Mohammad Natsir, Ulama Pejuang NKRI

0
13

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga

Suka dan duka kita hadapi1

Mohammad Natsir dan Latar Belakang Pendidikannya

Mohammad Natsir, adalah seorang tokoh yang sangat sederhana. Lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908. Natsir merupakan anak dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado serta Khadijah. Kakeknya adalah seorang ulama. Ia nantinya akan menjadi pemangku kebiasaan atau adat untuk kaumnya yang berasal Maninjau, Tanjung Raya, Agam dengan gelar Datuk Sinaro nan Panjang.2

Natsir mulai mengenyam pendidikan selama dua tahun di Sekolah Rakyat Maninjau, kemudian ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Padang. Selama beberapa bulan bersekolah di sana ia kemudian pindah ke Solok dan dititipkan di rumah saudagar yang bernama Haji Musa. Tak hanya belajar di HIS di Solok pada siang hari, ia juga belajar pengetahuan agama Islam di Madrasah Diniyah saat malam hari. Ia kemudian pindah setelah tiga tahun ke HIS di Padang bersama-sama kakaknya. Kemudian tahun 1923, ia meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) lalu kemudian ia pun bergabung dengan perhimpunan-perhimpunan pemuda seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij serta Jong Islamieten Bond.3

Usai menamatkan MULO, pada tahun 1927 Natsir pergi ke Bandung dan melanjutkan pendidikan formalnya di AMS (Algemene Middlebare School). Di sinilah Natsir mulai berkenalan dengan pergaulan yang lebih meluas. Baik pergaulan fisik dengan multi etnis maupun secara intelektual dengan beragam pemikiran yang berkembang di waktu itu. Di AMS ini pula Natsir mendapat nilai tertinggi dalam bahasa latin: 10. Dengan bekal kemampuannya berbahasa asing, seperti Arab, Belanda, Jerman, Inggris, Latin dan Perancis, Natsir bisa mengakses ilmu pengetahuan dengan basis bahasa-bahasa tersebut. Karena itu, di usianya yang masih belia, 21 tahun, Natsir sudah fasih menjelaskan peradaban dunia yang berbasis pada Islam, Romawi, Yunani dan Barat.4 

Mohammad Natsir; Pejuang NKRI

Karier politik Natsir pasca kemerdekaan diawali sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang berlangsung dari tahun 1945-1946. Kemudian menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia pada Kabinet Syahrir ke-1 dan Kabinet Hatta-1. Dari tahun 1949 sampai 1958 ia diangkat menjadi Ketua Masyumi, hingga partai ini dibubarkan. Puncak karier Natsir dalam bidang politik terjadi ketika Natsir terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan dari tahun 1956-1957, ia menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia.5 Tampilnya Natsir di puncak pemerintahan, tidak terlepas dari langkah strategisnya dalam mengemukakan mosi integral pada sidang parlemen republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 3 April 1950.6 Mohammad Hatta yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu mendorong keseluruhan pihak untuk berjuang dengan tertib dan sangat merasa terbantu dengan adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada mulanya berupa serikat.7

Bagaimana kronologisnya? Waktu itu ada 16 negara kecuali R.I. diciptakan Belanda yang tergabung dalam Negara Indonesia Serikat yang sudah merdeka dan berdaulat. Tinta pengakuan kemerdekaan belum kering sudah ada sebuah Kabupaten Malang, pada tanggal 30 Januari 1950, menyatakan keluar dari Negara Jawa Timur, ciptaan Van Mook dan menggabungkan diri dengan Republik Jogya. Tindakan ini segera disusul oleh Kabupaten Sukabumi, Kotapraja Jakarta Raya, Sulawesi Selatan. Kalau hal yang demikian itu dibiarkan berjalan terus, akan menjadi kosong negara Indonesia Serikat. Mohammad Natsir tidak mau melihat Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden dari satu federasi yang kosong. Dalam sebuah potongan pidato mosi integralnya, beliau menegaskan “…Semuanya itu diliputi oleh suasana nasional dengan arti yang tinggi serta terlepas dari soal atau paham unitarisme, federalisme dan propinsionalisme.” 8

Natsir mengajukan mosi agar yang sedang berjalan itu disalurkan menurut hukum dan dihindarkan perpecahan. Akhirnya diadakan perundingan antara Republik Indonesia yang berpusat di Jogja dan Negara Indonesia Serikat yang bertindak juga atas nama Negara Indonesia Timur dan Negara Sumatera Timur. Maka hasilnya kembalinya ke Negara Kesatuan dengan UUDS 1950, yang dalam DPR memilih Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. Maka Mohammad Natsir mendapat kehormatan untuk mengantarkan Negara Kesatuan Indonesia yang pulih kembali sebagai Perdana Menteri.9

Mohammad Natsir paham betul, bahwa bangsa ini memang menjadi rebutan ideologi raksasa pasca kemerdekaannya. Karena itu, dalam debat konstituante 1955 ia mengutarakan bahwa dasar negara yang harus dianut bangsa ini adalah dasar negara yang jiwanya telah berurat-akar pada diri rakyat Indonesia. Dasar itu tidak lain adalah Islam.

Apa yang terjadi belakangan ini, ketika usaha-usaha untuk membenturkan Islam dan Pancasila, atau menghilangkan unsur agama (apa pun) dalam pancasila adalah kekeliruan. KH. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Pancasila memang bukanlah agama, karena ia merupakan kumpulan value (nilai) dan vision (visi) dalam menyelenggarakan negara. Meski demikian, bukan berarti Pancasila itu anti agama, atau agama harus disingkirkan dari rahim Pancasila. Karena keberadaan agama itu diakui dan dilindungi, serta dijamin eksistensinya oleh Pancasila. Masing-masing agama juga berhak hidup, dan pemeluknya pun bebas menjalankan syariat agamanya. Tentu tidak terkecuali dengan Islam dan umatnya. Sebab, dengan value dan visi ketuhanannya, justru arah negara Indonesia kelak bukanlah negara sekuler, juga bukan negara Sosialis-Komunis, maupun Kapitalis-Liberal. Tetapi, sebuah negara yang dibangun berdasarkan nilai dan visi Ketuhanan yang Maha Esa. Apalagi jika suara perjuangan Islam dianggap sebagai anti Pancasila. Dan Pancasila harus dinetralkan dari agama apa pun. Hal seperti jauh hari telah dikritik oleh Natsir. Ia menulis,

Yang aneh ialah, saudara ketua, bilamana prinsip demokrasi itu dipergunakan untuk menghadapi Islam sebagai suatu faham yang berada dalam negara, maka orang menyimpang daripadanya lalu berkata: “Jangan dipakai Islam sebagai dasar negara sebab Islam itu adalah satu paham hidup yang didukung oleh hanya satu golongan di Indonesia ini sedangkan di Indonesia ada pula golongan lain-lain yang bukan islam”…. Penjelasan itu didasarkan, bukan kepada penilaian tentang merites (hasanatnya), isi dan sifat dari faham hidup Islam itu sendiri tidak pula didasarkan kepada soal berakar atau tidaknya faham mayority di Indonesia ini… alasan bagi penolakan yang demikian itu tidak dapat dinamakan sesuai dengan prinsip demokrasi.” 10

Karena itu menurut Natsir, agama dan negara adalah dua hal yang tidak dipisahkan. Bahkan bersatunya agama dan negara, menurut Natsir adalah buah dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Ia memberi contoh, sejak pertama kali Islam datang ke nusantara, Islam adalah sumber kekuatan politik di bumi pertiwi ini. Dan ini dibuktikan dengan kenyataan sejarah dari kerajaan-kerajaan Islam. Adapun Islam sebagai dasar negara, karena Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Jika Islam minoritas, maka tidak ada alasan dijadikan dasar negara.11 Argumen yang sangat cerdas dan bernas.

Sebagai seorang Pejuang NKRI, Muhammad Natsir meninggalkan nama yang harum. Hingga ketika ia meninggal dunia, ucapan belasungkawa datang tidak hanya dari simpatisannya di dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda, yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia.12 Mohammad Natsir meninggal dunia di Jakarta 6 Februari 1993, dengan meninggalkan enam anak, hasil pernikahannya dengan Nur Nahar. Jenazah beliau dimakamkan di TPU Karet, Tanah Abang. Semoga negeri ini, tidak kehabisan Mohammad Natsir. Setidaknya, mereka yang melanjutkan ruh perjuangan beliau untuk membela Islam dan NKRI. (Wallohu a’lam bi as-Shawab).

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)


1. Penggalan puisi yang ditulis oleh Prof. Hamka secara khusus untuk Pak Natsir pada tanggal 13 November  1957 yang berjudul Kepada “Saudaraku M. Natsir”, setelah mendengar uraian pidato Pak Natsir di depan Sidang Konstituante)

2. Lihat: http/2014/01/biografi-mohammad-natsir-pahlawan.html (Diakses 25 Agustus 2015, Pukul 17.25 WIB)

3. Lihat http://www.biografiku.com…

 4. Herry Mohammad, dkk.,  Tokoh-Tokoh Islam Tokoh-Tokoh Islam yang Bepengaruh Abad 20, Cet. Ke-2 Jakarta; GIP, 2008, hlm. 48

5.Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2004, hlm. 77, 2004, hlm. 77

6. Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh…  

7.Lihat http://www.biografiku.com…

8.M. Natsir, Capita Selecta Jilid 2, Jakarta: PT. Abadi bekerjasama dengan Panitia Peringatan Refleksi Seabad M. Natsir dan Perjuangannya dan yayasan Capita Selecta, 2008, hlm. 8

9.Moh. Roem, Islam dan Modernisasi, Mohammad Natsir dan Perjuangannya, Jejak Islam (No. I, November), tahun 2014, hlm. 21

10.M. Natsir, Capita Selecta….

11.Herry Mohammad, dkk.,  Tokoh-Tokoh Islam…, hlm.51

12.Lihat https://www.pahlawanindonesia.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here