Analisis Pemikiran Ali Syari’ati dalam Buku Ideologi Kaum Intelektual: Peradaban dan Kebudayaan

0
9

Judul : Ideologi Kaum Intelektual

Penerbit : Free Islamic Literatures dan Mizan

Penulis   : Dr. Ali Syari’ati

Cetakan V : Dzulhijjah 1413/Mei 1993

Buku Ideologi Kaum Intelektual terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama adalah pengantar dari Jalaluddin Rakhmat. Di bagian ini, Jalaluddin Rakhmat memulai pengantarnya dengan sebuah narasi. Tragedi yang terjadi 10 Muharram 61 Hijriyah. Ritual peringatan wafatnya Cucu Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa yang dikenal dalam doktrin syiah sebagai Peristiwa Karbala. Jalaluddin Rakhmat dengan piawai memainkan emosi pembaca lewat peristiwa ini kemudian dibarengi dengan kemunculan dan kepahlawanan Ali Syari’ati sebagai penggerak Revolusi Islam di Iran, tahun 1978. Sebuah revolusi yang menumbangkan rezim Shah Pahlevi kepada kepemimpinan seorang Ayatollah. Revolusi yang berdarah. Revolusi yang mendengungkan “Mihrab Syi’ah adalah Mihrab Darah!”. “Dalam hidup syiah, tiap hari adalah Asyura; setiap tempat menjadi Karbala”.

Secara terpisah, di bagian kedua bercerita tentang peradaban dan kebudayaan. Di bagian ini Syari’ati menguraikan perbedaan antara peradaban dan kebudayaan. Dimana menurutnya, – mengutip pendapat – pendapat Aime Cessaire – bahwa peradaban itu sifatnya universal, sedangkan kebudayaan itu adalah identitas kolektif yang bersifat ‘lokal’.

Para pemikir besar menjadikan jalinan hubungan antara peradaban dan kebudayaan dengan konsep yang berbeda antara satu dengan yang lain. Pada bagian ini, Syaria’ti menunjukkan bahwa peradaban berdiri sendiri, tidak terhubung dengan kebudayaan.

Secara umum peradaban dimaknai sebagai akumulasi dari hasil dan proses material dan spiritual suatu masyarakat. Dan kebudayaan adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia. Dalam definisi ini, Syari’ati menunjukkan bahwa kebudayaan adalah hasil dari proses kemanusiaan dalam lingkup sastra, agama dan sosial. Sedangkan peradaban lebih kepada unsur – unsur teknik dan produk ilmu – ilmu eksak.

Salah satu fenomena peradaban jika kita ambil contoh, misalnya adalah roda. Semua roda sama. Setiap peradaban menggunakan roda yang sama. Karena itu, roda bukanlah milik peradaban tertentu. Sehingga menurutnya, peradaban yang ada adalah peradaban manusia. Demikian halnya handphone. Handphone tidak bisa diklaim sebagai hasil peradaban Barat (semata), karena handphone adalah produk evolutif dari produk sebelumnya yang ditemukan oleh peradaban sebelumnya.

Sementara di sisi yang lain, kebudayaan bekerja sebagai pemberi identitas. Dan kebudayaan-lah yang mendorong transisi atau perubahan sosial. Sebab ia adalah manifestasi dari kesadaran kolektif suatu masyarakat. Ia adalah pembeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

Dalam fenomena inilah kita bisa menemukan seseorang yang menggunakan produk peradaban seperti handphone tetapi tidak berlaku untuk kebudayaan. Kebudayaan tidak bisa dikonsumsi secara universal, sebab ia adalah manifestasi dari kesadaran kolektif suatu kelompok etnis atau bangsa tertentu yang datang kepada kita sejak masa lampau.

Hasil kebudayaan juga tidak ditemukan. Sementara hasil peradaban itu ditemukan. Alkohol ditemukan oleh Rhazez, sementara kita tidak mengetahui siapa yang menemukan puisi. Mesin jahit, bola lampu, silet dan lain – lain ditemukan, sementara kita tidak tahu siapa yang pertama kali melawak, siapa yang pertama kali berpikir secara filosofis. Sebab kebudayaan lahir bersama dengan lahirnya manusia dan masyarakat. Kebudayaan ada sejak lahirnya manusia dan masyarakat.

Karena itulah menurut Ali Syariati, kebudayaan adalah modal utama bagi perubahan sosial. Bahkan ia adalah aset paling berharga bagi manusia individu dan masyarakat. Sebab teknologi yang merupakan produk peradaban seperti motor, mobil, mesin jahit, serta handphone bila direbut dari suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan tetap hidup dalam tujuan dan falsalah hidupnya. Berbeda dengan kebudayaan. Kebudayaan jika dirampas, maka inilah yang akan menjadi awal kehancuran suatu kelompok masyarakat. Sebab ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Secara sederhana, ide tentang rancangan arsitek bangunan jika dicuri dari seorang arsitek lewat laptopnya, itu tidaklah masalah. Sebab ide itu masih ada dalam kepalanya. Tetapi jika yang diambil adalah kebudayaan, maka ia akan menjadi orang tuna-budaya. Bermetamorfosa dan hancur. Sebab ia kehilangan identitas dan jatidirinya.

Lalu dimana letak peradaban dan kebudayaan. Fenomena keduanya bisa saja berada pada satu objek. Misalnya rancangan arsitek sebuah masjid adalah produk peradaban, sedangkan cita rasa keindahannya adalah kebudayaan.

Menurut saya sendiri, jika kita bandingkan dengan pendapat Prof. Al-Attas, kata peradaban terambil dari kata adab yang padanan kata dalam bahasa arab-nya adalah tamaddun. Tamaddun dari kata maddana-yumaddinu-madinah yang artinya kota. Sehingga menurut penulis, peradaban sebenarnya juga bisa merupakan identitas. Dan bagi kalangan filsuf, peradaban adalah identitas. Karena itu kita mengenal peradaban Islam, peradaban Cina, peradaban Barat, dan lain – lain. Dan menurut penulis sendiri, peradaban yang hakiki adalah peradaban yang menegakkan adab. Karena itu sebenarnya peradaban barat, bukanlah sebuah peradaban hakiki. Sebab ia tidak punya visi peradaban sama sekali. Filsuf sepeti Fritjof Chapra mengkritik modernisme barat dengan berbagai ekses negatif dari kemajuan peradaban itu. Ilmu demi ilmu menemukan kemajuan. Namun di sisi lain, lingkungan semakin rusak, manusia teralienasi (terasingkan) dari dunia dan kebudayaannya. Serta manusia semakin menurun harkat, derajat dan martabatnya sebagai manusia. Pameran kontes kecantikan adalah contoh kecil industrialisasi dan komersialisasi tubuh perempuan. Eksploitasi atas nama estetika dan modernitas.


Lalu siapa yang membangun masyarakat ? Kata Syari’ati, para Arsitek mengatakan mereka yang membangun peradaban. Sebab Peradaban Mesir kini dikenal karena piramidanya. Di sisi yang lain, para saintis mengatakan bahwa yang membangun masyarakat adalah sains. Para sastrawan mengatakan sastra. Para agamawan mengatakan agama. Para dokter mengatakan ilmu kesehatan.

Bagi Syaria’ti, yang membangun masyarakat adalah ideologi. Sebab ideologi adalah kesadaran tentang identitas kolektif masyarakat atau kelompoknya. Siapa yang mencetuskan masa pencerahan di barat, di abad pertengahan ?. Siapa yang mencetuskan perubahan di China melalui revolusi Mao Tse Dong ?. Siapa yang mencetuskan perubahan – perubahan lain di masyarakat yang lain ?. Jawabannya adalah orang yang memiliki kesadaran atas identitas kelompoknya.

Karena itulah agama di barat, tidak lagi menjadi identitas sentral dalam peradaban mereka. Sebab identitas barat yang memuji dan memuja akal meletakkan agama sebagai tidak lebih dari pandangan – pandangan subjektif. Para intelektual Barat-lah yang memiliki kesadaran identitas yang melihat pertentangan antara masyarakat bawah dan masyarakat atas yang kemudian melahirkan revolusi.

Tulisan – tulisan dalam bab ini ingin mengarahkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa perubahan itu dibuat oleh mereka yang memiliki ideologi dan bekerja keras mewujudkan idelogi itu dalam membangun tatanan masyarakat baru. Tanpa kata – kata ‘revolusi’ dalam bab ini, Syaria’ti mengisyaratkan secara halus bahwa yang bisa merubah masyarakat adalah revolusi yang dilakukan oleh para ideolog.

Ia kemudian memaparkan masyarakat islami yang disebut dengan masyarakat madinah. Dimana masyarakat madinah dibuat oleh seorang ideolog atau aktivis yang bernama Muhammad SAW. Nabi Muhammad bukan saintis, bukan filsuf yang duduk dalam singgasananya dan memproduksi ide  – ide dan tulisan serta pemikiran. Melainkan ia adalah orang yang turun langsung merasakan ‘bau keringat’ masyarakatnya yang terpinggirkan untuk mewujudkan tauhid dan keadilan. Muhammad SAW ikut berperang dan merasakan bagaimana penderitaan ummatnya.

Secara sederhana, Syaria’ti ingin menunjukkan kepada kita bahwa apa yang mendorong Nabi Muhammad SAW untuk melakukan sebuah tajdid (pembaharuan) wajah masyarakat adalah karena pertentangan kelas.

Pemikiran ini jelas bercorak Marxisme – Sosialisme. Dimana sebuah masyarakat baru diwujudkan oleh karena adanya kesenjangan antara kalangan proletar dan borjuis. Mengapa Syaria’ti melihat ini ?. Saya bisa menyimpulkan setidaknya secara geografis, Iran adalah negara yang paling dekat dengan negara terbesar yang menganut lahirnya ideologi ini, Rusia. Apalagi sejak awal, Syaria’ti telah besentuhan dengan karya – karya Marxis. Kemudian diperkuat dengan kajiannya dalam studi Pascasarjananya di Perancis melalui teori – teori sosial deterministik. Melalui bagian ini, Syaria’ti ingin menyampaikan bahwa, hanya revolusi-lah yang bisa mengubah arah dan wajah masyarakat.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here