Ulama dan Kemerdekaan

0
18

Tak terasa 76 tahun sudah bangsa Indonesia telah merasakan nikmat kemerdekaan. Secara tekstual tertulis dengan jelas, dalam pembukaan di alinea ketiga UUD 1945 “Atas berkat Rahmat Allah yang maha Kuasa…”, yang berarti diri bangsa telah mengakui betapa besar peran Allah SWT dalam memberikan nikmat kemerdekaan untuk bangsa.  Tentu, dalam memperjuangkan kemerdekaan, tidak sedikit pengorbanan yang terjadi. Sebab selama ratusan tahun bangsa Indonesia telah mengerahkan segenap kemampuan untuk bangkit dan merdeka melawan kezaliman atas penjajah. Tetes peluh dan darah para pejuang, serta tinta para ulama  telah menjadi saksi, bagaimana bumi pertiwi ini dibebaskan dari jeratan kolonialisme dan imperialism Barat.

Tahun ini, kita mendapati semarak 17-an tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya  sebab kita terhalang oleh pandemi Covid-19. Mungkin akan tetap ada yang merayakan, namun tidak sebagaimana tahun sebelumnya. Yang tetap sama adalah pengibaran bendera merah putih di depan rumah masing – masing warga.

Namun sekalipun upacara atau seremoni 17-an itu tidak semeriah tahun sebelumnya, seharusnya 17 Agustus menjadi momentum kesadaran bagi bangsa ini untuk terus bekerja keras, melanjutkan kerja dari para pendahulu yang telah memeras peluh dan darah untuk membuat generasi setelahnya merasakan kebebasan dan kedaulatan atas hak asasi mereka. Selain itu, perlu diungkapkan kembali peran ulama, kiyai and santri terhadap perjuangan kemerdekaan.

Sebab sejarah kemerdekaan tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang benar terhadap peran ulama, kiyai dan santri. Kita perlu memahami betul, bagaimana perjuangan para pendahulu disertai degup takbir, yang mampu menggetarkan musuh melawan bedil, bom dan senapan dengan hanya bermodalkan bambu runcing. Begitu pula, para Wali Songo yang datang ke Indonesia menyebarkan Islam, mengubah masyarakat yang hampir 100% animisme menjadi hampir 100 % islam dengan tangan kosong. Mereka hanya bermodalkan tawakkal, dan kerja keras mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah SWT.

Inilah pentingnya memahami sejarah yang lurus. Seperti kelahiran Pancasila. Bahwa pancasila lahir bukanlah produk sekuler murni. Justru kelahiran Pancasila tidak lepas dari ijtihad dakwah and politik ulama dalam menghadapi dinamika kebangsaan di tengah tekanan ideologi asing dan persimpangan nasib bangsa. Pancasila yang ditetapkan dalam Jakarta Charter 22 Juni 1945adalah hasil usaha para Negarawan Muslim beradu argumen dan hujjah di depan para nasionalis. Mungkin sebagian nasionalis masih menghendaki pemisahan agama dari kehidupan berbangsa dan bernegara (Fashlu ad-Diin an ad-Daulah wa al-Hayah), namun itu tidak sepenuhnya terjadi.  Sebab, klausa Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Para Pemeluk-Pemeluknya, adalah menjiwai Pancasila 18 Agustus 1945 yang kini sah sebagai dasar negara.

Itu berarti, di balik teks tersebut, terdapat refleksi jiwa para ulama yang sebelumnya telah menyadari betapa pengorbanan umat islam untuk membebaskan diri dari belitan hegemoni misi GoldGlory dan yang lebih berbahaya Gospel para kolonialis. Mengorbankan jiwa. Meninggalkan anak dan istri. Bahkan bahagia bila rumah mereka dibakar, dan harta mereka habis untuk perjuangan, untuk kemerdekaan. Perdana menteri pertama, Dr. Mohammad Natsir menulis: “Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran…”.

Lebih dari itu, para pahlawan pendahulu bangsa adalah para ulama dan santri. Prof. Ahmad Mansur Surya Negara, menyatakan bahwa mayoritas dari pejuang pendidikan dan konfrontasi Bangsa Indonesia adalah kalangan ulama dan santri. Hal itu dibenarkan oleh Thomas S. Raffles, dalam bukunya The History of Java, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peranan ulama  dan santri yang berjumlah sepersembilan belas dari populasi penduduk di Jawa pada waktu itu.[1]

Dalam Bukunya “Mujahid Dakwah”, Dr. M. Isha Anshari mengisahkan dirinya ketika berada dalam penjara era Nippon bersebelahan dengan Penjara KH. Zainal Mustofa, Pejuang Tasikmalaya. “Mengapa Kiai melawan Jepang…?”, tanya Dr. Isha. Suatu ungkapan yang sederhana, namun lugas dan tegas dari bibir KH. Zainal Mustafa, “Bukankah Orang Jepang itu adalah Majusi ?”[2]. Jawaban yang menjadi refleksi, bahwa motivasi yang mendorong KH. Zainal Mustafa melakukan perlawanannya  adalah karena orang Jepang adalah orang Kafir yang tidak berhak menjajah tanah-air muslim.

KH. Muhammad Isa Anshari

Umat dan bangsa ini harus sadar bahwa bangsa ini tidak akan merdeka dari penjajahan kesyirikan dan kejahiliahan sebelum ada segolongan dari penduduknya yang beramar makruf dan bernahi munkar dan berani untuk berjuang meraih kesyahidan. – Sekali lagi -, para istri gembira kehilangan suami dan anak-anaknya, terbakar rumahnya. Bahkan hilang pekerjaannya. Demi ketinggian aqidah tauhid. Al-Mujaahidu, man qatala litakuuna kalimatullahi hiya al-‘ulya. Dan sebelum bangsa ini merdeka, ia telah dimerdekakan oleh para pejuang dari kelemahan dan kesyirikan.

KH. Zainal Mustofa

Sejarah tentang bangsa, perlu dibersihkan dan diajarkan secara benar sebab History is Written By The Victor. Kita harus berani menulis sejarah umat yang benar sebab kini banyak buku yang bermunculan mengungkap bagaimana peran Ulama dalam kemerdekaan. 22 Juni 1527 Syarif Hidayatullah bersama Fatahillah berhasil mengorganisasikan serangan balasan secara militer kepada Portugis atas Sunda Kelapa dan melanjutkannya dalam rangka pembinaan territorial Jayakarta sebagai landasan awal mewujudkan Fathan Mubina[3]. Pangeran Diponegoro mampu menggerakkan dukungan 200.000 rakyat jawa bersamanya melawan penjajah Belanda. Sementara saat itu ia telah terusir dari keraton Yogya. Yang dengan terang-terangan di depan Jenderal De Cock ingin mendirikan kerajaan di tanah Jawa. Tuanku Imam Bonjol yang ingin membentuk masyarakat minangkabau dengan adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Perhatikan bagaimana Sultan Hasanuddin yang pernah mengirim surat kepada Jenderal Speelman : Lautan luas ini adalah anugerah Ilahi bagi manusia, maka janganlah hendak tuan kuasai sendiri. Begitu pula Pahlawan Raja Aji yang tewas di pantai Malaka sedang tangan kirinya kitab Dalailul Khairat, dan badik Bugis di tangan kanannya ![4]. Begitu pula Sentot Alibasah  Prawirodirdjo yang harus dibuang ke Bangkahulu setelah tertangkap penjajah[5].

Oleh karena itulah, pantaslah E.F.E Douwwes Dekker Setiabudhi, pimpinan Indische Partij (1912 M) menyatakan, jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan (wallohu a’lam bi as-shawab).

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)


[1] Lihat Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, Bandung: Mizan, 1995, hlm. 130-131

[2] Lihat buku M. Isa Anshari, Mujahid Dakwah, Cet.ke-11, Bandung : CV Diponegoro, 1997

[3] Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan…, hlm. 163

[4] Muhammad Natsir, dkk, Debat Dasar Negara; Islam dan Pancasila konstituante 1957, Depok: Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 103

[5] Ahmad Mansur Surya Negara, Api Sejarah, Bandung: Salamadani, 2013, hlm. 201

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here