Syed M. Naquib Al-Attas dan Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

0
16

Tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam untuk mengikuti paham Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme (SEPILIS). Yang menjadi dasar pertimbangan dari MUI untuk menetapkan fatwa tersebut dikarenakan berkembangnya paham SEPILIS yang meresahkan masyarakat.

Jika kita membaca sejarah, sebenarnya pemahaman SEPILIS tersebut tidak lepas dari pertalian dalam sejarah panjang peristiwa di Eropa yang dikenal dengan Rennaisance pada abad ke-15. Rennaisance adalah simbol transisi zaman dari God-Sentris kepada Antropo-Sentris yang berikutnya melahirkan filsafat humanisme.

Bukan tanpa alasan, sebab Eropa sebelum Rennaisance, meraka pernah mengalami satu zaman the dark of age (masa kegelapan), dimana pemerintahan atas nama Tuhan membelenggu kebebasan dan pengetahuan sebagaimana yang dialami oleh Nicolas Copernicus seorang ilmuan Matematika dan Astronomi yang teori holiosentris-nya dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Gereja yang menganggap pusat dari tata surya bukanlah matahari akan tetapi bumi, dan pada tahun 1616 Gereja Katolik menyatakan buku karya Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbiom Coelestium adalah buku terlarang.

Selain membelenggu pengetahuan, pemerintah atas nama agama juga memberlakukan hukuman  dengan cara yang sadis bagi mereka yang dianggap menyimpang dari agama yang terjadi pada masa inkuisisi sebagaimana catatan sejarah yang ditulis oleh kaum fundamentalis Henry C. Lea (1825–1909) dan G.G Coulton (1858–1947) memang kita dapat tercengang akan laporan kekejaman yang terjadi di masa Inkuisisi itu.

Sejarah kelam itulah yang menjadi salah satu sebab kenapa agama dianggap tidak lagi relevan dengan kehidupan dan tidak mendapat tempat dalam ilmu pengetahuan, sebagaimana yang menjadi epistemologi ilmu yang dianut oleh western worldview yang merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang sumber-sumber ilmu, mereka menganggap hanya ada dua sumber ilmu yaitu indra dan rasio.

Tidak kita mungkiri, peradaban Barat mengalami suatu kemajuan yang begitu pesat di ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini setelah berabad-abad mengalami kebodohan dan ketertinggalan akibat belenggu kekuasaan atas nama Tuhan. Kemajuan hingga mencapai puncak peradaban mereka dapatkan dengan meninggalkan nilai-nilai agama.

Namun apakah semua agama adalah musuh pengetahuan atau tidak relevan dengan pengetahuan? Apakah melepaskan nilai-nilai agama adalah cara yang paling tepat untuk mencapai kemajuan sebagaimana yang dialami oleh peradaban Barat? Inilah yang sangat disayangkan karena banyak cendekiawan muslim yang memiliki paham demikan dan silau dengan kemajuan peradaban Barat seperti Fazlur Rahman dari Pakistan, Muhammad Arkoun dari Aljazair, Thaha Husain dari Mesir, dan lain – lain. Di Indonesia pun banyak cendekiawan muslim yang memiliki pemikiran demikian setelah menimba ilmu di Barat dan belajar Islam dari orientalis. Padahal Islam jauh sebelumnya telah menjadi peradaban yang maju tanpa harus memusuhi agama bahkan agamalah dalam hal ini Al-Qur’an dan Hadist yang menginspirasi para ilmuan, seperti Al-Khawarismi, Ibnu Firnas, Az-Zahrawi, Ibnu Haytham, Ibnu Hayyan, Ibnu Khaldun dan ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya, artinya Islam maju karena mempelajari agamanya sedangkan Barat maju karena meninggalkan agamanya.

Maka salah satu solusi yang ditawarkan oleh Prof. Syed Naquib Al-Attas untuk kembali menjadi peradaban yang jaya adalah dengan gerakan intelektual dengan melepaskan umat dari hegemoni paham sekularisme dan turunannya. Upaya tersebut adalah kerja Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Menurut beliau Islamisasi ilmu pengetahuan ada empat tahap. Pertama, Islamisasi harus dimulai dari individu yang harus dibebaskan dari pemikiran magis, mitologis, animis, kultur anti Islam, dan pemikiran sekuler. Tahap ini fokusnya adalah membenahi aqidah dengan benar dan memahami fitrahnya sebagai manusia.

Kedua, proses selanjutnya adalah mengislamkan bahasa karena inilah yang mempengaruhi akal dan worldview seseorang. Dalam konteks ini beliau menyerap pengalaman dari Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam dalam mengislamkan bangsa Arab dengan mengislamkan bahasa Arab dengan konsep-konsep Qur’ani salah satunya yaitu kata ilmu, dengan memaknai ilmu dengan konsep Qur’an maka ilmu mengandung dua hal yaitu iman dan amal, orang yang berilmu maka harus beriman dan melaksanakan amal sholeh.

Ketiga, mengislamkan pandangan alam (worldview) artinya menjelaskan sesuatu (wujud) berdasarkan wahyu, eksistensi sesuatu tidak ditentukan oleh pengakuan dan proyeksi manusia. Misalnya, Islam mengakui eksistensi Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan masih ada kehidupan setelah didunia, maka kita harus menyakini hal tersebut meski manusia tidak mampu menangkap eksistensi tersebut dalam artian tidak dapat melihat keberadaannya

Kempat, setelah islamic worldview terbentuk dalam fikiran manusia maka akan secara natural lahirlah ilmu-ilmu yang terislamkan, seperti ilmu ekonomo islam, hukum islam, kedokteran islam, dam ilmu-ilmu lainnya. Maka seorang muslim juga penting mempelajari ilmu-ilmu yang meski tidak secara langsung berkaitan dengan ilmu agama seperti ekonomi, hukum, kedokteran, teknik, pertanian, perikanan dan ilmu-ilmu lainnya, yang outpunya adalah proyek islamisasi.

Dengan upaya inilah di masa mendatang diharapkan lahir kembali peradaban gemilang di seperti di Bahgdad, yang menjadikan islam sebagai pondasi utama dalam sendi kehidupan masyarakat. Dampak dari upaya ini, telah melahirkan banyak ilmuan yang sumbangsihnya sangat besar terhadap dunia keilmuwan islam. Oleh karena itu, tak perlu menjadi sekuler untuk menjadikan peradaban unggul (Wallohu a’lam bi ash-Shawab)

***********

Ahmad Qadry Ashari, S.Kel.

(Anggota Bidang Kajian dan Keilmuan Madani-CIS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here