Ngaji Buku Madani: Bahas Sekularisasi Bahasa dan Kebudayaan Barat

0
7

MAKASSAR – Madani Institute (Center For Islamic Studies) mengadakan NgajiBuku: Risalah untuk Kaum Muslimin yang dilaksanakan via daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting pada Jumat (3/9/2021).

NgajiBuku merupakan program rutin dari Madani Instute yang mulai terselenggara pada 12 Maret 2021 silam dan sampai saat ini telah mencapai pertemuan yang ke-15. Kegiatan NgajiBuku ini diisi setiap pekannya oleh Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies, Ustaz Syamsuar Hamka, S,Pd., M.Pd.I.

Ustaz Syamsuar diawal pembahasannya menyampaikan mengenai pokok penting dari bahasan Perenggan 36 dari buku Risalah untuk Kaum Muslimin. Sekularisasi bahasa adalah bahasan yang sangat penting untuk diketahui mengingat bahasa yang ada saat ini dipengaruhi oleh kebudayaan Barat dan terus mengalami perubahan.

“Bahasa itu bersifat evolutif. Terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Perkembangan bahasa yang saya maksud bukan dalam artian kamus-kamusnya yang terus mengalami pertambahan jilid. Akan tetapi, yang saya maksud adalah perubahan yang terjadi pada konsep-konsep kuncinya,” ujarnya saat mendaras bagian awal Perenggan 36.

Pada paparan lanjutannya, Ustaz Syamsuar Hamka mengemukakan permasalahan bahasa yang tidak boleh disepelekan.

“Kalau kita melihat saat ini, peradaban Barat terus berkembang dengan bahasa-bahasa yang baru. Contohnya, kata Googling yang saat ini menjadi pengganti untuk kata ‘pencarian’. Dan seterusnya,”tambahnya.

Revolusi sains di Barat juga diiringi dengan revolusi bahasa. Disinilah pentingnya memahami bahasa. Seseorang bisa dilihat kecerdasannya berdasarkan diksi atau pilihan kata yang digunakan dengan tepat. Bahasa merupakan tanda kemajuan suatu bangsa yang mampu mempengaruhi peradaban lainnya.

“Lihat saja contohnya pada bahasa-bahasa yang diterapkan pada teknologi modern saat ini. Kebanyakan berasal dari penamaan Barat. Di sisi lain, kita menemukan penutur Bugis-Makassar (misalnya) yang semakin berkurang. Ini karena dari masyarakat Bugis sendiri tidak menelurkan produk budaya yang mumpuni sehingga tidak mampu memperluas jangkauan bahasanya. Berbeda dengan Barat yang memiliki kuasa terhadap penemuan-penemuan modern sehingga mau tidak mau bahasanya mempengaruhi peradaban lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, beliau menuturkan tentang perlunya kehati-hatian seorang muslim dalam penggunaan sebuah istilah.

“Banyak kaum muslimin saat ini yang tidak sadar telah melakukan sekularisasi bahasa sehingga konsep kuncinya bisa mengalami distorsi. Kita pada dasarnya tidaklah menolak perubahan secara mutlak. Karena perubahan itu pasti adanya. Namun, perubahan itu tidak pada semua hal. Ada konsep kunci yang tidak akan berubah. Dalam Islam, semua sudah konkrit. Sistemnya sudah ada dan bersifat final. Konsepnya tentang agama, tentang alam gaib, tentang shalat dan peribadatan, tentang relasi keluarga, tentang hakikat perempuan dan lainnya harus kita hati-hati meletakkannya. Karena itu semua sudah selesai dalam Islam,” pungkasnya.

Sekitar 10 menit sebelum acara berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta mempertanyakan beberapa hal yang masih dianggap kurang jelas. Mengingat buku Risalah untuk Kaum Muslimin memang tertulis dalam bahasa Melayu sehingga meskipun mirip dengan bahasa Indonesia namun ada saja kata-kata yang perlu diuraikan.

Laporan: Shalihin

Editor: Muh Akbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here