Dinamika Islam di Nusantara

0
9

Penyebaran islam di nusantara adalah perbincangan yang menarik. Sebab proses masuknya Islam di Nusantara melalui jalur kultural yang berbeda dengan penyebarannya di negara sumbernya. Selain itu, memahami akar sejarah proses islamisasi di Nusantara adalah sangat perlu bahkan darurat.

Sebab perlunya pengokohan pemahaman masyarakat (khususnya kalangan milenial) terhadap diaspora proses islamisasi di Nusantara. Sehingga masyarakat bisa mengerti warisan sejarah mereka, serta memiliki pandangan yang utuh dan lengkap dalam bingkai kebangsaan dan keindonesiaan.
Secara umum, kehidupan umat islam sejak awal masuknya bertumbuh dan berkembang dari fase sosial-kultural menuju fase politik – kenegaraan.

Umat Islam berhasil mengubah corak pemahaman keagamaan di Nusantara yang berdasar animisme dan dinamisme kepada Islam yang Tauhidi. Keberhasilan itu tercermin sehingga menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di Dunia.

Artinya, keberadaan Islam bisa diterima secara luas oleh masyarakat. Keberadaan Islam bukan hanya berhasil mengganti ritual – ritual budaya dan keagamaan penduduk nusantara, namun juga berhasil merubah pola pikir masyarakat.

Berbeda dengan negara di Asia Tenggara lainnya, Islam di Indonesia meresap ke dalam sanubari masyarakat, merubah struktur sosial yang sarat dengan dinamisme dan animisme. Islam hadir di nusantara, betul sesuai dengan tujuannya, Rahmatan Lil-‘Aalamin. Berikut narasi yang bisa diikhtisarkan penulis.

Masuknya Islam di Indonesia

Di Indonesia, dari beberapa temuan, diperkirakan tahun 1200 merupakan awal proses pengislaman yang lebih terorganisir. Artinya, meski sebelumnya penyebaran Islam dilakukan secara perorangan dan tidak terorganisir, Islam sudah masuk dan diterima di Nusantara. Masing – masing pulau memiliki cara tersendiri terjadinya proses islamisasi. Dan diperkirakan Islam pertama kali sampai di Nusantara di awali di daerah yang paling barat nusantara yaitu pulau sumatera. Dari situ kemudian menjalar ke berbagai daerah lain di pulai lainnya.

Di Cirebon kedatangan Islam dimulai sejak Cirebon didatangi oleh Syekh Datuk Kahfi yang membuat perkam[puangan di Batuampar, Gunung Jati. Pada 1447, usaha ini dilanjutkan oleh pangeran Walangsungsang (Cakrabumi), salah seorang murid Syekh Datuk Kahfi, yang meluas ke perkampungan sampai Kebun Pesisir Lemah Wungkuk.

Di pulau Jawa, penyebaran Islam tidak lepas dari perjuangan dakwah Wali Sanga. Sembilan wali tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Dari proses panjang penyebaran Islam di Nusantara, dalam fase selanjutnya lahirlah kerajaan – kerajaan Islam. Fase ini menandakan awal terintegrasinya Islam yang lebih intensif ke dalam aspek sosial – politik masyarakat.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kerajaan Samudera Pasailah yang merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Lokasinya kira – kira termasuk wilayah Kabupaten Lhokseumawe atau Aceh Utara sekarang. Salah satu kerajaan lain yang terkemuka di Sumatera adalah Kesultanan Aceh Darussalam, yang mencapai puncaknyanpada abada XVI dan XVII. Sultan Ali Mughayat Syah (w. 5 Agustus 1530) adalah orang yang berjasa ldama meletakkan dasar yang kukuh bagi berdirinya Kesultanan aceh.

Di Semenanung Malaka berdiri Kerajaan Johor, yang merupakan pelanjut dari Kesultanan Malaka. Kesultanan Johor mencapai kemajuan karena juga mempunyai letak yang strategis di Selat Malaka dan di ujung Semenanjung Malaka. Pada masa ini, mulailah berkembang usaha dagang Barat, yakni VOC (Vereenigde Osst Indische Compagnie) di Batavia, dan Portugis di Malaka yang mulai memainkan peran monopoli perdagangan di Nusantara.

Sejalan dengan pertumbuhan kerajaan Islam di Sumatra dan Tanah Semenanjung, di Jawa juga berdiri Kerajaan Demak yang merupakan babapk penting islamisasi di Jawa. Penguasa pertama kerajaan Jawa adalah Raden Patah (1500 – 1518), keturunan raja Majapahit dari istri seorang putri Campa. Kesultanan Demak mencapai masa puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1524 – 1546), yang melakukan perluasan wilayah, membangun masjid Demak, membangun peradaban Islam – Jawa, sehingga menjadi pusat Islamisasi Jawa.

Sulawesi Selatan merupakan daerah transit dan penghubung pusat perdagangan di Malaka, Jawa dan Ternate (Maluku). Menurut Sejarah Gowa (Patturioloanga), telah datang serombongan pedagang muslim dari Phang, Patani, Johor dan campa dan Minangkabau untu izin tinggal dan membuka perkampungan di Gowa pada masa Raja Gowa XII Raja Tunijallo (1565-1590). Menurut hikayat rakyat setempat, raja Gowa dan Tallo mendatangkan tiga ulama dari Minangkabau untuk menjalankan dakwah di kerajaannya, yakni Khatib Tunggal (Dato ri Bandang), Khatib Sulung (Dato’ ri Patimang), dan Khatib Bungsu (Dato’ ri Tiro).

Di Ternate, Islam mulai datang pertama kali sejak awal abad XIV, tetapi mulai menyebar luas sejak Raja ke-12 yang bernama Molomateya (1350-1357), yang bersahabat dengan orang Arab, yang menunjukkan kepadanya cara membuat kapal.

Islam di Masa Kemerdekaan dan Pasca-Kemerdekaan
Hingga periode berikutnya, Islam menggesar keyakinan para penduduk setempat dari pandangan anisme dan dinamisme. Hingga menjelang kemerdekaan, umat islam menjadi agama mayoritas di Nusantara.

Hingga pergumulan antara kalangan Islamis dan Nasionalis dalam merumuskan dasar negara, Pancasila yang diyakini sarat akan muatan pandangan islam.
Akan tetapi perjuangan umat islam tidak berhenti sampai pada fase kemerdekaan. Dihapuskannya tujuh kata dalam piagam Jakarta, kepentingan umat islam sedikit banyak mengalami penyusutan secara politik. Apalagi terjadi polarisasi ideologi terhadap Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara konstitusional, umat islam pernah bersatu dalam wadah Partai Masyumi yang dilahirkan pada Kongres Umat Islam di Yogyakarta pada 7 November 1945 dan menjadi partai politik yang sangat kuat dengan perolehan 49 kursi di parlemen dari total 236 orang. Bahkan Masyumi masuk hampir pada semua kabinet dan bahkan pernah memimpin Kabinet Natsir (1950-1951), Kabinet Sukiman (1951-1952), dan Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956).

Namun karena adahya konflik internal, partai Islam yang kuat ini harus kehilangan sebagian kekuatannya karena memisahkannya NU dan PSII dari Masyumi. Selain itu, tekanan eksternal dan perbedaan visi politik dengan penguasa, yakni Soekarno, akhirnya Masyumi dibubarkan Soekarno pada 1960. Sepeninggal Masyumi, dapat dikatakan bahwa kekuatan Politik Islam jatuh pada titik nadir, sekalipun NU dan PSII serta PERTI tampil mewakili kepentingan politik muslim.

Di luar jalur konstitusional, untuk melawan kekuatan politik Tirani Soekarno, terdapat beberapa rangkaian perlawanan seperti DI/TII di Jawa Barat di bawah pimpinan Kartosuwiryo, DI di Aceh pimpinan Daud Beureuh, DI/TII di Sulawesi Selatan pimpinan Kahar Muzakkar, kemudian PRRI di Sumatera Tengah, serta PERMESTA.

Sebagaimana kepemimpinan yang lain, Soekarno jatuh setelah dkeluarkannya Supersemar 1966. Di bawah kepemimpinan Soeharto, umat Islam tampil dalam bentuk yang berbeda . Fase ini ditandai lahirnya gerakakn pembaharuan pemikiran islam yang dipelopori oleh angkatan muda Islam seperti HMI, PII serta GPII. Gerakan ini muncul sebagai rekasi kerasnya tekanan terhadap politik Islam dan kesadaran akan pentingnya perjuangan di luar sistem pemerintahan.

Di era reformasi, bentuk perjuangan umat islam memiliki wajah yang juga berbeda. Lahir partai – partai Islam yang dimotori oleh para aktivis di masa Orde Baru. Ada Partai Bulan Bintang, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera.

Modal Utama

Hingga kini, Indonesia terus mengalami dinamika antara relasi islam dan negara. Di level politik, umat islam mengisi pos – pos kepemimpinan dalam berbagai level. Banyak lahir pemimpin di tingkat daerah hingga nasional yang berkiprah membawa motivasi keberislaman dan kebangsaan.

Salah satu hal yang menjadi modal utama dari umat islam adalah karena toleransi yang kuat umat islam. Eksistensi umat islam bisa mendamaikan antara konsep keislaman dengan kebangsaan dalam bentuk negara Republik-Demokrasi. Masih sangat sering diselenggarakan dialog tentang relasi islam dan negara, namun yang pasti bahwa, Indonesia bukanlah negara agama (Teokrasi), bukan pula Negara Islam, namun juga bukan pula negara Sekular.

Kehidupan beragama umat islam dilindungi oleh Undang – Undang secara penuh. Dan peran umat islam dalam berbagai ormas seperti Muhammadiyah, NU, al-Washliyah, serta partai berasas Islam seperti PPP, PBB, PAN dan PKS semuanya menunjukkan peran yang sangat bear terhadap kemajuan indonesia dalam berbagai bidang kehidupan.

Hal yang terjadi kini pun menunjukkan kecenderungan pola hidup sosial – masyarakat yang semakin dekat dengan nilai dan unsur – unsur islam, seperti fashion dan kuliner. Juga muncul komunitas – komunitas baru yang beridentitas islam seperti komunitas hijrah dari kalangan bawah hingga artis dan elit masyarakat. Peran media Informasi membuat dakwah islam semakin tersebar di berbagai kalangan di Indonesia.

Selain itu, ada beberapa organsiasi serta komunitas – komunitas yang membangun gerakan pada sisi keilmuwan. Sehingga ada harapan besar, Islam berkembang pesat di wilayah NKRI, bukan hanya sebagai sebuah ‘doktrin’ tetapi sebagai sebuah ilmu yang memandu umat dalam membangun umat dan bangsa yang beradab.

***********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Ustadz Syamsuar Hamka, S.Pd,. M.Pd
(Alumni Pascasarjana UIKA Bogor & Direktur Eksekutif Madani – Center For Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here