Dinamika Islam di Malaysia (1)

0
30

Malaysia merupakan kerajaan federasi di Asia Tenggara, yang terdiri dari sebelas negara bagian: Kedah, Perlis, Pulau Penang, Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak, Selangor, Malaka, Johor (seluruhnya terletak di Semenanjung Malaka), Sabah serta Sarawak (di Kalimantan Utara) dengan dua wilayah persekutuan: Kuala Lumpur dan Labuan. Kerajaan Malaysia mempunya luas 330.803 Km2, dengan jumlah penduduk 32.365.999 jiwa dengan persentase sekitar 69% Muslim. Agama resmi negara ini adalah Islam, tetapi agama lain seperti Buddhisme, Kong Hu Cu, dan Kristen boleh dianut dan diamalkan. Mata uang Malaysia adalah Ringgit Malaysia (RM).

Malaysia adalah negara yang berawal dari Kerajaan – Kejaraan Melayu di Semenanjung Malaka, yang kemudian secara berturut – turut dijajah Portugis, Belanda dan Inggris. Inggris memerdekakan semenanjung Malaka pda tahun 1957. Kemudian, Federasi Kerajaan Tanah Semenanjung bersama Singapura dan Sarawak membentuk federasi Malaysia (1963) dan tahun 1965, Singapura berpisah dan membentuk republik tersendiri.

Masuk dan Berkembangnya Islam di Malaysia

Letak geografis Malaysia yang satu kesatuan dengan Indonesia dalam posisi perdagangan laut menjadikan proses Islamisasi juga tidak lepas  dari poros yang diyakini sumbernya dari tiga negara utama. Diantaranya ada yang menyatakan bahwa Islam langsung masuk dari Arab, melalui India, China dan Campa.

Proses islamisasi yang terjadi lewat jalur perdagangan disebabkan salah satu faktornya adalah letak nusantara yang strategis, karena berada di pertengahan atau di ujung perjalanan laut. Pedagang dari Barat datang ke Nusantara untuk mendapatkan Emas, Bijih Timah, rempah – rempah dan kapur barus.

Teori kedatangan Islam melalui China dan Campa dipopulerkan oleh sejarawan berbangsa Spanyol, Emmanuel Godinho. Pada 613 H, agama Islam dibawa dari China dan Campa ke Patani dan di pesisir timur Semenanjung Malaka dan kemudian disebarkan oleh Paramesywara di Malaka. Bukti teori ini dikuatkan oleh fakta peninggalan beberapa masjid yang bercorak Chinesse seperti yang ada di Kelantan, Malaka, dan Pulau Jawa.

Teori kedatangan Islam dari India didasarkan pada sejarah bahwa India telah diislamkan sejak zaman khalifah Utsman bin Affan, yang memerintahkan Abdullah Bin Amir (Gubernur Irak) untuk melakukan ekspedisi dakwah ke India. Teori ini didukung oleh J.P. Moquette, S.Q. Fatimi, G.E. Marison dan Snouck Hurgronje dengan teori Otoktoni-nya.

Sejarawan S.Q. Fatimi dalam bukunya Islam Comes  to Malaysia berpendapat bahwa Islam di nusantara dibawa dari Gujarat. Ia beralasan bahwa Gujarat merupakan pusat perdagangan dan sekaligus penyebaran Islam yang penting di India setelah ditaklukkan oleh Sultan Alauddin Khilji. Pendapat ini didukung oleh J.P. Mouquette, yang membuktikannya melalui batu nisan di pekuburan Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur (1419), Malik al-Saleh di Pasai (1428) mempunyai ciri – ciri barang buatan Gujarat.

Akan tetapi teori ini dibantah oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia menolak bukti Moquette tersebut dengan alasan bahwa hal tersebut adalah bukti yang tidak menunjukkan karakteristik yang sebenarnya dari agama Islam. Dalam bukunya, Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu (1990: 53), Prof. Al-Attas menyebutkan,

Maka dari itu, jika Moquette berpendapat bahwa beberapa batu nisan di Islam yang penting yang didapatinya di Pasai dan Gresik membayangkan bentuk-rupa batu nisan di Gujarat, kenyataan ini tidak sewajibnya diberi makna bahwa Islam di daerah ini (Melayu-Nusantara-pen) berasal dari Gujarat dan disebarkan di sini oleh orang India dari Gujarat. Begitu juga halnya dengan kenyataan – kenyataan lain yang berdasarkan unsur – unsur “luar” benda – benda seperti itu; sebenarnya harus diberi kesimpulan bahwa terdapatnya benda – benda seperti itu di sini ialah karena lebih mudah bagi daerah ini memperolehnya dari tempat – tempat yang dekat padanya – tempat – tempat di benua India yang sanggup mengeluarkan dan menyediakan barang – barang itu untuk keperluan masyarakat di Kepulauan ini. Justru sesungguhnya merupakan wajiban jika ciri – ciri asal – usul Islam di sini dicari dari bahan – bahan dan kenyataan – kenyataan “dalam”, dan tulisan serta bahawa dan kesusateraan yang benar – benar merupakan ciri – ciri yang sah untuk memutuskan perkara ini.

Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Prof. Al-Attas untuk mendukung teorinya. Beberapa diantaranya adalah karya – karya ulama Tasawuf di Nusantara mencirikan sifat Timur Tengah, dan sama sekali bukan India. Karena itulah, Prof. Al-Attas kemudian menegaskan (1990: 53):

Walau bagaimana pun, yang penting ialah bahwa kandungan paham keagamaan yang dibawa oleh mereka itu (muballigh – muballigh lama Islam di tanah Melayu – Nusantara – Pen), adalah bersifat Timur Tengah dan bukan India. Lagi pula kandungan dan cara penguraian akidah – akidah pelbagai madzhab ilmu tasawuf peribentuk tulisan “Jawi” serta corak beberapa huruf – huruf al-Qur’an, dan beberapa perkara penting lainnya, menyatakan ciri – ciri tegas bangsa Arab, bukan India, sebagai pembawa dan penyebar asli agama Islam di Kepulauan Melayu – Indonesia.

Dari sini argumentasi yang dibangun oleh Prof al-Attas memuat ‘jiwa’ dan sarat akan nilai keislaman itu sendiri yang bercorak dari Arab yang menjadi tumpuan dari teori yang diusulkan.  Prof. Al-Attas menilik secara cermat bagaimana proses peng-islaman al-Qur’an yang dibawa oleh orang – orang Arab, demikian handal menanamkan bibit- bibit yang kuat mengakar ke sebagian besar Asia Tenggara. Kedatangan Islam telah membawa bersama tulisan Arab yang dijadikan tulisan Melayu yang mempunyai tambahan beberapa huruf istimewa berbagai bahasa itu, dan tampaknya tulisan jawi inilah yang mengikat perpaduan satu bahasa meliputi seluruh golongan bangsa melayu.

Perkembangan Malaysia Modern

Kekuatan kolonialis pertama yang masuk pertama kali ke Semenanjung Melayu adalah Portugis, yang menaklukkan kesultanan Malaka pada 1511. Sultan Malaka kemudian melarikan diri ke Muar, Pahang, Bentang, Kampar, dan kemudian ke Johor Lama. Ketika Johor Lama akhirnya diserang Portugis, Sultan Kampar dan Sultan Terengganu bangkit memberi bantuan kepadanya. Persekutuan beberapa kerajaan ini menjadi Kerajaan Johor-Riau yang kemudian secara de-facto diakui sebagai penguasa Melayu.

Kuatnya hasrat negara kolonialis Eropa untuk menguasai kawasan strategis Selat Malaka telah membuat mereka bersaing dengan sesamanya. Pada 1636, VOC bekerja sama dengan Sultan Aceh dan Sultan Iskandar Muda menyerang Portugis di Malaka. Hasilnya, benteng Portugis di Malaka jatuh ke tangan VOC. Kemudian akhir abad ke-18, Inggris mulai masuk dan ikut menanamkan pengaruhnya di Selat Malaka, dengan pertama-tama menguasai Penang.

Description: C:\Users\elfaatih\Pictures\Malacca_Sultanate_id.svg.png
Gambar Jangkauan Kerajaan Malaka
(sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0c/Q.svg)

Tahun 1842 diadakan Perjanjian London, dimana Inggris dan Belanda bersepakat untuk membagi wilayah kekuasaan kesultanan Johor-Riau dan negeri-negeri di sekitar Selat Malaka menjadi dua. Kawasan sebelah utara Selat Malaka dijadikan daerah tanah jajahan Inggris (British Crown Colony), dan kawasan selatan Selat Malaka akan diambil alih oleh Belanda, khususnya daerah Riau.

Puncak keberhasilan diplomasi Inggris di kawasan Selat Malaka ialah Perjanjian Pangkor (1874) antara Inggris dan Sultan Perak yang berdaulat. Perjanjian serupa juga diadakan dengan Selangor, Negeri Sembilan, dan Pahang. Setelah pembunuhan J.W. Birch pada 1875, dengan berbagai dalih kemudian Inggris mengambil alih semua kuasa pemerintahan dan politik atas keempat kesultanan tersebut dan menjadikannya di bawah kuasa residen menjadi The Federated Malay States, kecuali dalam soal adat istiadat dan hal agama Islam.

Kebijakan tersebut adalah salah satu faktor mengapa Malaysia sekarang masih mempertahankan budaya sosial politik serta adat kerajaannya. Identitas ini berbeda dengan Indonesia, yang memang Politik Belanda menghilangkan budaya politik tradisional kerajaan. Hal tersebut menjadikan Malaysia masih mempertahankan simbol – simbol tradisionalisme Islam di tengah arus modernisasi politik yang melanda kawasan Asia Tenggara.

Pada dekade pertama abad XX, di wilayah Semenanjung terdapat tiga kawasan dengan tiga bentuk pemerintahan dan situasi politik yang berbeda – beda. Pertama, adalah blok negeri – negeri Selat yang sejak awal telah jatuh ke tangan negara-negara kolonial, yaitu Pulau Penang (termasuk seberang Prai), Singapura, dan Malaka yang ketiganya disebut Straits Settlements dan langsung berada di bawah pemerintahan Inggris. Kedua, blok negeri-negeri yang menjalin perjanjian dengan Inggris yang tergabung dalam Federated Malay States, terdiri dari Perak, Selangor, Negeri Sembilan, dan Pahang. Ketiga, adalah blok negeri-negeri Melayu yang tidak bersekutu dengan Inggris, seperti Johor, Kedah, Kelantan, dan Terengganu, seluruhnya disebut Unfederated States.

Perjanjian Inggris dengan Siam (Thailand) pada 1909 menandai beralihnya penguasaan Kedah, Perlis, Kelandan dan Terengganu dari Siam ke pemerintah Kolonial Inggris. Sejak perjanjian itu, keempat negeri tersebut sama sekali tidak pernah kembali ke Protektorat Siam, walaupun Inggris sudah angkat kaki.

Ketika birokrasi pemerintah kolonial Inggris bertambah luas, terjadilah rekrutmen pegawai berkebangsaan Melayu, tetapi bidang yang dipercayakan pada bangsa Melayu hanyalah bidang kerja fisik dan sosial budaya, serta sedikit sosial politik, dengan gaji yang lebih rendah dibanding pegawai Inggris.

Sampai di sini kita melihat kondisi sosio-geografis, begitu pula politik semenanjung melayu yang menjadi fase sebelumnya lahirnya Malaysia sebagai sebuah negara. Penjajahan yang melanda negara ini menjadikan kesenjangan ekonomi semakin lebar. Posisi bumi putera dipinggirkan. Dan penjajah yang datang silih berganti memeras sumber daya yang ada hingga muncullah kesadaran dari bumi putera untuk bangkit dan memerdekakan diri. Hal itu tentu didahului oleh kesadaran akan kesamaan ideologis dan teologis di kalangan Melayu yang kemudian bergulir menjadi sebuah gerakan nasionalisme.

***********

Syamsuar Hamka, M.Pd.I.

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here