Dinamika Islam di Filipina: Kerajaan Sulu dan Kedatangan Penjajah

0
10

Negara Filipina adalah negara dengan wilayah topografi kepulauan seperti halnya Indonesia. Wilayahnya terdiri atas pulau besar seperti Pulau Luzon dan Mindanao yang mencakup 2/3 daerah Filipina serta beberapa pulau kecil lainnya. Filipina termasuk daerah yang cukup subur untuk daerah pertanian. Salah satu penyebabnya karena daerah Filipina yang berpegunungan dan sebagiannya adalah gunung berapi.

Description: E:\Madani Institute\philippines-map.gif
Peta Filipina
(Sumber: https://www.mapsofworld.com/philippines/)

Kerajaan Sulu dan Mangindanao

Berbicara tentang masuk dan berkembangnya Islam di Filipina tidak akan terlepas dari pembicaraan tentang Kesultanan dan Silsilah Sulu. Walaupun hal ini menjadi rumit karena Silsilah Sulu memiliki beberapa versi yang berbeda. Namun, pada  dasarnya hampir semua silsilah bermula pada masa Rapa Sipad. Tersebutlah seorang muslim bernama Tuan Masha’ika yang datang ke Maimbung pada masa pemerintahan Rapa Sipad di Pulau Jolo. Berkat kelebihannya, dia dengan mudah diterima di masyarakat  dan bahkan sampai dinikahkan dengan putri Rapa Sipad. Keturunan beliau (cucunya) inilah yang pada akhirnya memerintah di Maimbung.

Seterusnya datang berbagai kalangan ke daerah Filipina. Ada orang Basilan yang menetap di Buansa, orang Baklaya yang menetap di timur kota Jolo sekarang, dan orang dari Johor yang menetap di beberapa pulau sekitarnya. Ada pula seorang Arab bernama Karim al-Makhdum bergelar Syarif Awliya yang membangun masjid di daerah Buansa dan bergabung dengan Bangsawan Tagimaha. Pada masa inilah disebutkan Islam mengalami perkembangan yang pesat. Perlu diketahui bahwa pada masa itu, masyarakat sekitar masih menganut pemahaman animisme dan dinamisme.

Berselang 10 tahun kemudian (sekitar tahun 1400), datanglah Raja Baguinda, seorang bangsawan dan pendakwah dari Minangkabau beserta beberapa pengikutnya. Bersama dengan bangsawan Tagimaha dan Karim al-Makhdum, mereka bekerjasama memajukan Islam di Buansa. Adapun Raja Baguinda diangkat sebagai pemimpin disana. Tidak lama kemudian, datang lagi seorang Arab bernama Syed Abu Bakar yang dikisahkan menikahi Permaisuri, putri Raja Baguinda. Berkat kefakihannya dalam agama, Syed dinobatkan sebagai sultan di Sulu dengan gelar Sultan Sharif.

Hal yang menarik bahwa Sultan Sharif sebagai pendiri Kesultanan Sulu memiliki silsilah yang unik. Sultan Sharif memiliki gabungan darah bangsawan Melayu Minangkabau (dari Raja Baguinda), darah bangsawan penduduk lokal (dari istri Raja Baguinda), dan keturunan Arab yang memiliki hubungan keturunan dengan Rasulullah. Hal yang kadang dibanggakan oleh masyarakat setempat karena kesempurnaan nasabnya.

Sejak berdirinya Kesultanan Sulu sekitar 1500 sampai raja yang terakhir pada tahun 1936, tercatat 32 sultan yang telah memerintah di kerajaan ini. Bukti-bukti arkeologis mendukung kebenaran berita ini, salah satunya dengan penemuan makam Sultan Sharif di lereng Gunung Tumangtangis yang berhadapan dengan Buansa.

Kerajaan Sulu bukanlah satu-satunya kerajaan Islam yang terdapat di Filipina. Adalah Muhammad Kabunsuan yang masih kerabat diraja Malaka mendirikan kerajaan di Mangindanao, Pulau Mindanao. Pada dasarnya Islam sudah lama ada di Mindanao. Namun, Muhammad Kabunsuan berperan penting dengan membersihkan ajaran Islam dari ajaran menyimpang termasuk ajaran animisme yang masih bercampur. Sejak itu, terdapat 21 sultan yang menjabat pasca mangkatnya Muhammad Kabunsuan.

Masalah Kolonialisme dan Misionaris

Saat ini, 83% penduduk Filipina adalah penganut Kristen Katolik dan merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berpenduduk Kristen terbesar. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Semua bermula dari kedatangan negara Eropa ke Filipina. Pada penghujung tahun 1564, satu rombongan Kerajaan Spanyol di bawah pimpinan Miguel Lopes de Legazpi tiba di Cebu bersama 6 orang misionaris Kristen. Selang 3 tahun kemudian, pasukan Legazpi berhasil menaklukkan Manila, salah satu Kerajaan Islam di Filipina. Kejadian ini sekaligus menandai masuknya era kolonialisme di Filipina hingga kurang lebih 300 tahun kemudian.

Tujuan penaklukan Filipina oleh Spanyol adalah latar belakang politik, ekonomi, dan misionaris. Perkara yang disebut terakhir berlangsung dengan sistematis dan sukses berkat bantuan keuangan dan senjata Kerajaan Spanyol. Alhasil, terjadilah proses kristenisasi paksa umat Islam di Filipina menjadi Kristen. Berikut tabel yang menunjukkan perkembangan Kristen di Filipina

NomorTahunJumlah yang Dibaptis
11583100.000 orang
21586170.000 orang
31594286.000 orang
41612322.000 orang
51622500.000 orang
61751904.000 orang
718664.000.000 orang
8Awal abad ke-1912.000.000 orang

Kristenisasi di Filipina terus berkembang melalui usaha dari penjajah Spanyol. Usaha ini dilakukan dengan berbagai cara baik melalui kekerasan maupun dengan bujukan dan cara-cara halus lainnya. Mereka memberikan hadiah tertentu yang menarik hati berikut dengan posisi sosial agar orang Islam bersedia memeluk Kristen. Namun, usaha kristenisasi tersebut ditolak dengan tegas di beberapa tempat. Umat Islam Sulu, Mindanao, dan sekitarnya bahkan memberikan perlawananan hebat terhadap penjajah Spanyol. Akibatnya terjadilah peperangan abadi antara bangsa kolonial Spanyol (dan penjajah setelahnya) dengan bangsa Moro di Filipina Selatan. Penyebutan Moro atau Moor dalam bahasa Spanyol adalah sebutan Spanyol terhadap kaum Islam di Filipina yang sebenarnya merujuk pada umat Islam di Spanyol lama dan penduduk pendatang Aljazair dan Maroko.

Bangsa Moro menganggap bahwa Spanyol dengan misionarisnya telah mendiskriminasi peluang dan kesempatan hidup mereka. Mereka kemudian bangkit melawan penjajah dan dianggap sebagai bagian dari perjuangan suci (jihad fi sabilillah).

***********

Andi Muhammad Shalihin

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here