Dinamika Umat Islam di Thailand; Dari Kerajaan Patani Hingga Perjuangan Identitas

0
25

Thailand (biasa juga disebut Muang Thai Risabdah) merupakan salah satu negara Asia Tenggara yang terletak di sebelah utara Malaysia. Merupakan salah satu negara Asia yang secara resmi tidak pernah dijajah oleh negara lain. Sistem Kerajaan (Monarki) tetap berlangsung atau bertahan sampai saat ini, karena sistem tersebut mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan modern, misalnya pembatasan kekuasaan absolut raja dengan memberlakukan konstitusi Thailand (sejak 1932).

Agama resmi di Thailand adalah agama Buddha aliran Teravada. Sekalipun secara resmi hukum yang berlaku adalah adaptasi dari hukum sipil Eropa yang sekular, agama Buddha telah memengaruhi keseluruhan perilaku kehidupan masyarakat Thai, khususnya dalam bidang pendidikan, hukum personal, dan dalam upacara-upacara resmi kerajaan. Vihara dan patung Sidharta Buddha Gautama dan berbagai aksesoris ritual agama Buddha Teravada bisa ditemukan dimana-mana.

Secara demografis jumlah umat Islam cukup kecil. Tetapi menjadi begitu penting karena beberapa provinsi selatan – yang berbatasan dengan Malaysia – beragama Islam.

Islam dan Kerajaan Patani

Keberadaan umat Islam di Thailand direpresentasikan oleh komunitas sosial Patani. Kemunculan Islam diawali sejak munculnya Kerajaan ini. Dengan menggunakan sumber – sumber China, pada abad II Masehi, di pantai timur semenanjung Tanah Melayu telah muncul negeri bernama Lang-Ya-Shiu (Langka Suka), yang letaknya kira – kira antara wilayah Senggore (Songkhla) dan Kelantan. Kerajaan Langkasuka (teluk patani sekarang) sangat sesuai untuk berlabuh kapal – kapal dagang dari berbagai wilayah di sekitarnya. Menurut Paul Wheatly, Kerajaan Langkasuka menguasai jalur perdagangan timur – barat melalui Segenting Kra hingga Teluk Benggala. Kerajaan ini bertahan hingga menjelang abad XIII dan digantikan atau dilanjutkan oleh Kerajaan Patani.

Description: C:\Users\elfaatih\Pictures\patani.jpg
Letak Kerajaan Patani
(Sumber: https://wawasansejarah.com/wp-content/uploads/2018/08/patani.jpg)

Menurut A. Teeaw dan Wyatt, berdasarkan tulisan Tomes Pires dan lawatan Cheng Ho ke daerah ini antara tahun 1404 – 1433, Kerajaan Patani didirikan sekitar abad XIV dan abad XV. Adapun menurut Hikayat Patani, Kerajaan Melayu Patani mula – mula berpusat di Kota Mahligai dan diperintah oleh Phya Tu kerab Mahayana. Kedudukan kota mahligai itu yang terlalu jauh ke pedalaman dan sukar untuk didatangi oleh pedagang – pedagang telah menyebabkan Phya Tu Antara, anak dari Phya Tu Kerab Mahayana, memindahkan pusat kerajaannya ke sebuah kota pelabuhan bernama Patani yang terletak di Kampung Grisek yang dahulunya juga merupakan pelabuhan Kerajaan Langkasuka.

Pedagang – pedagang muslim mendatangi daratan patani karena posisinya yang strategis. Posisinya yang terletak pada jalur yang dilalui pedagang timur dan barat. D’Eredia, seorang pelawat Postugis, memperkirakan bahwa Islam mulai menginjakkan kaki di Patani lebih awal dari Malaka. Teeaw dan Wyatt berkeyakinan bahwa Islam telah masuk di Kuala Berang, Terengganu sekitar 1386 – 1387. Dengan menggunakan analisis S.Q. Fatimi, Islam datang ke Patani melalui jalur timur (China dan Campa) dan juga barat (Samudera Pasai). Pya Tu Antara kemudian memeluk Islam melalui Ulama dari Pasai (Sumatera) bernama Syekh Said dan kemudian menukar gelarnya menjadi Sultan Ismail Syah Zillullah Fil Alam. Sejak itu, Islam mewarnai kebudayaan dan kehidupan rakyat Patani.

Kerajaan Melayu Patani mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan raja – raja perempuan (1584 – 1624). Pada masa pemerintahan raja perempuan, Patani mulai bekerja sama dengan Belanda, Inggris dan Jepang (pada pemerintahan Raja Hijau hubungan diplomatik diresmikan). Pada tahun 1624, Raja Ungu naik tahta menggantikan Raja Hijau. Raja Ungu sebelumnya merupakan Permaisuri Pahang, tetapi kembali ke Patani setelah suaminya meninggal. Ia dianggap sebagai raja perempuan Patani yang paling handal dan ambisius. Masa pemerintahannya tidak lama. Dalam masa pemerintahannya, Patani mengalami sebuah pertempuran besar dengan Siam pada tahun 1632-1634. Namun, pertahanan kota Patani saat diperintah oleh Raja Ungu sangat unggul karena dibuat benteng di sekelilingnya, sehingga berhasil mempertahankan kedaulatannya. Kebesaran Raja Ungu juga tidak dapat terlepas dari pengalamannya yang pernah hidup bersama sultan Pahang. Usia Raja Ungu saat memerintah Patani tidak muda. Hal tersebut menandakan bahwa ia sudah matang dalam menjalankan roda pemerintahan di Patani. Di bawah pemerintahannya, Patani mengalami kemajuan di berbagai bidang. Kondisi itu bertahan hingga masa pemerintahan Raja Kuning, sehingga dalam waktu yang relatif singkat mampu menjelma sebagai kekuatan perdagangan yang disegani di daerah Semenanjung Melayu. (Lihat: https://wawasansejarah.com/kerajaan-patani/ )

Ijzerman, seorang pedagang Belanda menyatakan bahwa Patani adalah “pintu masuk” ke wilayah Semenanjung, seperti Kedah, Perlis, Kelantan, dan Terengganu sekarang. Beberapa kali percobaan penyerangan oleh kerajaan Siam terhadap Patani dapat digagalkan karena adanya bantuan dari Pahang dan wilayah Melayu lainnya.

Sama halnya dengan kerajaan yang lain, kekuasaan Patani tidak kekal. Akhir pemerintahan Raja Kuning (1635 – 1688), Patani mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan oleh konflik perebutan kekuasaan antara sesama pewaris kerajaan. Intensitas perang saudara yang kerap terjadi menyebabkan situasi keamanan tidak terjamin sehingga Patani tidak lagi menjagi tumpuan pedagang. Hal ini berlanjut hingga abad XVIII.

Phraya Chakri, raja Siam yang baru saja mengalahkan Burma di Ayuthia, menyerang dan menundukkan Patani pada 1785. Dalam peperangan ini, Sultan Muhammad penguasa Patani waktu itu, beserta ribuan rakyatnya telah syahid dan lainnya ditawan di Bangkok. Sebagai gantinya, Tengku Lamidin, raja Bendang badan, dilantik oleh Siam sebagai raja Patani yang baru. Tahun 1791, Tengku Lamidin dibantu oleh Raja Annam yang beragama Islam, Okphaya Cho So dan Syekh Abdul Kamal berbalik melawan Siam. Namun pemberontakan tersebut gagal. Kemudian Pihak Siam melantik Datok Pengkalan sebagai raja Patani yang baru. Ia pun memberontak pada 1808, meski juga berakhir dengan kegagalan.

Untuk mengatasi kemungkinan pemberontakan kembali, Kerajaan Siam membagi dan memecah wilayah Patani menjadi tujuh buah negeri atau Huang Muang dan melantik tujuh orang penguasa negeri atau Chao Muang. Sejak saat itu, berakhirlah kerajaan Patani Raya dan menjadi salah satu diantara tujuh negeri. Adapun tujuh negeri tersebut dipimpin masing – masing oleh raja:

  1. Patani              :           Tuang Sulung
  2. Teluba             :           Nik Dir
  3. Nongchik        :           Tuan Nik
  4. Jalor                 :           Tuan Yalor
  5. Jambu              :           Nai Pai
  6. Rangae            :           Nik Dih
  7. Reman             :           Tuan Mansur

Sepanjang pemerintahan Sultan Muhammad (1842-1856) dan dua orang penggantinya, Tengku Puteh (1856-1881) dan Tengku Besar (1881-1890), Negeri Patani berada dalam keadaan aman dan Kerajaan Siam bahkan memberikan otonomi untuk mengurus pemerintahan Patani. Akan tetapi masa pemerintahan Chulalongkorn, raja Siam mulai memberlakukan kebijaksanaan Sistem Thesaphiban, yang menghilangkan otonomi dan kedaulatan raja-raja Melayu-Islam. Hal itu menyulut konflik dan memunculkan pemberontakan Tengku Abdul Kadir Kamaruddin tahun 1902.

Mulai tahun 1890-an kolonialis Perancis dan Inggris berlomba untuk meluaskan wilayah jajahannya di Asia Tenggara. Perancis berjaya menaklukkan Indo-China, sedangkan Inggris menundukkan Burma (Myanmar) dan semenanjung Malaka.

Dalam masa pemerintahan Perdana Menteri Chulalongkorn, dan Menteri Dalam Negeri Putera Damrong, pemerintahan wilayah dengan menggunakan sistem Thesaphiban digunakan secara seragam di seluruh wilayah dan akibatnya, otonomi dengan keunikan daerah masing – masing menjadi hilang, termasuk Patani. Dalam sistem pemerintahan tersebut, wilayah dibagi menjadi unit (Monthon). Tiap Monthon diperintah oleh seorang kepala daerah (Khaluang Thesaphiban). Khaluang bertanggungjawab kepada Menteri Dalam Negeri. Seluruh Khaluang adalah pegawai kerajaan yang digaji dengan gaji pemerintah pusat yang seragam. Konsekuensi dari penerapan sistem ini, otonomi, keunikan dan spesifikasi daerah dihapuskan. Demikian halnya penguasa tradisional daerah.

Sebagai wujud ketidakpuasan masyarakat Melayu Patani atas perlakuan Kerajaan Siam, terjadi beberapa kali pemberontakan, antara lain pemberontakan kecil yang terjadi pada 1901, 1911. Pemberontakan yang cukup besar meletus pada 1923 di Belukar Semak (Rakak), sebagai akibat pemaksaan Akta Pelajaran 1921, yang memaksa anak – anak Melayu Patani memasuki Pendidikan Kebangsaan Siam yang menggunakan bahasa Siam sebagai bahasa pengantar.

Pada masa pemerintahan Pibul Songgram, dilancarkan program Rathaniyon suatu program yang didasarkan pada ultra-nasionalisme Siam. Program ini bertujuan membentuk Negara Siam Sejati, berdasar satu agama, bangsa, bahasa, dan kebudayaan Siam. Seluruh program dituangkan dalam tujuh dekrit. Pada masa ini pula, istilah Siam menjadi Thailand. Tentu, bagi masyarakat Melayu Patani, program Rathaniyon 1939 adalah malapetaka besar, karena tidak lagi dibenarkan menggunakan nama Melayu, berpakaian Melayu, bercakap dan menulis dalam bahasa Melayu, bahkan mempelajari agama Islam. Puncaknya pada 1944, jawatan Kadhi dihapuskan dan masalah berkaitan dengan perkawinan dan harta pusaka diurus berdasarkan Undang-Undang Sipil. Menyadari bahwa ini adalah program De-Islamisasi dan pelucutan terhadap budaya Islam dan Melayu Patani, maka Haji Sulung bin Abdul Kadir mendirikan lembaga He’et al-Napadh alLahkanal Shariat (Badan untuk mempertahankan undang-undang syariat). Haji Sulong, seorang guru dan politisi terkemuka Patani, setelah menamatkan pelajarannya di Mekah, kembali ke Patani pada 1930. Dalam bidang pendidikan, dia mengajar di berbagai lembaga pendidikan, sedangkan dalam bidang politik dia mendirikan organisasi Gerakan Rakyat Patani (GRP). Pada 3 April 1947, Haji Sulong menyampaikan 7 Resolusi untuk kebebasan masyarakat Melayu Patani untuk mempertahankan identitas budaya dan agamanya. Akan tetapi, pemerintah Thai menolak hampir seluruh memorandum tersebut. 16 Januari 1948, H. Sulong dan pengikut setianya ditangkap, dan diperkirakan dibunuh.

(Bersambung  ke “Perjuangan Umat Islam Patani; dari Konfrontasi ke Gerakan Intelektual)

***********

Syamsuar Hamka, M.Pd.I.

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here