Agama dan Negara untuk Kekuatan Bangsa

0
13

Ada banyak negara yang gagal menciptakan relasi harmoni antara agama dan negara. Tapi untungnya, bangsa Indonesia tidak menghadapi masalah yang sama. Sebab jalan panjang menuju terbentuknya asas – asas pembentukan negara telah diberikan oleh Founding Fathers secara fairplay demi wujudnya Indonesia sebagai satu entitas negara. Meski ada kelapangan dada dari kalangan intelektual, ulama dan tokoh islam untuk menerima penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta namun itu tidak mengurangi perasaan kepemilikan dan spirit untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap konstestasi ekonomi, sosial maupun politik dalam pembangunan bangsa.

Hingga akhirnya kita bisa merasakan betapa ‘nikmatnya’ hidup di negara Indonesia ini. Walaupun dalam lintasan sejarah, terdapat langkah – langkah dari pemerintah yang berupaya menghapus peran agama, namun tidak dapat dipungkiri peran agama tetap tumbuh bahkan mnjadi satu modal dan kekuatan besar bagi bangsa Indonesia.

Titik temu antara agama dan negara pada akhirnya memberi berkah bagi Indonesia menuju negara  modern dan demokratis. Modernisasi dan demokratisasi memerlukan prakondisi berupa adanya kompromi antara otoritas sekuler (kebangsaan) dan otoritas agama. Tidak benar bahwa perlu ada sekularisasi (pemisahan) antara negara dan agama bagi negara modern dan demokratis. Sebab ternyata, beberapa negara di Eropa bahkan punya gereja milik negara. Di banyak negara Eropa, pemerintah memberi subsidi kepada sekolah-sekolah agama dan rumah sakit agama. Dalam bidang politik, partai-partai agama juga berperan dalam pemerintahan. Di Amerika Serikat, yang memisahkan secara tegas gereja dan negara pun, justru peran gereja dalam kehidupan masyarakat tidak bisa dipinggirkan. Meskipun secara faktual, kehidupan beragama masyarakat barat semakin menurun.

Karena itu, kunci untuk membangun negara modern dan demokratis bukan pada ada tidaknya pemisah antara agama dan negara. Bagaimana membangun relasi agama dan negara dalam ketatanegaraan merupakan pilihan historis. Namun, kunci menuju negara demokratis dan modern terletak pada bagaimana mengembangkan toleransi kembar (twin tolerations) dalam konstruksi politik. Toleransi kembar adalah situasi ketika institusi agama dan negara menyadari batas otoritasnya lalu mengembangkan toleransi sesuai fungsinya masing-masing. Institusi-institusi negara harus bebas dalam membuat kebijakan sesuai amanat konstitusi yang disepakati. Sementara institusi agama tidak boleh memaksakan secara frontal untuk penetapan kebijakan publik kepada pemerintah tanpa melalui proses konstitusional. Karena itu tidak boleh pula ada pelarangan terhadap masyarakat yang ingin melakukan usaha menghidupkan aturan agama secara komunal, selama tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Oleh karena itu, individu dan komunitas agama harus memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan ibadah. Mereka juga harus bisa mengembangkan nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk mengembangkan organisasi masyarakat maupun partai politik dengan motivasi agama, dengan mengindahkan aturan hukum yang berlaku.

Adanya nilai-nilai ketuhanan dalam Pancasila seperti yang tertuang secara jelas dalam sila pertama, yang merupakan proses ‘evolusi’ dari Piagam Jakarta tidak bisa dipisahkan. Karena itu, negara menjamin kemerdekaan masyarakat dalam memeluk agama dan kepercayaan masing-masing. Bukan hanya kebebasan dalam memeluk agama, negara juga berkewajiban menjamin masyarakat memeluk kepercayaan. Namun dalam kehidupan di masyarakat, antarpemeluk agama dan kepercayaan harus saling menghormati satu sama lain. Dengan catatan selama tidak ada pencampur-bauran ajaran antaragama. Ataupun ada unsur penistaan terhadap satu agama, dengan dalih toleransi belaka.

Nilai-nilai ketuhanan yang dianut masyarakat berkaitan erat dengan kemajuan suatu bangsa. Ini karena nilai-nilai yang dianut masyarakat membentuk pemikiran mereka dalam memandang persoalan yang terjadi. Maka, selain karena sejarah ketuhanan masyarakat Indonesia yang mengakar, nilai-nilai ketuhanan menjadi faktor penting yang mengiringi perjalanan bangsa menuju kemajuan.

Nilai-nilai ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah nilai ketuhanan yang positif, yang digali dari nilai-nilai keagamaan yang terbuka (inklusif), membebaskan, dan menjunjung tinggi keadilan dan persaudaraan. Dengan menempatkan nilai-nilai ketuhanan sebagai sila tertinggi di atas sila-sila yang lain, kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki landasan rohani dan moral yang kuat.

Sebagai landasan rohani dan moral dalam berkehidupan, nilai-nilai ketuhanan akan memperkuat etos kerja. Nilai – nilai ketuhanan menjadi sumber motivasi bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Implementasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan berdemokrasi menempatkan kekuasaan berada di bawah Tuhan dan rakyat sekaligus. Demokrasi Indonesia tidak hanya berarti daulat rakyat tapi juga daulat Tuhan, sehingga (bisa) disebut dengan ‘teodemokrasi’. Ini bermakna bahwa kekuasaan (jabatan) itu tidak hanya amanat manusia tapi juga amanat Tuhan. Maka, kekuasaan (jabatan) harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan sungguh-sungguh. Kekuasaan (jabatan) juga harus dijalankan dengan transparan dan akuntabel karena jabatan yang dimiliki adalah amanat manusia dan amanat Tuhan yang tidak boleh dilalaikan.

Nilai-nilai ketuhanan diimplementasikan dengan cara mengembangkan etika sosial di masyarakat. Nilai-nilai ketuhanan menjiwai nilai-nilai lain yang dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti persatuan, kemanusiaan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Dalam hal ini nilai-nilai ketuhanan menjadi sila yang menjiwai sila-sila yang lain dalam Pancasila. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan ini, maka diharapkan akan memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos kerja yang positif, dan memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang diberikan Tuhan untuk kemakmuran masyarakat. Insya Allah.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here