Mengapa Pengobatan Islam Abad Pertengahan Penting?

0
20

Pada abad pertengahan, pemikir Islam mengembangkan teori-teori orang Yunani Kuno dan membuat penelitian medis yang panjang. Terdapat banyak hal yang menarik dalam dunia kesehatan dan penyakit, dan dokter serta cendekiawan Islam telah menulisnya secara panjang lebar, membangun rujukan lengkap pada bidang kedokteran, praktik klinis, penyakit, pengobatan, perawatan, dan diagnosa. Seringkali, dalam naskah-naskah medis ini, mereka memasukkan teori-teori yang berkaitan dengan ilmu alam, astrologi, alkimia, agama, filsafat, dan matematika.

Dalam buku “General Prologue” pada Kisah-Kisah Canterbury,  penyair modern Inggris, Geoffrey Chaucer merujuk kepada tokoh otoritatif Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariya Al Razi, seorang ahli klinis Persia (Al Razi) dan Abu Ali Al Husayn Ibnu Sina (Avicenna) seorang dokter terkemuka diantara dua cendekiawan Islam lainnya. Sebenarnya, para dokter barat pertama kali mempelajari pengobatan Yunani termasuk karya Hipokrates dan Galen dengan membaca terjemahan-terjemahan kitab – kitab bahasa Arab.

Pengaruh Pengobatan Islam

Pengobatan Islam dibangun di atas warisan dokter dan cendekiawan Yunani dari Alexandria dan Mesir. Para cendekiawan menerjemahkan literatur pengobatan dari bahasa Yunani dan Romawi ke bahasa Arab dan kemudian mengelaborasi isinya, menambahkan temuan mereka, mengembangkan kesimpulan baru, dan memberikan perspektif baru.

Cendekiawan islam secara cermat mengumpulkan dan menyusun data, sehingga orang mudah memahami dan memperoleh informasi rujukan dari berbagai naskah.Mereka juga meringkas berbagai tulisan dari karya – karya Yunani dan Romawi, serta menyusun ensiklopedia.

Alih-alih menjadi subjek pelajaran tersendiri, pengobatan justru menjadi bagian dari kebudayaan Islam abad pertengahan. Pusat-pusat ilmu pengetahuan bermunculan di masjid-masjid yang terkenal dan rumah sakit seringkali ditempatkan di lokasi yang sama. Disana, para murid kedokteran dapat mengamati dan belajar dari para dokter yang berpengalaman.

Dari tahun 661 sampai 750 M, selama dinasti Umayyah, orang-orang umumnya meyakini bahwa Tuhan akan menyediakan obat untuk setiap penyakit. Pada tahun 900 M,  banyak komunitas Islam abad pertengahan telah mulai menyumbangkan dan menerapkan sistem medis dengan unsur-unsur ilmiah.

Bersamaan dengan tumbuhnya minat terhadap pandangan ilmiah tentang kesehatan, para dokter mencari penyebab utama dari penyakit dan mengembangkan perawatan serta pengobatan yang memungkinkan.

Dunia Islam abad pertengahan menghasilkan beberapa pemikir medis terbesar dalam sejarah. Mereka membuat kemajuan dalam pembedahan, membangun rumah sakit, dan menerima para wanita yang berprofesi sebagai dokter.

Al-Razi

Seorang dokter, ahli kimia, alkimia, filsuf, dan cendekiawan. Al-Razi hidup dari 865 sampai 925 M. Dialah yang pertama kali membedakan campak dari cacar dan menemukan bahan kimia minyak tanah dan beberapa senyawa lainnya. Dia menjadi kepala dokter di Baghdad dan rumah sakit Rayy.

Sebagai penulis, Al-Razi sangat produktif. Ia menulis lebih dari 200  buku dan artikel ilmiah. Dia juga percaya pada pengobatan eksperimental.

Dikenal sebagai “Bapak Pediatri,” al-Razi menulis “The Diseases of Children” yang kemungkinan adalah teks pertama yang memisahkan pediatri sebagai bidang kedokteran tersendiri.

Ia juga merintis ilmu tentang mata (optamologi) dan merupakan dokter pertama yang menulis tentang imunologi dan alergi. Sumber  menunjukkan bahwa al-Razi menemukan alergi asma, dan dia adalah orang pertama untuk mengidentifikasi demam sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit dan infeksi.

Al-Razi, yang juga seorang ahli obat (pharmacist), secara luas menulis tentang tema ini, memperkenalkan penggunaan salep merkuri. Menurut catatan, ia menggunakan banyak alat, termasuk spatula, termos, mortir, dan phials (botol kecil laboratorium).

Catatan menunjukkan bahwa al-Razi melakukan perjalanan ke seluruh Persia, mengajarkan ilmu pengobatan dan merawat orang kaya maupun orang miskin.

Mengenai etika medis, al-Razi menulis, “Tujuan dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan bagi musuh – musuh kita, terlebih lagi bagi teman – teman kita, dan profesi saya melarang kita mencelakakan kaum kerabat kita, karena hal itu ditetapkan demi manfaat dan kesejahteraan umat manusia, dan Allah menetapkan kepada para tabib sumpah untuk tidak mengadakan pengobatan yang memalukan (motifera). “Al-Razi

Seperti yang umum terjadi di Eropa dan Timur Tengah pada waktu itu, al-Razi percaya bahwa hantu-hantu (bangsa jin) bisa merasuki tubuh dan menyebabkan penyakit mental.

Ibnu Sina

Ibnu Sina, yang banyak orang Eropa sebut sebagai Avicenna, juga keturunan Persia. Dia memiliki banyak keterampilan dan profesi, dan dia menulis sekitar 450 buku dan artikel, 240 di antaranya masih ada sampai sekarang. Empat puluh darinya fokus membahas pengobatan.

Diantara kontribusi Ibnu Sina yang sangat  penting di abad pertengahan adalah “The Book of Healing”, sebuah ensiklopedia ilmiah yang luas, dan “The Canon of Medicine”, yang menjadi bahan bacaan yang sangat penting di beberapa sekolah kedokteran di seluruh dunia. Berbagai universitas di Leuven, Belgia, dan Montpellier di Prancis, menggunakan naskah-naskah ini hingga pertengahan abad ke-enam belas.

The Canon of Medicine  yang juga disebut “Hukum Kedokteran”, Ibnu Sina menulis buku pelajaran ini setebal lima jilid dalam bahasa Arab. Belakangan, orang-orang menerjemahkannya ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman.

Karya tersebut adalah salah satu buku yang paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah kedokteran. “Canon of Medicine” menetapkan standar di Timur Tengah dan Eropa, dan meletakkan dasar-dasar pengobatan tradisional, Unani, di India.

Di Amerika Serikat, University of California, Los Angeles, dan Yale University mengajarkan beberapa prinsip “The Canon of medicine” dalam sejarah kedokteran mereka.

Beberapa bagian dari bukunya, Ibnu Sina menjelaskan pertimbangan untuk pengujian obat-obatan baru seperti:

1. Obat itu harus murni dan tidak mengandung apa pun yang akan mengurangi mutunya.

2. Penyidik harus menguji obat pada satu penyakit sederhana, bukan kondisi yang bisa memiliki berbagai komplikasi.

3. Mereka hendaknya mencoba pengobatan dengan setidaknya dua penyakit yang berbeda, karena kadang-kadang obat dapat mengobati satu penyakit secara efektif dan satu lagi secara tidak sengaja.

4. Kualitas obat harus sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. Misalnya, jika (sifat) “panas” obat lebih rendah daripada “hawa dingin” suatu penyakit, itu tidak akan berhasil.

5. Sang peneliti harus menjadwalkan prosesnya dengan cermat, sehingga pengaruh obat itu tidak disamakan dengan faktor-faktor pemicu lainnya, seperti proses penyembuhan alami.

6. Efek obat harus konsisten, dengan beberapa percobaan menunjukkan hasil yang sama. Dengan cara ini, penyidik dapat mengesampingkan dampak kecelakaan.

 7. Penyidik harus menguji obat pada manusia, bukan hewan, karena obat itu mungkin tidak bekerja dengan cara yang sama bagi keduanya. Ibnu Sina juga menjelaskan teori-teori yang praktis dan ilmiah tentang penyakit psikologi dan mental.

Anatomi dan fisiologi manusia

Dewasa ini, komunitas medis menganggap bahwa penjelasan pertama tentang peredaran darah paru-paru adalah Ala-al-din Abu al-Hassan Ali bin Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi, yang sekarang dikenal sebagai ibnu al-Nafis.

Dokter itu lahir di Damaskus pada tahun 1213 M. Dia mengatakan bahwa dia tidak suka membedah mayat manusia karena itu bertentangan dengan ajaran “Quran,” dan karena belas kasihannya terhadap tubuh manusia. Para sejarawan medis yakin bahwa kemungkinan besar ia meneliti binatang.

Sistem kardiovaskular

Galen dokter Yunani, yang hidup dari tahun 129 sampai 216 M, mengajukan bahwa tubuh menciptakan darah dalam hati dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh, dan bahwa otot-otot menggunakannya sebagai bahan bakar.

Ia juga berpikir bahwa lubang-lubang dalam septum jantung memungkinkan darah mengalir dari satu sisi ke sisi lain jantung.

Ibnu al-Nafis yakin bahwa hal ini keliru. Dia mengatakan bahwa darah harus mengalir dari kanan ke sisi kiri jantung, tetapi tidak ada lubang atau pori-pori di septum, seperti yang dikatakan Galen.

Dari pengalamannya dalam pembedahan, ia mengamati bahwa pasti ada suatu sistem arteri yang mengalirkan darah. Dia juga percaya bahwa arteri membawa darah dari ruang kanan jantung ke paru-paru, di mana darah akan berbaur dengan udara, sebelum bergerak kembali ke ruang kiri.

Mata

Menurut pengobatan Yunani Kuno, roh visual pada mata adalah asal penglihatan. Hasan ibn al-Haytham, atau al-Hazen, adalah seorang ilmuwan Muslim Irak yang hidup dari tahun 965 M sampai sekitar tahun 1040 M, ia menjelaskan bahwa mata adalah instrumen optik, dan memberikan gambaran rinci anatomi mata. Belakangan, ia mengembangkan teori-teori pembentukan gambar. Para pakar di Eropa merujuk pada “buku optik” -nya (Kitab al-Manazhir) hingga abad ke-17.

Sistem pencernaan

Ahmad ibn Abi al-Ash’ath, seorang dokter Irak, menggambarkan bagaimana usus penuh membesar dan mengerut setelah bereksperimen pada singa hidup.

Sistem Musculoskeletal: rahang

Abd al-Latif al-Baghdadi, seorang dokter, sejarawan Mesir Kuno, dan penjelajah, hidup dari tahun 1162 sampai tahun 1231 M. Galen percaya bahwa rahang bawah terdiri dari dua bagian, tetapi al-Baghdadi, setelah mengamati sisa-sisa lebih dari 2.000 orang yang mati kelaparan di Mesir, menyimpulkan bahwa rahang bawah hanya terdiri dari satu tulang.

Obat-obatan dan penyembuhan

Pengobatan Islam abad pertengahan biasanya berbasis tanaman, seperti tanaman yang terdapat di Yunani, Roma, dan Mesir Kuno. Nyeri dan anestesi menurut sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2016 dalam jurnal medis Iran, para dokter Islam menggunakan berbagai obat bius untuk anestesi. Al-Razi adalah dokter pertama yang menggunakan obat hirup (inhealed) untuk tujuan ini. Tanaman dan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit dan anestesi mencakup hemlock, mandrake, henbane, mandragora, opium poppy, dan “black nightshade”. Sang pasien akan makan, minum, atau menghirupnya sesuai kondisinya. Beberapa dokter juga menggunakan es untuk meredakan rasa sakit.

Para dokter menggunakan tanaman opium, yang bijinya mengandung kodein dan morfin, untuk meredakan:

• nyeri mata

• batu kantong empedu

• demam

• sakit kepala,

• radang paru-paru.

Obat-obatan lainnya

Para dokter Islam abad pertengahan menggunakan berbagai jenis jamu, termasuk yang berikut:

• Campuran biji adas, bunga chamomile, bunga jintan kuning, daun mallow, kol, dan bit, direbus bersama dan ditambahkan pada bak mandi sebagai menjadi penghilang rasa sakit bagi orang-orang yang terkena kanker.

• Bawang putih dalam banyak teknik perawatan, termasuk obat untuk masalah saluran kemih (urinary).

• Juniper atau pinus di bak mandi, untuk meredakan problem kulit alergi.

• Oregano dengan khasiat antiseptik dan antiradang.

• Kayu manis untuk luka, tumor, dan bisul.

• Ganja dan opium: Para dokter meresepkan obat ini, tetapi hanya untuk tujuan terapeutik, karena mereka sadar bahwa obat itu memiliki efek yang sangat kuat.

Ada bukti bahwa beberapa orang meninggal karena overdosis sewaktu menggunakan obat-obatan tertentu untuk menyembuhkan pikun, mungkin akibat malpraktek medis.

Pembedahan

Para dokter Islam di abad pertengahan melakukan lebih banyak operasi (bedah) dibandingkan pendahulu mereka, Yunani dan Romawi, dan mereka mengembangkan alat-alat dan teknik baru. Pada abad ke-10, Ammar ibn Ali al-mawsili menemukan alat suntik berongga yang ia gunakan untuk menghilangkan katarak dengan cara penghisapan.

Abu al-Qasim al-Zahrawi adalah seorang ahli bedah terkemuka yang hidup dan bekerja di Andalusia, Spanyol. Ia menemukan sejumlah alat musik, termasuk tang, penjepit, pinggirnya, dan spekula. Dia juga menggunakan benang untuk menjahit luka.

Jenis prosedur

Selain katarak, para dokter Islam abad pertengahan juga melakukan operasi mata untuk mengobati trakoma. Kauterisasi adalah langkah umum, yang mencakup pembakaran kulit untuk mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan .

Seorang ahli bedah memanaskan sebuah batang logam dan meletakkannya di atas luka untuk menyumbat darah dan mempercepat penyembuhan.

Selain itu, para ahli bedah mempraktekkan pengeluaran darah untuk memulihkan keseimbangan emosi, empat unsur atau karakteristik yang menjadi dasar pada sebagian besar praktek medis sejak zaman Yunani hingga abad ke-17. Mereka mengambil darah dari pembuluh darah, kadang – kadang dengan praktek yang disebut “wet-cupping”. Ini dilakukan dengan cara menempatkan gelas kaca panas di atas sayatan di kulit (semacam bekam: penerj.)

Rumah-rumah sakit

Terdapat pula rumah sakit, rumah sakit pengajaran, tempat para siswa dapat belajar cara mengobati pasien.

Kairo (di Mesir), Harran (di Turki) dan Baghdad (di Irak) memiliki banyak rumah sakit yang terkenal. Nama yang diberikan kepada rumah sakit adalah “bimaristan”, dari kata bahasa Persia yang berarti “rumah orang sakit”. Menurut Oxford Islamic Studies Online, istilah itu terutama merujuk pada fasilitas kesehatan mental, meskipun rumah sakit menawarkan berbagai layanan, dan orang-orang tidak selalu harus membayar.

Para dokter wanita

Dokter wanita merupakan hal yang umum dalam praktek kedokteran Islam abad pertengahan, menurut sebuah artikel yang diterbitkan di The Lancet pada tahun 2009. Beberapa wanita dari keluarga dokter terkenal tampaknya telah menerima pelatihan medis terkemuka, dan mereka mungkin merawat pria maupun wanita. Sementara kalangan lain menyediakan perawatan medis tanpa pelatihan formal, karena merupakan anggota keluarga atau tetangga.

Salah satu keuntungan wanita dapat menyediakan perawatan kesehatan adalah bahwa mereka akan lebih memahami masalah kesehatan wanita. Hal lainnya adalah bahwa para ayah dan wali pria lebih menyenangi untuk melihat perawat perempuan merawat anak atau istri mereka. Meskipun dalam beberapa kasus dianggap sama.

Takeaway

Ketika Eropa berada pada abad kegelapan, cendekiawan dan dokter Islam sedang membangun di atas hasil kerja dari Yunani dan Romawi dan membuat penemuan yang terus mempengaruhi praktik kedokteran. Di antara banyak pencapaian pengobatan Islam abad pertengahan adalah pemahaman yang lebih baik tentang fungsi tubuh, pembentukan rumah sakit, dan pembentukan gabungan dokter perempuan.

Direview oleh Daniel Murrel, MD pada 9 November 2018,- ditulis oleh Yvette Brazier.

Diterjemahkan dari laman http://www.muslimheritage.com/article/islamic-science-scholar-and-ethics

(Penerjemah : Andika Wahyudi. Editor : Syamsuar Hamka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here