Karaeng Pattingalloang, Cendekia dari Timur (Bagian 1)

0
23

Saat masyarakat Gowa sedang berada pada lembah primordialisme, dia telah berada pada pendakian pengetahuan. Saat yang lain berkorban untuk ekspansi, dia justru telah berada pada kesimpulan kolaborasi. Dia memahami filosofi kerajaan bersaudara Gowa-Tallo, negeri maritim terkemuka di Nusantara dengan daerah kekuasaan yang membentang dari selatan Filipina hingga Nusa Tenggara, dari sebagian wilayah Malaysia  hingga ke barat Maluku.

Paradigma maritim bergejolak di dalam pikirannya. Di laut, kita semua sama di hadapan gelombang. Tidak ada karaeng atau ata. Siapa yang mampu menaklukkan gelombang maka dia adalah panglimanya. Begitulah paradigma maritim mengajarkan tentang visi besar, kemerdekaan, keluasan jelajah, pandangan tak bertepi, ketenangan, kecekatan, dan kedalaman jiwa. Dia lalu menaklukkan gelombang besar di hadapannya dengan elegan lalu tersebutlah namanya yang mengharum hingga kini dan mungkin hingga akhir umur dunia ini.  

Dia berenang ke dalam lautan ilmu yang tak tahu sedalam apa dasarnya. Semakin diminum airnya semakin haus. Hingga akhirnya kematianlah satu-satunya hal yang mampu memaksa menghentikan petualangannya “berenang” semakin dalam dan jauh melanjutkan catatan-catatan sejarah kehidupannya yang melegenda. Dia menyisakan “legacy” yang mungkin tidak akan pernah lagi dicapai oleh generasi pelanjutnya.

Internasionalis, open mind dan kesimpulan kolaborasi. Dia karaeng di butta Gowa tapi melegenda di Eropa. Pesanannya ke negeri nan jauh di belahan barat bumi mengagetkan masyarakat saintis disana. Justru saat masyarakat Eropa masih berada pada masa peralihan Reinassece, dia telah “disinari” cahaya pengetahuan dibandingkan masyarakat Eropa sendiri, negeri lahirnya ilmu pengetahuan modern saat ini.

Lautan itu penghubung antara imperium darat. Segala imperium yang tumbuh dan berdiri di atas darat dihubungkan dengan tenang oleh dan luasnya lautan yang kadang kala sangat dalam. Sebagai seorang diplomat, kecerdasannya diakui. Kehalusan hati, keluasan pengetahuan, penguasaan bahasa adalah modal besarnya merangkai peradaban Kerajaan Gowa-Tallo. Dia menjadi emulsi dari begitu banyak pertentangan internal dan eksternal kerajaan. Di masanyalah, Kerajaan Gowa-Tallo mencapai titik kulminasi peradaban.

Agama adalah bagian dalam integrasi dirinya. Sebagai islamic native generation, dia memahami bagaimana agama baru di Kerajaan Gowa (Islam) itu menjadi way of life dalam hidup. Kepercayaan yang merasuk kedalam jiwa, imannya yang berdiri di atas dasar yang kokoh bukan di atas pasir yang jika diterpa gelombang maka akan larut mengikuti arus dan gelombang yang menerjang. Keyakinannya kokoh menghujam. Arus dari bawah dan angin dari atas menerpa Karaeng cerdas ini. Tapi begitulah keyakinan itu telah masuk ke dalam relung-relung jiwanya. Agamanya digoyahkan tapi juga tetap tak bergeming, dia tetap menjadi Muslim sejati hingga akhir hayatnya.

Pesan-pesannya sebagai tupanrita Kerajaan Gowa-Tallo adalah kebanggaan. Mulia karena ilmu dan keingintahuannya. Ilmulah yang lalu menuntun hidup dan kebijaksanaannya. Ilmu yang menjadi visi terbesar dalam hidupnya. Waktunya dihabiskan untuk ilmu, dari bangun tidur hingga tidurnya kembali.

Siapakah dia gerangan yang begitu mempesona dalam cerita turun-temurun? Siapakah dia gerangan yang begitu melegenda dalam catatan-catatan sejarah? Siapakah dia gerangan yang begitu memikat hati orang-orang Eropa dalam pertemuan mereka lalu terekah dalam catatan-catatan sejarah masyarakat Barat?

Beliau ditakdirkan mengikat diri dengan nama, I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingngaloang..

Ya, memang namanya mungkin terdengar samar-samar oleh kita anak millenial bahkan oleh generasi-generasi sebelum kita. Namanya terdengar sayup-sayup seperti tak bermakna. Sebagian lagi mengetahui nama ini karena memang nama ini telah diabadikan menjadi nama salah satu aula di kantor Bupati Gowa. Nama yang melegenda di rak-rak buku sejarah negeri Melayu dan Eropa. Nama yang memang sepertinya kalah pamor dibandingkan nama besar juniornya, Sultan Hasanuddin dan Syekh Yusuf. Tapi, justru nama itu yang akhirnya menginspirasi bukan hanya saya, tapi mungkin juga banyak orang di luar sana.

Sejarah adalah cara yang paling baik untuk “meramalkan” masa depan, istilahnya forecasting. Sejarah adalah cermin yang paling jernih untuk memetakan masa depan. Sejarah mengajarkan kita menjadi decision maker, sejarah selalu mengajarkan bahwa peristiwa besar memiliki tahapan-demi tahapannya hingga akhirnya sejarah juga mengajarkan cinta kepada jiwa.

Cerita melahirkan kekeguman. Rasa kagum melahirkan cinta. Cinta menuntut pembuktian. Maka kubuktikan cintaku dengan menulis kebesaran seorang karaeng cendekia dari butta Gowa itu. Kucari kesana-kemari tulisan sejarah, bukti sejarah, hingga cerita turun temurun karaeng ini. Memang sulit mengumpulkan serpihan demi serpihan informasi. Tapi cinta memang membutuhkan bukti dan cinta juga menuntut pengorbanan. Tulisannya memang belum usai hingga kini, tapi cerita kebesarannya semakin kucari semakin mengharum.

Kolaborasi, pengetahuan, internasionalis, diplomat dan karaeng. Bagaimana mangkubumi raja gowa ini menjalani hari-harinya merangkai kata-kata diatas? Kita lanjutkan pada edisi selanjutnya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here