Sejarah Pendidikan Islam: Masa Klasik

0
10

Pendidikan di negeri – negeri Arab pra-Islam, dilaksanakan melalui peniruan dan cerita. Anak-anak kecil tumbuh dan berkembang dengan meniru dan mendengarkan hikayat orang-orang dewasa. Suatu kabilah dan keluarga mengajarkan nilai-nilai yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai – nilai kemasyarakatan yang berlaku dalam kabilahnya. Kaum Arab mengekspresikan dan membanggakan nilai-nilai kemasyarakatan dalam kabilahnya melalui syair-syair. Jadi kondisi pendidikan masyarakat Arab pada zaman itu lebih senang bercerita hikayat, mengajarkan nilai-nilai leluhur dan menghafal syair-syair dikarenakan belum bisa baca tulis.

Ahmad Syalabi, dangan merujuk pada karya Al-Baladuri, futuh al-Baldan menjelaskan bahwa Sufyan bin Umayyah dan Abu Qais bin ‘abd Manaf adalah orang asli Arab pertama yang belajar membaca dan menulis. Guru mereka adalah seorang Nasrani bernama Bishr ‘Adb al-Malik yang pernah belajar ilmu ini di Hira. Dan orang Arab pertama yang menjadi guru adalah Wadi al-Qura yang hidup disana dan mulai mengajarkan membaca dan menulis kepada penduduk Arab. Hal ini dapat dibuktikan ketika Islam lahir, masyarakat Mekah yang bisa membaca dan menulis berkisar sekitar 17 orang, sedangkan masyarakat Madinah sekitar 11 orang.

Dalam sejarah pendidikan Islam masa klasik, dikenal institusi pendidikan yaitu Kuttab. Bahkan Kuttab sudah ada sejak sebelum datangnya Islam. Kuttab adalah institusi yang menjadi tempat diajarkannya keterampilan membaca dan menulis. Meski institusi ini belum menjadi lembaga sentral, sebab kondisi masyarakat yang belum mengenal pentingnya membaca dan menulis.

Dalam sejarah ini dikenal ada dua bentuk kuttab yaitu:

  1. Kuttab yang berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada tulis dan baca. Pada masa ini, Al-Qur’an belum dijadikan rujukan sebagai mata pelajaran dikarenakan dalam rangka menjaga kesucian Al-Qur’an dan tidak sampai terkesan dipermainkan para siswa dengan menulis dan menghapusnya, selain itu pada masa itu pengikut Nabi yang bisa baca tulis masih sangat terbatas.
  2. Kuttab tempat pendidikan yang mengajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar keagamaan. Pada era awal ini, pelaksanaan pendidikan lebih terkonsentrasi pada pendidikan keimanan dan budi pekerti dan belum pada materi tulis baca.

Dalam operasionalnya, baik kuttab jenis pertama maupun kedua dilakukan dengan sistem halaqah, namun ada juga guru yang menggunakan metode dengan membacakan sebuah kitab dengan suara keras, kemudian diikuti oleh seluruh siswanya. Proses ini dilakukan berulang-ulang sampai siswa benar-benar menguasainya. Di samping itu ada juga guru yang menyuruh siswanya untuk menyalin pelajaran dari kitab tertentu. Lama belajar di kedua bentuk kuttab tersebut tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi ditentukan oleh kemampuan siswa dalam menyelesaikan pelajaran dalam suatu kitab. Mata pelajaran pada tingkat ini adalah membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an serta pengetahuan akhlak. Phill K. Hitti mengatakan bahwa, kurikulum pendidikan kuttab ini berorientasi kepada Al-Qur’an sebagai text book. Hal ini mencakup pengajaran Membaca, Menulis, Kaligrafi, Gramatikal Bahasa Arab, Sejarah Nabi, dan Hadits.

Dalam perkembangannya, di kalangan umat Islam tumbuh semangat untuk menuntut ilmu dan memotivasi mereka mengantarkan anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan di masjid sebagai lembaga pendidikan menengah setelah kuttab. Kurikulum pendidikan di masjid biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-pejabat pemerintah, seperti kadi, khatib, dan imam masjid.

Pada masa klasik (Arab Pra Islam hingga masa Awal Islam), Nabi melakukan dua metode pendidikan utama sesuai tahapan dakwah Islam yaitu:

  1. Tahapan Secara Sembunyi dan Perorangan. Pada awal turunnya wahyu yang pertama, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial politik yang belum stabil dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik Khadijah (isterinya) untuk beriman kepada Allah dan menerima petunjuk dari Allah. Kemudian diikuti oleh Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harits (anak angkatnya), Abu Bakar (Sahabat Karibnya) dan keluarga dekat dari suku Quraisy yaitu Utsman bin Affan, Zubair bin Awam, Sa’ad bin abi Waqas, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah, Arqam bin Abi Arqam dan beberapa orang lainnya. Mereka semua disebut Assabiquna al-Awwalun. Pusat pendidikan Islam yang pertama adalah rumah Arqam bin Abi Arqam. Dalam tahapan ini agama Islam belum menyebar luas dan masih berada di kalangan keluarga dan sahabat terdekat.
  2. Tahapan Secara Terang-Terangan. Setelah beberapa lama, sekitar tiga tahun bahwa Islam disampaikan secara sembunyi, turunlah perintah Allah SWT agar Nabi melaksanakan dakwah secara terang-terangan. Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut, banyak kaum Quraisy yang akan masuk Islam. Disamping itu, keberadaan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai pusat lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh Quraisy.

Adapun pada fase Madinah, yang menjadi pusat pendidikan Nabi adalah Masjid. Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai institusi pendidikan. Melalui pendidikan masjid ini, Rasulullah memberikan pengajaran dan pendidikan Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diterima di Madinah sebanyak 22 surat, sepertiga dari isi Al Qur’an.

Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al-Qur’an, maupun membacakan dan menjelaskan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.

Selain itu, dikenal pula Suffah. Pada masa Rasulullah, suffah adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk aktivitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Disini para thullab diajarkan membaca dan menghafal alQur’an secara benar dan dijadikan pula Islam dibawah bimbingan langsung dari Rasulullah SAW.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here