Sejarah Pendidikan Islam: Masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah

0
15

Pendidikan pada Masa Dinasti Umayyah

Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentralisasi. Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir). Umumnya pelajaran diberikan guru kepada murid-murid seorang demi seorang. Baik di Kuttab atau di Masjid pada tingkat menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu halaqah yang dihadiri oleh pelajar bersama-sama. Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat pendidikan telah tersebar di kota-kota besar sebagai berikut: Di kota Mekkah dan Madinah (Hijaz). Di kota Basrah dan Kufah (Irak). Di kota Damsyik dan Palestina (Syam). Di kota Fistat (Mesir).

Adapun tempat dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Kuttab, yaitu tempat belajar menulis. Pada masa awal Islam sampai pada era Khulafaur Rasyidin dalam pendidikan di Kuttab secara umum tidak dipungut bayaran alias gratis, akan tetapi pada masa Dinasti Umayyah ada di antara pejabat yang sengaja menggaji guru dan menyediakan tempat untuk proses belajar mengajar. Adapun materi yang diajarkan adalah baca tulis yang pada umumnya diambil dari syair-syair dan pepatah arab.
  2. Pendidikan Masjid, yaitu tempat pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang bersifat keagamaan. Pada pendidikan masjid ini terdapat dua tingkatan yaitu menengah dan tinggi. Materi pelajaran yang ada seperti al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan fikih serta syariat Islam.
  3. Pendidikan Badi’ah, yaitu tempat belajar bahasa arab yang fasih dan murni. Hal ini terjadi ketika khalifah Abdul Malik ibn Marwan memprogramkan arabisasi maka muncul istilah badiah, yaitu dusun badui di Padang Sahara. Mereka masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab tersebut sehingga banyak khalifah yang mengirimkan anaknya ke badiah untuk belajar bahasa arab bahkan ulama juga pergi kesana di antaranya adalah Al Khalil ibn Ahmad.
  4. Pendidikan Perpustakaan, pemerintah Dinasti Umayyah mendirikan perpustakaan yang besar bernama al-Hambra, di Cordova pada masa khalifah Al Hakam ibn Nasir.
  5. Majlis Sastra, yaitu suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai ilmu pengetahuan.
  6. Bamaristan, yaitu rumah sakit tempat berobat dan merawat orang serta tempat studi kedokteran. Cucu Muawiyah Khalid ibn Yazid sangat tertarik pada ilmu kimia dan kedokteran. Ia menyediakan sejumlah harta dan memerintahkan para sarjana Yunani yang ada di Mesir untuk menerjemahkan buku kimia dan kedokteran ke dalam bahasa Arab. Hal ini menjadi terjemahan pertama dalam sejarah sehingga al Walid ibn Abdul Malik memberikan perhatian terhadap Bamaristan.
  7. Madrasah Makkah : Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal yang mengajarkan Al Qur’an dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu mengajar disana di Masjidil Haram. Ia mengajarkan Tafsir, Fiqh dan Sastra. Abdullah bin Abbaslah pembangun madrasah Mekkah yang termasyur ke seluruh negeri Islam.
  8. Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
  9. Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyhur di Basrah ialah Abu Musa Al-Asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah ahli Fiqih dan ahli Hadist, serta ahli Al Qur’an. Sedangkan Anas bin Malik termasyhur dalam ilmu Hadis. Al-Hasan Basry sebagai ahli Fiqh, juga ahli pidato dan kisah, ahli fikir dan ahli Tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan mengadakan kisah-kisah di masjid Basrah.
  10. Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin Mas’ud sebagai guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah bin Mas’ud menjadi guru di Kufah bahkan mereka pergi ke Madinah.
  11. Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh mazhab Syafi’i dan Maliki.
  12. Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula di madrasah-madrasah Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, yaitu di Fistat (Mesir lama).

Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah

Masa keemasan Abbasiyah adalah zaman keemasan peradaban (pendidikan) Islam yang berpusat di Baghdad yang berlangsung selama kurang lebih lima abad (750-1258 M). Hal ini dibuktikan oleh keberhasilan tokoh-tokoh Islam dalam menjalani keilmuan dan dengan karya-karyanya. Mulai dari aliran fiqih, tafsir, ilmu hadis, teologi, filsafat sampai dengan bidang keilmuan umum seperti matematika, astronomi, sastra sampai ilmu kedokteran.

Tradisi intelektual terlihat dari kecintaan mereka akan buku-buku yang hal itu dibarengi dengan adanya perpustakaan-perpustakaan baik atas nama pribadi yang diperuntukkan kepada khalayak umum atau disponsori oleh khalifah. Hasil membaca mereka kemudian didiskusikan dan dikembangkan lagi. Mereka menjadikan perpustakaan dan masjid sebagai tempat berdiskusi. Dari sinilah memunculkan ide atau keilmuan baru, tercipta tradisi menulis, menyadarkan kebutuhan untuk berkarya yang sangat tinggi. Tradisi penelitian juga kita lihat dari temuan-temuan (eksperimen) ilmu dalam bidang sains, matematika, kedokteran, astronomi, dan lain-lain.

Pada masa ini, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:

  1. Maktab / kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih, dan bahasa.
  2. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan biasanya berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan mendatangkan ulama ahli.

Pada masa ini pula lahir berbagai karya monumental dari rahim peradaban islam. Terdapat banyak ulama, intelektual, filsuf serta ilmuwan yang mencetuskan perkembangan dalam berbagai cabang ilmu. Diantaranya Kedokteran, Astronomi, Matematika, Teknik, Optik, Kimia, Tasawuf, Geografi, Tafsir, Hadits, dan lain – lain. Diantara nama – nama tokoh yang dikenal seperti Ibn Sina, Maryam al-Astrulabiy, Musa al-Khawarizmi, Ibn Haytam, Ibn Hayyan, al-Farabi, Ibn Rusyd, ar-Razi, al-Ghazaly dan lain – lain.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here