkan daerah-daerah baru yang dikosongkan.

4. Kolera

Pandemi kolera pertama terjadi di Jessore, India dan menyebar ke sebagian besar wilayah hingga daerah tetangga. WHO menyebut kolera sebagai “pandemi yang terlupakan” dan mengatakan bahwa wabah ketujuh yang dimulai pada tahun 1961, berlanjut hingga hari ini. Kolera dilaporkan menginfeksi 1,3 juta hingga 4 juta orang setiap tahun, dengan kematian tahunan berkisar antara 21.000 hingga 143.000. Penyakit ini sendiri disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi oleh bakteri tertentu. Oleh karena itu, wabah kolera sangat membahayakan negara-negara dengan kesenjangan yang tinggi, kemiskinan, tingkat kesehatan rendah dan pembangunan sosial yang kurang.

5. Flu Spanyol (H1N1)

Flu Spanyol, yang juga dikenal sebagai pandemi influenza 1918, adalah wabah virus H1N1 yang menginfeksi sekitar 500 juta orang. Saat wabah terjadi, Perang Dunia I akan berakhir dan otoritas kesehatan publik tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit protokol resmi penanganan pandemi virus. Pada tahun-tahun selanjutnya, penelitian pun dilakukan untuk memahami bagaimana pandemi terjadi berikut pencegahan yang dapat dilakukan.

6. SARS

SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh satu dari tujuh jenis virus corona yang dapat menginfeksi manusia. Pada tahun 2003, wabah ini bermula di Provinsi Guangdong, China, dan menjadi pandemi global saat menyebar ke 26 negara, menginfeksi 8.000 orang, serta menewaskan 774 di antaranya. Wabah SARS memberikan pelajaran untuk meningkatkan kesadaran pencegahan penularan penyakit, terutama bagi Hong Kong, dimana permukaan fasilitas publik kemudian secara teratur dibersihkan.

7. Flu Babi

Bentuk baru dari virus influenza juga sempat muncul di tahun 2009. Wabah ini menginfeksi sekitar 60,8 juta orang di AS, dengan kematian global antara 151.700 hingga 575.400. Penyakit ini disebut sebagai flu babi karena diduga berpindah dari babi ke manusia dalam penularannya. Flu babi berbeda dengan flu biasanya dimana 80 persen kematian terkait virus terjadi pada orang yang berusia kurang dari 65 tahun.
Dalam sejarah Islam sendiri, dilansir historia.id disebutkan wabah dimasa Rasulullah SAW ada wabah Shirawayh. Wabah pertama pada awal sejarah Islam ini terjadi di Al-Mada’in (Ctesiphon), pusat pemerintahan Persia, pada 627–628 M. Wabah berikutnya adalah Amwas. Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam “Plague in Early Islamic History” termuat di Journal of the American Oriental Society menjelaskan, wabah ini dinamai demikian karena menyerang tentara Arab di Amwas, Emmaus, sebuah wilayah di Jerusalem. Peristiwa ini terjadi pada masa Kekhalifahan Umar bin Khathab tahun 638/639. Wabah Amwas mungkin menyerang dua kali pada Muharram dan Safar. Wabah ini menelan korban jiwa 25.000 tentara muslim, yang meluas ke seluruh Suriah, Irak, dan Mesir. Wabah Al-Jarif (688–689) dan Al-Fatayat (706) menyerang Basrah, kota terbesar kedua di Irak. Wabah Al-Jarif menelan korban jiwa dalam tiga hari berturut-turut sebanyak 70.000, 71.000, dan 73.000 orang. “Kebanyakan pria meninggal pada pagi hari keempat setelah terinfeksi,” tulis Dols. Sedangkan Al-Fatayat disebut penyakit para gadis karena kebanyakan korbannya perempuan muda.

Bagaimana Menghindari Wabah dan Thaun ?

Dalam membahas Wabah dan Thaun, para ulama telah menulis beberapa Kitab untuk menjelaskan tentang hukum fiqh begitu pula ciri – ciri dari wabah tersebut. Dr. Syamsuddin arif mendaftar dalam kajian beliau “Teologi Wabah; Perspektif Islam menghadapi Pandemi” Diantara kitab yang membahas itu adalah Badl al-Ma’un fi Fadhl al-Thaun, karya Imam Ibn Hajar al-Asqalany, Risalah fi at-Thaun, karya Kamaluddin Abu al-Ma’ali Muhammad Abi Bakr al-Qudsi, Kitab at-Thawain karya Ibn Abi Dunya dan beberapa kitab lain.

Ibn Qayyim al-Jauziyah seorang ulama besar islam telah menuliskan sebagaimana dikutip dari Dr. Syamsuddin Arif, bahwa ada 9 upaya atau langkah dalam menghadapi dan menanggulangi wabah:

1. Hindari dan jauhi apa pun yang bisa membuat anda terinfeksi wabah tersebut: isolate

2. Jaga kesehatan dengan baik sebagai modal hidup di dunia dan akhirat: take care of your health

3. Jangan menghirup udara yang sudah tercemar dan membawa kuman penyakit tersebut: face mask

4. Jangan mendekat atau berdekatan dengan orang yang sudah terkena penyakit itu: social distancing

5. Buang pikiran dan perasaan buruk jangan terpengaruh oleh ramalan, fantasi, dsb: positive thinking, optimistic

6. Gabungkan usaha aktif dengan iman dan tawakal kepada Allah : tidak fatalistik dan tidak pula angkuh.

Mengambil keputusan dan pilihan yang rasional dengan mempertimbangkan maslahat dan mudarat (akibatburuk)
Lakukan tiga pendekatan sekaligus: kehati-hatian(hadzr), penjagaan dan pencegahan (himyah), dan larangan (nahy) memaparkan diri kepada resiko infeksi yang membinasakan.
Melakukan edukasi (ta‘lim) dan penerapan sanksi (ta’dib) bagi yang melanggar aturan.

Perintah Lock Down juga sudah seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab, Seperti yang dikutip oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam Fath al-Bari karya Imam Ibn Hajar al-Asqalani,

Khalifah Umar beserta para Sahabat dalam perjalanan dinas menuju Syam (Suriah), lalu terdengar berita bahwa wabah penyakit sedang melanda negeri itu, maka para Sahabat berselisih pendapat apakah meneruskan perjalanan ke sana atau balik pulang ke Madinah. Panglima tentara waktu itu adalah Jenderal !bu ‘Ubaydah bin al-Jarrah. Maka Khalifah Umar mengumpulkan para Sahabat senior untuk bermusyawarah. Khalifah Umar minta pendapat tokoh-tokoh senior dari kalangan Sahabat Muhajirin. Mereka sepakat menyarankan agar Khalifah Umar membatalkan kunjungan dan putar balik ke Madinah. Lalu beliau pun berseru. “Wahai rombongan sekalian, aku bersiap untuk berangkat pulang, maka bersiaplah”/ Jenderal !bu ‘Ubaydah berkata. “Apakah kita lari dari takdir Allah?” Maka Khalifah Umar menjawab. “Benar, kita lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain. Bukankah jika engkau menggembala unta akan memilih tanah yang subur daripada tanah yang kering tandus?”

Dari hadits / kisah tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Umar Bin Khattab sangat tepat mengambil ijtihad hukum dalam menghadapi pandemi dalam kaitannya dengan takdir. Bahwa semua usaha rasional harus diutamakan agar bisa terhindar dari wabah. Dan jika pun kita terkena, maka itu juga tetap adalah takdir Allah SWT.

Hikmah Dibalik Musibah

Musibah yang terjadi semuanya adalah ketetapan dari Allah SWT. Dan dalam aqidah kita sebagi seorang muslim, semua bala’ tidak lain adalah karena dampak dari perbuatan manusia sendiri.

“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali sesuatu yang sudah Allah tetapkan bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada-Nya orang-orang beriman bergantung (tawakal).” (QS at-Taubah: 51)

Dan tentu semua musibah itu punya hikmah di baliknya. Oleh karena itu kita bisa menjadikan momentum ramadhan kali ini dengan beberapa upaya yang bisa menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT.

Momentum Muhasabah

Muhasabah tahun ini bisa menjadi alternatif ibadah yang optimal dilakukan. Sebab kita bisa mengurangi intensitas interaksi dengan dunia luar. Karena itu, jika kita di rumah atau di kost, maka ada banyak kesempatan untuk memperbanyak muhasabah diri kita. Umar Ibn Khattab mengatakan, Haasibu anfusakum qabla an tuhaasibu. Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisab. Apa yang perlu dihisab ?. Bacaan al-Qur’an, sedekah serta ibadah shalat kita. Selain itu, kita menghisab amal – amal serta dosa – dosa yang kita pernah perbuat sepanjang tahun hijriyah.

Bermuhasabah, memikirkan diri, serta memikirkan hari akhir dan kematian adalah amalan para salaf yang membuat mereka lebih dekat kepada Allah SWT. Yang terpenting adalah, waktu dan tempatnya yang sesuai. Apalagi jika di rumah dengan banyak anggota keluarga, biasanya membuat kita susah untuk melakukan amalan infiradiy.

Optimalkan Ibadah

Mengoptimalkan ibadah ramadhan juga adalah kesempatan emas di bulan ramadhan ini. Kita bisa lebih banyak membaca buku serta mendengarkan ceramah dan kajian online selama di rumah. Sehingga #StayAtHome menjadi kesempatan untuk banyak ibadah infiradiy. Selain itu, bisa digunkana untuk muraja’ah bacaan dan hafalan al-Qur’an. Serta yang tak boleh luput adalah shalat Tarwih atau qiyamullail usahakan diperpanjang (bisa dengan bantuan mushaf atau gadget).

Ibadah Sosial

Selain ibadah infiradiy, kita juga tetap bisa mengamalkan ibadah sosial. Seperti infaq, atau pun jika kita memiliki keterbatasan dana, kita bisa menjadi Relawan untuk menggalang dana atau baik online maupun offline untuk korban terdampak pandemi CoViD-19 ini.

Produktivitas

Sebentar lagi kita akan memasuki 10 terakhir bulan ramadhan. Ibadah yang dilakukan Nabi SAW adalah beri’tikaf di masjid. Namun karena kita terhalang dari masjid, maka sebaiknya tetap kita manfaatkan di rumah. Seperti mengurangi waktu tidur di malam hari, mempercapat bangun malam dan menjauhkan diri dari tempat tidur yang membuat lalai. Sehingga kita bisa mengoptimalkan diri di 10 terakhir ramadhan. Selain itu kita bisa mengisi waktu dengan bacaan yang bermanfaat, menulis kisah, atau review buku dan lain – lain.

Hindari pencuri waktu

Pencuri waktu yang paling hebat untuk waktu ramadhan seperti ini adalah gadget kita sendiri. Lewat Youtube, Spotify atau pun Instagram dan Facebook, bisa membocorkan waktu kita dalam ibadah. Karena itu, sebaiknya kita mengurangi aktivitas membuka media sosial, kecuali sangat penting. Atau bahkan jika perlu menutup akun – akun yang bisa merugikan kita. Seperti instagram dan Youtube untuk selama bulan ramadhan.

Di tengah pandemi CoViD-19 ini, semoga Allah SWT menjadikan kita tetap meraih pahala ibadah ramadhan dengan sempurna dan meraih taqwa sebagaimana tujuan dari puasa. Semoga Allah mengangkat wabah dan bala’ ini dari negeri kita, dan negeri kaum muslimin seluruhnya. Amin.

***********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Ustadz Syamsuar Hamka, S.Pd,. M.Pd
(Alumni Pascasarjana UIKA Bogor & Direktur Eksekutif Madani – Center For Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here