RESENSI BUKU JALAN TENGAH DEMOKRASI : Solusi Kemandekan Politik Islam di Indonesia

0
16

Penulis: Tohir Bawazir

Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Cetakan: I, Juli 2015

Tebal: 348 halaman

***********

Salah seorang pengamat politik, Nallom Kurniawan menyebutkan Indonesia tidak pelak lagi adalah negara demokrasi terbesar di dunia mengalahkan negara superpower Amerika. Meskipun di Amerika selama ini dikenal sebagai rujukan demokrasi namun di Indonesia lah yang menerapkan one man one vote secara harfiah. Indonesia merupakan negara demokrasi adalah hal yang tidak dipungkiri. Namun, fakta lain yang mengemuka bahwa negara kepulauan ini memiliki status sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Ketika diperhadapkan dengan Islam, demokrasi menjadi perkara yang menarik untuk dibahas. Melihat perkembangan dewasa ini, nampak jelas polarisasi di kalangan umat Islam sendiri dalam menilai hubungan demokrasi dengan agama. Beberapa kelompok di era bangkitnya gerakan islam transnasional cenderung menolak dengan tegas dan menganggap hal tersebut sebagai produk kafir. Segala pengejawantahan prinsip demokrasi dalam konsep bernegara harus ditolak walaupun kadar penolakannya berbeda-beda juga. Gerakan Islam lokal sekalipun seperti Muhammadiyah, NU, Persis secara kelembagaan maupun personal tokohnya memiliki pandangan yang bermacam-macam pula tentang menyikapi demokrasi. Apakah sebagai alat perjuangan politik Islam atau hal yang tidak perlu dibahas. Sebagian yang lain justru fobia terhadap Islam politik dan memilih pola sekular. Mereka menganggap potensi lahirnya “persatean” lebih besar dibanding persatuan ketika Islam politik dikedepankan. Islam Yes, Partai Islam No menjadi jargon yang dipopulerkan Nurcholish Madjid.

Tohir Bawazir dalam bukunya “Jalan Tengah Demokrasi antara Fundamentalisme dan Sekularisme” ini mencoba mengangkat permasalahan pro-kontra demokrasi tersebut dalam sudut pandang Islam. Menurutnya, persoalan pro-kontra ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan akhirnya kontra produktif dengan kondisi umat Islam saat ini. Buku ini dihadirkan dengan maksud mencari jalan tengah solusi dalam menyikapi kemajemukan bangsa Indonesia dan di sisi lain sebagai manusia yang tetap membawa prinsip Islam dalam setiap sendi kehidupan.

Di bagian awal, Tohir menguraikan akar historis demokrasi dalam kehidupan umat Islam di Makkah dan Madinah hingga berakhirnya kesultanan Usmani pada abad 20. Pada bab 2 dijelaskan juga tentang konsep negara Islam yang pernah dirumuskan oleh para ulama termasuk beberapa pandangan yang mencuat tentang khilafah islamiyah. Melangkah pada bab 3 sampai bab 8, Tohir panjang lebar membahas mengenai pergolakan sistem politik/partai politik dan kaitannya dengan Islam secara runut dari wilayah global hingga masalah umum yang dialami di Indonesia saat ini.

Sebenarnya sejak awal munculnya gagasan demokrasi, umat Islam telah memberikan banyak respon. Di kalangan Indonesia sendiri buku-buku M. Natsir atau Prof Hasbi ash-Shiddiqie sedikit banyak mewadahi kegelisahan cendekiawan Islam terkait tema ini. Namun, secara pribadi buku yang terbit pada tahun 2015 ini terasa membawa kesegaran dalam memandang konsep politik umat Islam. Dengan gaya bahasa populis dan lontaran pertanyaan-pertanyaan menggelitik, buku ini cukup berbeda dengan buku-buku sejenis yang membahas tema yang sama.

Wawasan luas penulis tentang dunia politik Islam khususnya di tanah air nampak dari keberaniannya dalam memberikan contoh-contoh praktis. Penulis memberikan contoh misalnya terkait proses pergolakan dan carut marut politik pasca reformasi yang penuh dengan intrik. Dengan lugas, penulis mengkritik proses koalisi antar beberapa partai Islam. Begitu pula dipaparkan sejarah partai Islam di Orde Lama dan Orde Baru yang setiap rezim beda sikap tentunya. Dan menarik pula dibahas tentang kelahiran partai Demokrat sebagai partai yang berslogan ‘nasionalis religius’ hingga kemenangannya selama 2 periode pemilu.

Sayangnya, jika dipandang secara luas konsep demokrasi sebagai jalan tengah yang dikemukakan oleh penulis masih terkesan prematur dalam narasinya. Uraian penulis yang berkutat pada persoalan tanah air seakan menyampingkan problem global umat Islam dalam ranah politik. Ada baiknya jika penulis juga memaparkan permasalahan politik Islam dalam ranah yang lebih luas. Misal mengambil contoh permasalahan di Mesir atau pilihan monarki Arab Saudi di era modern. Hal ini bisa memperkaya pandangan tentang konsep jalan tengah ini dalam tinjauan realitas global. Selain itu, konklusi di penutup pun bersifat antiklimaks. Pada bab 9 yang merupakan bagian akhir buku, penulis justru membahas mengenai zionisme yang kurang relevan dengan tema utama yang dibahas.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, buku ini tetap layak dibaca bagi umat muslim  dalam menambah wawasan tentang diskursus politik khususnya di tanah air. Paling tidak, ini menjadi bacaan awal bagi yang kurang familiar dengan tema politik Islam. Penjabaran contoh faktual dan lontaran pertanyaan menggelitik tentang kondisi politik Islam menjadi poin plus buku ini. Apakah sistem demokrasi harus diterima sebagai pilihan Islami? Apakah partai Islam dibutuhkan? Haruskah partai Islam eksklusif? Ataukah pertanyaan-pertanyaan lain tentang politik Islam di tanah air, buku ini bisa menjadi bahan diskursus untuk itu.

Wallahu a’lam.

***********

Penulis: Andi Muhammad Shalihin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here