Islam dan Komunisme yang Saya Pahami

0
26

Secara faktual, komunisme sering berkait-kelindan dengan Ateisme. Meskipun istilah yang lebih tepat adalah anti-agama. Karena tesis dasar komunisme sebagai ideologi ekonomi – sosial – politik yang digagas dalam ‘Manifesto Komunis’ oleh Karl Marx dan Fredreich Engels adalah perjuangan kelas. Perjuangan kelas bagi buruh atau petani untuk mendapatkan hak milik terhadap barang-barang produksi (sebagai hasil usaha bersama). Untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, salah satu batu sandungannya adalah kehadiran agama. Hasilnya, agama harus dimusuhi. Itu yang tercermin dari jargon Nietzche, “God is dead”.

Komunisme sebenarnya adalah sintesa dari Dialektika Hegel dan Materialisme Feurbach. Dasar filsafatnya adalah Materialisme dan Naturalisme. Dari sisi Ontologi, Materialisme menyakini bahwa realitas akhir dari segala yang ada adalah materi. Materi, adalah benda yang bisa tangkap oleh indera. Sedangkan realitas metafisik, mereka mengingkarinya. Sementara Naturalisme adalah aliran filsafat yang meyakini bahwa alam adalah keseluruhan realitas. Alam bekerja berdasarkan hukum – hukumnya tersendiri tanpa campur tangan Tuhan. Sehingga dari sini, dua aliran filsafat ini sudah bertentangan dengan dengan agama (Islam) sebagai sebuah keyakinan (Aqidah). Bahkan lebih jauh, agama menurut Marx adalah ilusi yang membius dan mengalihkan perhatian masyarakat dari dunia dan kehidupan nyata. Menurut Marx, kehidupan sebenarnya adalah apa yang dihadapi umat manusia ‘di sini’ dan ‘kini’, bukan ‘di sana’ dan ‘nanti’. Sehingga narasi – narasi tentang hari kiamat, syurga-neraka, serta kehidupan setelah kematian menurutnya adalah ‘bualan’  bahkan ‘dongeng’ belaka. Adapun tujuan dari semua itu tidak lebih untuk menina-bobokkan masyarakat dari eksploitasi kelas proletar oleh kelas borjuis.

Karena itu – dalam pandangan komunisme –,   institusi  agama adalah salah satu penghambat terciptanya masyarakat ‘komunis’. Bagi Marx, masyarakat tanpa kelas adalah The Ideal Society. Dan untuk mewujudkan masyarakat tersebut, segala macam dapat ditempuh, sekalipun (harus) mengalirkan darah. Hingga kini, kita bisa melihat faktanya di berbagai negara yang berhaluan komunisme bagaimana komunisme meniti kursi kekuasaan dengan melangkahi anak tangga yang berserakan ‘jutaan tengkorak manusia’. Jejak – jejak komunisme adalah jejak bersimbah darah menuju kekuasaan dan kemenangan ideologi komunis di pentas politik. Karena itu, tidak heran Revolusi – Radikal adalah wajah dari metode yang ditempuh (Manhaj Taghyir) para pengusung ideologi komunisme untuk meraih tampuk kekuasaan.

Meskipun pada kenyataannya, tesis – tesis Komunisme Marx gagal mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan di bawah payung ideologi Komunisme. Sebaliknya wajah ketidak-adilan, kemiskinan, dan keterbelakangan selalu berada di bawah bayang – bayang komunisme. Faktanya bisa dilihat di Korea Utara yang hari ini murni menganut Ideologi Komunisme.

Argumentasi kaum yang pro-komunisme biasanya selalu memisahkan ateisme (anti agama) dan komunisme. Tetapi menurut saya, upaya itu sama saja dengan memisahkan garam dan rasa asinnya. Mungkin ada titik – titik dimana komunisme dan islam ‘bersepakat’, namun perbedaannya menenggelamkan persamaan itu. Sebab, Komunisme melawan agama sebagai ‘institusi kekuasaan yang menebar pengaruh’ untuk menerapkan hukum-hukum berdasarkan Wahyu dan ijtihad ulama.

Banyak usaha naratif untuk mendekatkan Islam dan komunisme. Salah satunya ada di buku ‘Ideologi Kaum Intelektual’, Ali Syaria’ti. Buku ini memuat pandangan filosofis Nabi Muhammad SAW sebagai pejuang orang miskin dan kaum dhuafa. Konstruk dakwah Nabi fase Makkah-Madinah dibawa kepada setting pertentangan antara kelas budak dan bangsawan. Demikian halnya Nabi Musa dan Bani Israil vis avis Fir’aun dan ‘konco-konco-nya’. Keberadaan dua kelas itu mewakili kelas buruh dan pemilik modal dalam konsepsi Komunisme.

Memang benar secara empirik, bahwa kehadiran Nabi sebagai upaya ‘pembebasan’ kaum papa dan tertindas melawan kaum tiran. Namun, kita harus memberi garis demarkasi yang ketat untuk hal ini. Nabi menggalang ‘kaum bawah’ melawan ‘kaum atas’, tetapi asas perlawanan dan pembebasannya tidak-lah sama dengan komunisme.  Antara langit dan bumi. Perlawanan kepada kapitalisme (global) tidaklah serta – merta membenarkan komunisme sebagai ideologi yang paling tepat untuk dijadikan sebagai ideologi tandingan. Sebab islam sendiri, punya konsep yang mendasari sistem ekonomi, sosial dan politiknya. Implementasinya dalam konstruk sosial bisa dilihat pada periode Madinah. Dimana Islam mewujud bukan hanya sebagai ‘agama ritual’ tetapi juga sebagai ‘agama sosial-kenegaraan’ yang menata masyarakat berdasar pada wahyu. Selain itu, tidak ditemukan sama sekali ‘niat’ nabi SAW khusus menggalang kelas budak dan ‘bawah’ untuk melawan para Zhu’ama’ Quraisy. Justru sangat sering Nabi SAW mengajak kalangan pembesar Quraisy untuk masuk Islam. Jadi fakta itu, secara langsung membatalkan tesis ‘pertentangan kelas’ ala komunisme dalam metode dakwah Nabi SAW.

Oleh karena itu, kita harus memahami secara utuh makna ‘Diin’ dan ‘Islam’. Islam adalah ‘berserah’, ‘selamat’ dan ‘damai’. Perlawanan yang dilakukan Nabi adalah perjuangan membebaskan manusia dari kesyirikan, penyembahan ‘materi’ dan ‘alam’ (nature) kepada Tuhan yang Haqq. Karena itu pula, Jihad dalam makna yang sebenarnya bukanlah ‘menaklukkan’ tetapi ‘membebaskan’. Pembebasan oleh karena manusia dikekang oleh kuasa syirik (materi dan dunia) dibawa kepada pada kebebasan (hurriyah) dengan penyembahan kepada pencipta alam raya.

Dari sini, tepatlah kalau kita rujuk makna ‘Islamisasi’ menurut para cendekiawan, seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islamization (of knowledge) is “the deliverance of knowledge from its interpretation based on secular ideology; and from meaning and expression of the secular” (Pembebasan ilmu dari interpretasi yang berdasar pada ideologi sekular; dan dari makna serta ekspresi sekular). Dalam definis al-Faruqi, Islamization of Knowledge (IOK) adalah “recasting knowledge as Islam relates to it” (Merombak atau menyusun kembali ilmu sesuai dengan islam).

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Komunisme tidaklah sama dan kompatibel secara sosial-ekonomi-politik dengan Islam. Ideologi Ekonomi Komunisme telah diselesaikan dan mendapat jawaban pada ‘Sistem Ekonomi Islam’. Sistem Politik ala Komunisme sudah mendapat jawaban pada diskursus ‘Fiqh Siyasah’. Dan Apek Sosial dari Komunisme tidak mendapat tempat dalam ‘Masyarakat Madani’. Begitu, kira-kira!.

Wallohu a’lam bi as-Shawab.

***********

Penulis: Ustadz Syamsuar Hamka, S.Pd,. M.Pd
(Alumnus Pascasarjana UIKA Bogor & Direktur Eksekutif Madani – Center For Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here