Madani-CIS Sukses Menyelenggarakan Kuliah Sejarah dan Filsafat Sains

0
9

Madani – Center For Islamic Studies sukses mengadakan Kuliah Seri Sumbangsih Ibnu Haytham Terhadap Sains Modern, dilaksanakan melalui Zoom Meeting sebanyak 4 kali pertemuan yang di ikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ahad, (30/08/2020).

Kuliah Seri ini menghadirkan pemateri yakni Ustadz Usep Mohamad Ishaq salah seorang peneliti sejarah dan peradaban Islam. Di awal-awal materinya memaparkan tentang urgensi memahami sejarah sains.

“Memahami sejarah sains akan membawa sarjana muslim menemukan identitas dirinya. Aktivitas sarjana muslim merupakan kelanjutan dan tidak ahistoris; Bangga dan sadar terhadap sejarah kegemilangan sains umat Islam di masa lalu, “no civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past (Tidak ada satu peradaban yang akan berjaya atau bahkan akan eksis jika sudah hilang kebanggaannya terhadap dirinya atau terputus dari sejarahnya).” (M. Asad),” ujarnya.

Memahami lebih mendalam terhadap makna sains dan melihat sains sebagai suatu proses yang berkesinambungan dalam sejarah. Terlibat lebih mudah untuk terlibat dalam perbincangan sains serta berupaya menggali khazanah Islam.

“Kita harus merujuk khazanah Islam di masa lalu bagaimana mereka bisa membuat sebuah peradaban yang tangguh dan bisa mempengaruhi peradaban lain. Ini yang harus menjadi pelajaran orang Islam sekarang. Dan sejarah ini perlu diungkap kembali, karena sejarah itu ditutup-tutupi oleh Barat agar umat Islam tidak ingat bahwa mereka pernah berjaya dan memberikan sumbangan peradaban Islam terhadap peradaban Barat, sehingga Barat menjadi peradaban yang tangguh seperti saat ini (DR. Hamid Fahmy Zarkasyi),” tegasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Usep Mohamad Ishaq menjelaskan sekilas warisan para Ilmuwan matematika salah satunya Abu Rayhan al-Biruni (973-1048). Ia adalah yang pertama menggunakan trigonometri untuk ilmu ukur ruang bola (spherical trigonometry) dalam bukunya maqalid ilm al-Hay’ah
Ia adalah perumus kesamaan sinus yang disebut dalam al-qanun al-Mas’udi.

“Raksasa matematikawan Muslim lain adalah Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī (780- 850 ). Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari persamaan linear dan kuadratik. Nama ilmu al-Jabar dinisbatkan pada buku ini. Karenanya ia disebut bapak ilmu al-Jabar. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit,” pungkasnya.

Dalam ilmuwan kesehatan kita bisa melihat Ibn Sina yang menulis karya al-Qanun fi ath-thib yang merupakan buku teks (most often printed book in 16th cent.) kedokteran di Eropa selama beratus-ratus tahun sebelum mereka mengalami kebangkitan sains. Terjemah Latin: Liber Canonis, de Medicinis Cordialibus et Cantica, iam olim quidem a Gerardo Carmonensi ex arabico in latinum conversa.

“Termasuk Al-Zahrawi yang juga dikenal sebagai “Bapak Bedah Modern” karena ia membuat teori dan alat-alat bedah yang diantaranya dipakai hingga saat ini. Karyanya At-Tasrif liman Ajiza an at-Ta’lif adalah sebuah buku setebal 1.500 halaman yang terdiri dari 30 jilid yang menjadi rujukan bedah sampai sekarang. Menemukan catgut untuk menjahit bekas bedah,” lanjutnya.

Selain di bidang kesehatan dan matematika di atas juga sangat berkembang di bidang kimia, bahkan banyak ilmuwan muslim yang sangat faqih terhadap kimia, salah satunya Jabir Ibnu Hayyan.

“Jabir Ibnu Hayyan juga merupakan orang pertama yang mencetuskan dan memperkenalkan sistem penyulingan (destilasi) yang kala itu disebut dengan istilah taqtir dengan menggunakan alat-alat kaca yang dilengkapi dengan corong panjang yang berfungsi sebagai kondensor. Jabir Ibnu Hayyan juga merupakan pelopor dalam ilmu Kimia terapan. Beberapa di antara sumbangannya dalam bidang kimia terapan adalah penemuan bahan antikarat, tinta emas, penggunaan bijih mangan dioksida untuk pembuatan kaca, bahan pengering pakaian, dan penyamakan kulit,” imbuhnya.

Istilah kimia sendiri berasal dari bahasa Arab.
Salah satu tokoh dalam bidang Kimia adalah Jabir Ibnu Hayyan. Ia yang kali pertama mengelompokkan unsur kimia untuk logam, bukan logam, dan penguraian bahan kimia.
Hasil karya Jabir Ibnu Hayyan dalam bidang ilmu Kimia, termasuk kitabnya yang termasyhur yaitu kitab Al Kimia dan kitab Assab’in telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Reporter: Muh Akbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here