Perjuangan Umat Islam Patani: Dari Konfrontasi ke Gerakan Intelektual

0
75

Selain identitas muslim yang sudah lama dimiliki oleh Melayu Patani, hubungan kekerabatan tradisional dengan umat Islam di berbagai negara bagian di Malaysia Utara menjadikan muslim Melayu Patani memiliki kekuatan dalam memperjuangkan agama mereka. Awal abad ke-19 lahir berbagai organisasi yang menyuarakan hak-hak keislaman mereka. Selain Gerakan Rakyat Patani (GRP) yang didirikan H. Sulong 3 April 1947, musyawarah Perhimpunan Orang – Orang Melayu Patani di Kelantan pada Februari 1948 yang dihadiri sekitar 500-an orang peserta, melahirkan Gabungan Melayu Patani Raya (GEMPAR) yang diasaskan oleh Tengku Mahmood Mayideen (anak bungsu Tengku Abdul Kadir Kamaruddin). Pada 1959, Tengku Abdul Jalilk bin Tengku Abdul Mutalib menubuhkan Barisan Islam Pembebasan Patani (BIPP). Haji Karim bin Hasan pada 1960, menubuhkan Barisan Revolusi Nasional (BRN). Kemudian penghujung tahun 1970, Nusa Jalil Abdul Rahman menubuhkan Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN-Kongres), dan tahun 1968, oleh Tengku Bira Kota Nila dan Kabir Abdul Rahman didirikan Patani United Liberation Organization (PULO). Pada 1989, Wahyudin Muhammad, mantan wakil pengurus BIPP mendirikan Gerakan Mujahidin Patani (GMP).

Sejak akhir 1960-an, masyarakat Patani kembali bangkit menyuarakan dan menuntut hak – haknya. Beberapa faktor yang menyebabkannya adalah tekanan represif terhadap pemerintah pusat di Bangkok, pengaruh semangat perjuangan Komunis di Indo-China, dan juga gerilya komunis di pedalaman utara Malaysia.

Tahun 1975 masyarakat Patani mengadakan demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di Patani. Berbagai kegiatan lain diduga didalangi oleh gerakan Sabilillah, sebuah organisasi para-militer yang melakukan perlawanan fisik.

Selain itu, terdapat organisasi yang dianggap memiliki perlawanan yang kuat dan paling lama bertahan seperti Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP) dan Patani United Liberation Organization (PULO). 31 Agustus 1989 empat organisasi ini membentuk organisasi yang memayungi gerakan mereka yang bernama Barisan Bersatu Kemerdekaan Patani (BERSATU) atau United Fronts for Patani Independence yang diketuai oleh Wahyudin Muhammad sebagai Presidennya.

Sementara itu, dalam bidang pendidikan, pemerintah memperkenalkan (lebih tepatnya memaksakan) pendidikan modern. Kebijakan tersebut menjadikan rakyat Patani hanya diberi dua pilihan. Pertama, memodernisasi pondok pesantren tradisional, dengan memasukkan kurikulum dan mata kuliah yang memperkuat nasionalisme dan menghilangkan fanatisme serta memperluas wawasan cakrawala ala pemerintah. Kedua, memasuki lembaga pendidikan pemerintah dan meninggalkan pondok pesantren tradisional. Sementara, pemerintah hanya mengakui dan memberikan kesempatan pada lulusan Sekolah Pemerintah atau lulusan pondok yang dimodernisasi (Thailand-isasi). Akibatnya, banyak pondok yang bertahan dengan gaya dan kurikulum tradisional ditinggalkan oleh santri dan akhhirnya bubar. Akibatnya tersisa 93 dari 295 pondok yang sebelumnya menjalankan program pendidikan tradisional.

Dari sudut pandang pemerintah pusat di Bangkok, kebijakan ini cukup berhasil menggiring orang Patani menjadi orang Thai (nasionalisme). Namun tentu ini membuat kesenjangan antara para alumni pendidikan modern dengan tradisional. Sehingga para alumni pendidikan modern terjauhkan dari identitas kelompok mereka sendiri.

Signifikansi program ini menjadikan pemerintah meningkatkan perhatiannya pada pengajaran agama Islam. Tahun 1982 pemerintah membuka Program Kajian Islam di Universitas Pangeran Songkla di Patani dan pada 1990 ditingkatkan menjadi Kolej Kajian Islam (setingkat fakultas).

Description: C:\Users\elfaatih\Pictures\Prince-of-Songkla-University.jpg
Universitas Pangeran Songkla
(Sumber: https://annisaanitadewi-ad.blogspot.com/2017/03/i-visited-prince-of-songkla-university.html )

Secara ringkas, seluruh upaya ini telah menjadikan transformasi gerakan Islam dari gerakan perlawanan fisik – sabotase menjadi gerakan kultural – intelektual. Hal tersebut sebenarnya juga bermanfaat bagi umat Islam Patani sendiri. Sebab perlawanan konfrontasi yang menguras energi dan biaya serta korban yang demikian banyak. Secara garis besar umat Islam Patani dalam memperjuangkan nasibnya terpecah menjadi dua kelompok besar. Pertama, kelompok garis keras, mulai dari yang ultra-keras (memerdekakan Patani dari Thailand) sampai yang paling lunak (otonomi penuh), berjuang dengan kekerasan dan fisik serta memanfaatkan pengaruh dan tekanan internasional terhadap pemerintah Pusat di Bangkok. Kedua, kelompok moderat, biasanya mereka pernah mengecap pendidikan generasi muda yang banyak mempunyai akses ke luar negeri, dan yang secara sadar merasa bahwa perjuangan secara konstitusional dan bertahap lebih berhasil  bagi kemajuan umat Islam Patani. Sehingga terdapat dua partai politik yang mewakili aspirasi kelompok muslim Patani. Partai Demokratis Thailand dan Partai Apirasi Baru.

Kondisi Umat Islam Thailand Keseluruhan Masa Kini

Tahun 1990-an lebih dari 4,5 juta muslim menempati Thailand dengan total jumlah penduduknya 57 Juta. Dengan jumlah kurang dari 1 % itu, umat islam Thailand mengelola sekitar 2300 masjid yang tersebar di berbagai provinsi dan kota.

Masyarakat muslim imigran yang tinggal di daerah perkotaan kebanyakan berasal dari Asia Selatan (India dan Pakistan), Indonesia, Huihui (China), dan Persia. Di kota Chiang Mai saja, misalnya terdapat 5.000 penduduk muslim. Sekitar 5 % dari total penduduk Chiang Mai. Keturunan Huihui merupakan keturunan muslim Yunan (China) sejak akhir Abad XIX. Mereka kebanyakan menekuni perdagangan dan jasa.

Dari aspek pendidikan agama, setiap komunitas memiliki lembaga pendidikan yang biasanya dikaitkan dengan masjid, yang memberikan pendidikan agama terutama bagi anak – anak muslim. Sejak tahun 1970-an telah didirikan sebuah madrasah menengah lanjutan (Chitpakdee) di kawasan San Pah-Koy yang bertujuan untuk menyiapkan tenaga dalam bidang keislaman yang terampil. Sehingga lulusannya dapat mengajarkan ilmu – ilmu Islam di tingkat yang lebih rendah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkat hubungan yang semakin erat antara Thailand dengan negara – negara muslim lainnya seperti di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan bahkan Timur Tengah, semakin banyak generasi muda Islam Thailand yang dikirim belajar ke luar negeri dan banyak pula kunjungan dan bantuan yang datang.

Di Bangkok jumlah masyarakat muslim mencapai sekitar 8% dari jumlah penduduk kota Bangkok. Mereka terdiri dari keturunan Melayu Islam Patani (Thailand Selatan), Semenanjung Malaka, keturunan Indonesia (1.500 jiwa), Asia Selatan (7500 jiwa), Iran (1.200 jiwa), dan Cam (3.000 jiwa).

Mayoritas muslim Thai beraliran Sunni dengan madzhab Syafi’i, walaupun terdapat juga madzhab Hanafi dan Syiah. Oleh karena kuatnya pengaruh agama Buddha dalam kehidupan masyarakat luas, tidak mengherankan jika tradisi seperti menggunakan jimat, tolak bala, dan kepercayaan pada hal – hal magis, juga terdapat di kalangan masyarakat muslim Thailand. Hal itulah yang mendasari lahirnya gerakan pembaharuan (Tajdid) yang berorientasi pada pemurnian keagamaan.  Gerakan ini di Kota Bangkok dipelopori oleh Ahmad Wahab  al-Minangkabawy yang berasal dari Minangkabau. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Mekah, namun tidak kembali ke Minangkabau, tetapi justru melakukakn pembaruan di kalangan umat Islam Bangkok yang banyak melakukan praktik sinkretisme.

Sama dengan gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab di Timur Tengah dan gerakan Paderi di Minangkabau, Ahmad Wahab melakukan dakwahnya dengan sedikit kekerasan untuk menghancurkan hal – hal yang tidak sesuai dengan ketentuan agama yang salafi (puritan). Dalam gerakannya Ahmad Wahab menggunakan pendekatan rasional, argumentasi, logika dan dalil – dalil yang diambil dari al-Qur’an dan Sunnah, penggunaan Ijtihad, dan menghindari taqlid. Ia mendirikan organisasi Anshari Sunnah yang kebanyakan pengikutnya adalah pedagang, pegawai dan aktivis – aktivis muda Islam.

Reaksi dari dakwahnya yang lahir dari masyarakat yang terpengaruh nilai – nilai Buddha yang begitu kuat, menjadikan kalangan muslim lokal terbagi menjadi dua. Kaum Muda (Khana Mai) dan kaum Tua (Khana kau). Polarisasi pemikiran ini menguat di internal umat Islam Thailand.

Kelompok Khana Mai memiliki pengaruh yang kuat di Thailand. Tahun 1964, Persatuan Pemuda Muslim Thailand dibentuk di Bangkok, yang membawahi seluruh wilayah dan kaum muda islam Thailand. Pola perjuangannya mirip dengan ABIM Malaysia, yakni menggunakan sarana pendidikan secara modern, serta memiliki akses ke organisasi pemuda dan mahasiswa muslim internasional.

Sementara Pemerintah lebih merasa mudah berhubungan dengan kelompok Khana Kau yang konservatif karena lebih lentur, kooperatif dan tidak menuntut perubahan drastis serta siap berkolaborasi dalam berbagai keadaan sebagaimana adanya.

Dari pemaparan di atas, perjuangan umat Islam Patani yang minoritas mengalami pasang surut. Dari gerakan konfrotatif yang bersifat militerisme hingga gerakan intelektual seperti bidang pendidikan. Sama halnya di Indonesia, umat Islam ada yang mengambil jalur ‘radikal’ dan ada yang mengambil jalur diplomatik. Tetapi sadar atau tidak, upaya untuk memperjuangkan islam di negara bercorak terbuka seperti demokrasi tidak memberikan dampak yang positif bagi bangsa jika upaya itu dilakukan secara fisik dan bersenjata. Justru menjadi kontraproduktif terhadap orientasi Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin. Yang paling memberikan dampak positif adalah kontribusi umat Islam secara intelektual dalam membangun bangsa dan negaranya di mana ia berada, bagaimana pun sistem politiknya. Wallohu a’lam bi as-Showab.

***********

Syamsuar Hamka, M.Pd.I.

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here