Rekognisi Ketidakadilan Epistemik

0
11

Dalam artikelnya berjudul, “Epistemic Injustice in Mathematics Education” yang dipublikasikan oleh Springer pada Jurnal ZDM, Juni 2020, Fenner Stanley Tanswell dan Colin Jakob Rittberg dari Loughborough University, Inggris, menyatakan bahwa kajian tentang kaitan antara ketidakadilan (domain etika) dengan upaya mendapatkan ilmu (domain epistemologi), seperti matematika, menarik banyak perhatian dalam kajian filsafat kontemporer. Dalam artikelnya, Tanswell & Rittberg juga telah mengkaji pendapat pakar tentang epistemic injustice yang ada dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun, yaitu dari 2007 sampai dengan 2017. Mereka pada akhirnya berkesimpulan bahwa epistemic injustice adalah salah satu isu yang menarik perhatian cukup besar di kalangan filsuf kontemporer. Dengan demikian, epistemic injustice yang saya terjemahkan sebagai ketidakadilan epistemik sebenarnya bukan hanya dibicarakan pada pendidikan matematika, tetapi juga pada berbagai konteks secara umum.

Kata ‘epistemik’ berasal dari bahasa Yunani ‘episteme’ yang berarti pengetahuan. Dalam konteks sosial, banyak kita temukan aktivitas epistemik. Beberapa di antaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Tanswell & Rittberg, yaitu guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa, tim peneliti bekerjasama, dan teman saling menceritakan rahasia satu sama lain. Ketiga aktivitas ini disebut aktivitas epistemik. Mengapa? Karena aktivitas tersebut berkontribusi pada pengembangan pengetahuan dan penyebarluasannya. Aktivitas tersebut adalah interaksi manusia yang mengundang refleksi etis, sebut saja, misalnya guru berlaku adil terhadap siswa mereka, tim peneliti mungkin saja bias terhadap ras atau jenis kelamin tertentu, dan antarteman mungkin saja saling mengkhianati satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara etika dan epistemologi.

Lalu, kapan ketidakadilan epistemik itu terjadi?

Suatu ketidakadilan disebut ketidakadilan epistemik, apabila ketidakadilan itu berpengaruh terhadap manusia, khususnya, terhadap peran manusia sebagai pelaku dalam aktivitas epistemik. Demikian menurut Tanswell & Rittberg. Menurut mereka, salah satu contoh ketidakadilan yang berdampak pada upaya epistemologis, yaitu seorang guru xenophobia melakukan hal yang merugikan siswanya secara sistematis.

Dilansir dari hellosehat.com pada Februari 2021, sebuah artikel dalam tinjauan psikologis dan medis berjudul, “xenophobia, rasa takut yang dapat berubah menjadi tindak diskriminasi”. Dinyatakan dalam artikel ini bahwa fobia jenis ini biasanya ditunjukkan dengan ketidaksukaan yang intens terhadap orang yang dianggap berbeda dengannya dan dianggap bisa mengunggulinya, karena ia yakin bahwa dirinya lebih unggul. Ketidaksukaan itu dimanifestasikan dengan tindakan diskriminasi. Bahkan fobia jenis ini mungkin saja menyebabkan ia melakukan tindakan untuk menjauhkan orang yang dianggap bisa mengunggulinya itu dari lingkungannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru yang mengidap xenophobia bisa merugikan siswanya dengan tindakan diskriminasi secara sistematis yang mungkin ia lakukan.

Secara umum, ada tiga bentuk ketidakadilan epistemik. Tanswell & Rittberg mengemukakan hasil identifikasi Gaile Pohlhaus dari Miami University, Amerika Serikat, tentang tiga makna ketidakadilan epistemik yang dibahas dalam berbagai literatur. Menurut hemat saya, ketiga makna ini juga sekaligus menunjukkan bentuk ketidakadilan epistemik. Pertama, ketidakadilan yang diderita oleh orang yang mengetahui. Sebagai contoh: orang yang mengetahui tentang sesuatu memberikan kesaksian, tetapi kesaksiannya itu tidak diberi penghargaan yang sepantasnya. Kedua, ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang mengetahui. Sebagai contoh: orang yang mengetahui tentang sesuatu menghalangi orang lain untuk melakukan penyelidikan atau pengkajian tentang sesuatu itu. Ketiga, ketidakadilan yang disebabkan oleh institusi epistemik dalam kapasitasnya sebagai institusi epistemik. Sebagai contoh: kurikulum akademik yang disusun secara sistematis mengabaikan tradisi intelektual atau mendistorsi tradisi intelektual.

Dari perspektif agama, ketidakadilan sama saja dengan kezaliman, karena lawan dari kata adil adalah tidak adil atau zalim. Dinyatakan dengan tegas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat (HR. al-Bukhari & Muslim). Dari sabda ini, para cendekiawan muslim mengatakan bahwa kezaliman adalah sebab pelakunya mendapatkan kegelapan yang membuatnya tidak bisa menentukan jalan yang akan dituju pada hari kiamat. Kezaliman juga bisa menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya di dunia. Oleh karena itu, mari kita menjauhi ketidakadilan dengan segala bentuknya, termasuk ketidakadilan epistemik. Sebaliknya, mari kita menegakkan (hukum) keadilan dengan segala bentuknya, termasuk keadilan epistemik, walaupun langit akan runtuh, seperti kredo “Fiat Justitia Ruat Caelum” yang pernah diucapkan oleh Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM).

Allahu al-Musta’an


Syahrullah Asyari
(Dosen Sejarah dan Filsafat Matematika
Jurusan Matematika FMIPA UNM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here