Genealogi Karaeng Pattingaloang

0
12

Nama lengkapnya adalah adalah I Mangadacinna Daeng Sitaba (sumber lain menyebut Daeng I Baqle)1  Sultan Mahmud Karaeng Pattingaloang. Lahir pada tanggal bulan Agustus 1600 M atau 1009 H. Karaeng Pattingalloang menutup umurnya pada usia 54 tahun, meninggal pada tanggal 15 September 1654/ 23 Sya’ban 1064 H. Nama karaeng Pattingaloang adalah penisbatan terhadap tempat lahirnya yaitu daerah Pattingaloang, sebuah daerah kekuasaan kerajaan Tallo.2,3

Ayahnya bergelar karaeng Matoaya. Nama lengkapnya adalah I Mallingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam karaeng Matoaya. Karaeng Matoaya adalah raja Tallo ke-VII yang juga menjabat sebagai mangkubumi kerajaan Gowa. Karaeng Matoaya inilah yang bersama raja Gowa ke-XIV, I Manggarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin menjadi raja yang awal menerima hidayah Islam di Sulawesi Selatan serta menjadi sebab agama Islam akhirnya diterima dan disebarkan secara resmi di seluruh bentangan kerajaan Gowa-Tallo.4

Ibu karaeng Pattingalloang bernama I Waraq karaeng ri Naung5. Ibu karaeng Pattingalloang ini melahirkan 17 anak laki-laki 3 anak perempuan. Setelah beliau meninggal lalu diberikan gelar Tuniawangang ri Kalassukanna (Orang yang dimakamkan di tempat kelahirannya).6

Menelusuri genealogi karaeng Pattingalloang adalah seperti menelusuri kembali jejak kepemimpinan raja Tallo dari masa ke masa. Silsilah karaeng Pattingaloang kita dapat mulai dari raja Tallo pertama, karaeng Loe ri Sero.

Tunitangkalopi adalah Raja Gowa ke-VI. Dia memiliki dua orang anak yang pada akhirnya akan membagi kerajaan Gowa menjadi kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Batara Gowa sebagai kakak dari Karaeng Loe ri Sero dikemudian hari menjadi Raja Gowa ke-VII menggantikan ayahnya (Tunitangkalopi) sedangkan karaeng Loe ri Sero sekembalinya dari Jawa juga lalu mendirikan kerajaan barunya dan menjadi raja Tallo pertama. Kareng Loe ri Sero menikah dengan anak Somba ri Garrisik lalu melahirkan anak Tunilabu ri Suriwa.

Karaeng Loe ri Sero mangkat lalu digantikan oleh anaknya Tunilabu ri Suriwa sebagai raja Tallo ke-II. Dari istri yang bernama I Kare Suwaya lalu melahirkan karaeng Lowe bainea dan Tunipasukrung yang kemudian hari akan menjadi Raja Tallo ke-III.1,2

Tunilabu ri Suriwa mangkat lalu digantikan oleh anaknya  Tunipasukrung sebagai raja Tallo ke-III. Nama lengkapnya adalah I Mangayoangberang karaeng Pasiq. I Mangayoangberang karaeng Pasiq lalu menikah dengan saudara raja Gowa ke-IX Tumaparrisik Kallonna. I Mangayoangberang karaeng Pasiq juga menikah dengan  I Lasilemba7 lalu melahirkan I Mappatakangkangtana Daeng Paduluk Karaeng Pattingalloang Tumamenanga ri Makkoayang (raja Tallo ke-IV).

Tunipasukrung mangkat lalu diganti oleh anaknya sebagai raja Tallo ke-IV. Nama lengkapnya adalah I Mappatakangkangtana Daeng Paduluq karaeng Pattingalloang Tumamenanga ri Makkoayang. Raja inilah yang pernah berkata bahwa kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan “rua karaeng se’re ata”. Istri dari karaeng Tumamenanga ri Makkoayang adalah putri raja Gowa ke-IX, Tumapakrisik Kallonna). Dari pernikahan inilah maka lahir dua orang raja bersaudara, I Sambo Daeng Niaseng dan Karaeng Matoaya.1,2,4

Karaeng Matoaya pada akhirnya akan menjadi raja Tallo ke-VII sekaligus sebagai mangkubumi kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Sultan Alauddin. Karaeng Matoaya juga inilah yang akan melahirkan seorang cendikia dari timur abad-17, I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar silsilah Karaeng Pattingalloang dibawah.

Referensi

  1. Cummings WP.  A Chain Of King (The Makassarese chronicle of Gowa and Talloq.  KITLV Press. Leiden. 2007. Hal. 89
  2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penelitian dan Pengkajian kebudayaan Sulawesi Selatan. Pengkajian (Transliterasi dan terjemahan Lontarak Bilang Raja Gowa dan Talloq (Naskah Makassar). 1985/1986
  3. https://www.youtube.com/watch?v=XogWrOO30zc&t=813s  (Tradisi Lisan 18. Karaeng Pattingaloang, Intelektual Abad ke-17 dari Makassar, diakses tanggal 1 Oktober 2020)
  4. Mattulada A. Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Hasanuddin University Press, Makassar. 1998. Hal 150
  5. Perdana A. Representasi Warisan Karaeng Pattingalloang di Museum. Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 57 – 72 . Dalam jurnal ini, ibu karaeng Pattingalloang disebut dengan Karaeng Lempangang. Sumber lainnya juga menyebut dengan Karaeng Manaungi
  6. Manyambeang AK, Mone AR. Lontarak Patturio Patturioloanga ri Tutalloka (Sejarah Tallo). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta. 1979 Hal 1-40
  7. Sumber lain menyebut I Pasilakba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here