Pesan untuk Bapak Goenawan Mohamad: Catatan Dari Seorang Anak Perempuan

0
110

Saya telah membaca tulisan Bapak Goenawan Mohamad hingga titik di kalimat terakhir, yang ditulis pada tahun 2013 dan sempat diturunkan di situs Melela.org. Tulisan yang sepintas terlihat “menggugah” tentang cinta seorang ayah kepada anak perempuannya. Namun saya sebagai seorang anak perempuan, tidak bisa menemukan yang Bapak maksud “cinta sebagai kekuatan besar” itu letaknya dimana. Pun mengenai “cinta tak bersyarat” kepada anak Bapak itu terlalu keliru. Terlebih setelah membaca berbagai komentar yang kebanyakan mendukung tulisan Bapak itu membuat saya lebih kaget luar biasa. Timbul pertanyaan, kemana perginya ajaran nilai-nilai luhur yang pernah diajarkan kepada kami semenjak kanak-kanak sebagai seorang anak perempuan?

Sungguh diluar dugaan ketika Bapak lebih mencemaskan bagaimana Mita yang adalah anak Bapak akan menjalani kehidupannya dengan gaya hidup yang memang berbeda dan di tolak masyarakat_yang sudah tentulah akan sangat sulit, dari pada harus mencemaskan ketika sang anak bertumbuh diluar kodrat (fitrah) keperempuanannya, sebagaimana yang telah dijalani oleh ibu dari Mita sendiri. Bukankah sebagai orangtua inilah yang seharusnya menjadi kecemasan utama.

Saya sebagai seorang anak perempuan, akan sangat kecewa ketika mendapati orangtua saya lebih membenarkan cara hidup saya, bukannya menuntun saya pada kebenaran. Menjadi anak yang dibiarkan salah lalu bertumbuh dalam kesalahan itu adalah sebuah ironi terhadap kami, sebagai anak perempuan. Sebab peran inti orangtua yang mendidik, meluruskan, membimbing serta memberi teladan terbaik itu adalah hal-hal vital yang paling kami butuhkan. Karena menjadi anak perempuan berarti kelak pun kami akan melahirkan dan mendidik generasi.

Lalu bagaimanakah kami selaku anak perempuan akan dapat meneruskan dan melahirkan generasi murni dari rahim sendiri ketika dibiarkan menyalahi kodrat. Sungguhlah jauh cita-cita ini, sebab tidak akan pernah terwujudkan. Padahal kami pun menginginkan kehidupan harmonis sebuah keluarga yang utuh kelak, sebagai mana peran yang telah dijalankan orangtua kami. Maka menjadi Mita adalah tragedi, sebab Mita tidak pernah mendapatkan peran pendampingan tersebut dari orangtuanya. Mita pun tak akan pernah bisa menimang anak yang terlahir darinya sendiri. Jadi dimanakah letaknya cinta besar yang Bapak maksudkan untuk sang anak?

Terhadap sikap Bapak yang terlalu gampang mentoleransi sebuah kesalahan, itu dapat terlihat hanya dari surat cinta yang Bapak terima dari seseorang yang telah menjadi benalu pada keluarga Bapak, sedang Bapak sendiri masih saja menyimpannya dengan perasan senang. Untuk apa? Sebagai anak perempuan, saya dapat merasakan perasaan hancur dan kecewa dari Mita mengenai hal ini, yang menemukan fakta bahwa ibunya sebenarnya telah dikhianati. Antara pernyataan Mita dan penemuannya terhadap surat cinta tersebut, sungguhkah Bapak tak dapat melihat relasi keduanya?

Lalu setelah Mita menyatakan kejujuran terkait gaya hidupnya yang menyimpang dari norma yang luhur, dimanakah letak peran Bapak beserta Istri sebagai orangtua? Bukannya melakukan pendekatan, mengajaknya berbicara atau berdiskusi membahas permasalahannya, malah yang mencengangkan adalah Bapak hanya menulis surat kepada Mita yang berisi pernyataan dukungan penuh dan memberinya sebuah buku tentang kehidupan seorang lesbian. 

Pak, sungguh kami menginginkan orangtualah yang selalu mendampingi kami terutama pada situasi yang pelik, menegur serta meluruskan kesalahan kami. Sangat disayangkan disini Bapak sama sekali tidak menjalankan peran itu. Seakan Bapak dengan karakter mudah menerima kesalahan hanya menganggapnya biasa saja, padahal akibatnya sangatlah fatal. Sekadar menulis surat dan memberikan buku sebagai dukungan bukanlah hal paling bijak yang bisa dilakukan orangtua terhadap anak perempuannya, sebab itu dapat dilakukan oleh semua orang. Sedangkan cara mendukung seorang anak perempuan itu memanglah sangat lebih membutuhkan pendekatan secara emosional. Sebagaimana perempuan itu, sisi kepekaan perasaanlah yang sering mendominasi. Namun Bapak tidak hadir disini, malah dukungan yang Bapak maksudkan itu sungguh keliru dan tertolak oleh norma masyarakat apalagi agama yang mirisnya Bapak sangat tahu itu.

Sebenarnya rangkaian kesalahan ini dapat terlihat bermula saat Bapak bersama istri yang adalah ibunya Mita hanya membiarkan ketika melihat serta menyadari indikasi penyimpangan Mita sedari awal. Sepertinya kita sepakat kalau hal tersebut adalah sebuah penyimpangan sebab Bapak sendiri mengakui merasa cemas, takut akan mencelakakan Mita, bahkan sempat terlintas untuk mengetahui apa penyebab mengapa Mita memilih gaya hidup LGBT. Jika ini bukan penyimpangan tentulah Bapak tidak perlu merasa khawatir dan bertanya-tanya.

Namun pernyataan Bapak selanjutnya menjadi paradoks sebab Bapak malah beranggapan bahwa menjadi Lesbian bukan kekejian hanya karena berdasar Bapak sebagai orangtua Mita yang bisa membenarkan tindakan menyimpang tersebut. Lalu menganggap dengan penuh rasa percaya diri bahwa itu adalah wujud cinta tanpa syarat anda kepada sang anak. Miris sekali, padahal dalam hal ini Bapak tidak pernah betul-betul menjalankan peran pendampingan kepada anak Bapak. Lalu cinta yang bagaimana yang di maksud ideal dari Bapak itu? Sebagai anak perempuan saya hanya melihat kenaifan.

Sepertinya teori “hujan dan awan saling melupakan” sedang berlaku pada Bapak. Bagaimana bisa Bapak menyakini bahwa Tuhan menerima kesalahan yang Bapak anggap hanya sekadar perbedaan ini, padahal Bapak pun percaya bahwa ajaran agama menyalahkan preferensi seksual Mita. Kami para pembaca tulisan Bapak menjadi bingung, dimana Bapak menempatkan Tuhan dan agama disini? Mengapa Bapak memisahkan agama dan Tuhan? Bukankah demi mengenal Tuhan kita harus mempelajari agama. Di dalam agama itulah kita mengenal konsep perintah dan larangan Tuhan. Lalu jika agama sungguh menyalahkan preferensi gaya hidup Lesbian Mita, itu berarti pelarangan itu dari Tuhan. Lalu dari manakah datangnya keyakinan Bapak bahwa Tuhan menerima larangan ini? Bahkan logika sederhana ini bisa kami pahami yang hanyalah seorang anak, mengapa Bapak malah membolak-baliknya. Sungguh ironi.

Disisi lain kita dapat mengapresiasi segala budi baik ataupun capaian prestasi Mita, sebagai orangtua Bapak bisa berbangga akan hal itu. Tetapi Mita dengan segala kecerdasan bahkan dengan segala prestasi yang melekat di dirinya semanjak usia sekolah, tidak bisa menjadikannya alasan untuk dapat membenarkan gaya hidupnya yang telah menyimpang jauh dari norma masyarakat terlebih agama. Hanya saja saya melihat sebagai perempuan, Mita disini tidak pernah benar-benar mendapatkan perhatian atau pun apresiasi atas prestasinya dari orangtuanya. Yang ia dapatkan hanyalah pembiaran-pembiaran serta tindakan dukungan keliru terhadap penyimpangan gaya hidupnya. Maka Mita juga adalah manifestasi dari seorang anak perempuan yang hidup dalam kesepian beserta kesedihan.

Lalu mengenai LGBT sendiri, sukakah Bapak dengan kondisi Negeri yang lebih longgar terhadap penerimaan LGBT disini? Sukahkah Bapak jika kaum LGBT marak di negeri ini? Harusnya dari pelajaran-pelajaran itu sudah sampai pada kita semua dampak yang akan di timbulkan, belum lagi sebuah penyakit mengerikan (HIV/AIDS) yang masih menjadi momok para tenaga kesehatan dalam menghadapinya terlepas dari tugas dan kewajiban. Bapak harusnya tidak menutup mata pada fakta ini, jangan menjadi egois hanya karena menginginkan “kebahagiaan” yang sebenarnya semu untuk anak Bapak saja.

Jika merasa bahagia atas kehadiran “teman” Mita yang Bapak anggap sebagai anugerah karena merasa mendapat satu anak lagi, mengapa Bapak tidak mengizinkannya berjalan sesuai kodrat Mita saja. Itu sama saja dan akan lebih baik. Bukankah jika menuntun Mita pada sejatinya kodrat perempuan, maka ia dapat mewariskan dan melahirkan generasi keturunan Bapak yang murni dari rahimnya sendiri. Maka Bapak tidak sekadar mendapat anak menantu, bahkan darinya akan lahir cucu-cucu yang dapat meramaikan rumah Bapak.

Kemudian melihat dari terlampaunya pembiaran “kebebasan-kebebasan” dan kurangnya hubungan emosional yang Bapak berikan itu, maka lumrah jika Bapak harus menanggung rasa kehilangan Mita dari dunianya. Walau Bapak merasa siap akan hal itu hingga menyebutnya sebagai cinta orangtua yang tak menuntut kepada anak, namun terlihat sangat menyedihkan. Karena memang kami sebagai seorang anak perempuan akan selalu menginginkan serta merindukan kasih sayang dan hubungan yang hangat dari orangtua hingga berapapun usia kami. Sudah seharusnya begitu. Kalau tidak, berarti memang terjadi banyak simpul kesalahan disini.

Seharusnya jugalah seorang anak perempuan itu, memiliki hubungan yang kuat pada orangtuanya. Apalagi kepada ayah yang menjadi wali utama seorang anak perempuan. Seorang ayahlah yang diharapkan melindungi, memberikan rasa nyaman dan bertanggung jawab penuh kepada anak perempuannya. Hingga kelak ia menyerahkan tanggung jawabnya itu dengan menghantarkan anak perempuannya pada pernikahan, yang mempertemukan dengan suami (laki-laki) sebagai pasangan anaknya. Sungguh, itulah yang kami harapkan sari seorang ayah. Bukan membiarkan kami hidup bebas diluar sana tanpa tahu kondisi kami yang sebenarnya, hingga kami memiliki kehidupan sendiri yang membuat kami sampai melupakan orangtua.

Maka menjadi seorang anak perempuan, yang kami butuhkan adalah didikan yang baik, pendampingan yang benar hingga mendapatkan pemahaman yang lurus. Bukan membenarkan segala tindakan kami yang memang sudah salah. Pun contoh teladan terbaik dari orangtua, seperti cara berkasih sayang yang benar. Hubungan keluarga harmonis yang dibangun oleh Ayah-Ibu kami yang berperan sesuai kodratnya, yang kemudian menjadikan kami lahir ke dunia ini. Pasti kami bahagia dan bangga terlahir dari kedua orangtua yang menjalankan peran-peran hebat tersebut sebagaimana mestinya.

Lalu hal yang sama pun akan kami berikan kelak kepada anak-anak kami sebab kami melihatnya dari orangtua kami. Bukan sekadar mendengar pengakuan cinta yang menggugah padahal tidak pernah terwujudkan, tidak terbukti sama sekali. Seperti yang di sebut-sebutkan pada tulisan Bapak, cinta itu sebagai kekuatan besar namun tanpa bukti dan ternyata hanyalah sekadar retorika belaka. Kami juga tidak menginginkan orangtua kami mengajarkan toleransi atau menerima perbedaan dengan cara yang keliru, bebas mengobrak-abrik atau menembus batasan nilai yang telah ditetapkan sejak dahulu, apalagi aturan yang berlandaskan agama, hanya karena menginginkan kami terlihat bahagia yang sebenarnya semu. Saya sendiri sangat tulus mengasihani Mita sebagai sesama anak perempuan. Semoga jangan sampai ada lagi anak perempuan yang lahir menjadi Mita-Mita yang lainnya.

Dan sungguh dari hati yang terdalam, sebagai anak perempuan impian kami adalah sebagaimana kami terlahir dari kedua orangtua yang hebat, maka begitu pulalah harapan kami kelak. Membangun keluarga sama seperti yang telah Ayah-Ibu teladankan. Sebuah keluarga utuh dan bahagia dengan segala keindahan harmonisasi didalamnya.

***********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: A. Nurul Indraswari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here