Ngaji Buku Madani: Pentingnya Bahasa dalam Tinjauan Islamic Worldview

0
8

MAKASSAR – Madani Institute (Center For Islamic Studies) mengadakan NgajiBuku: Risalah untuk Kaum Muslimin yang dilaksanakan via daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting pada Jumat (8/10/2021).

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Madani Institute sejak Maret 2021 lalu. Memasuki pertemuan ke-18, NgajiBuku kali ini membahas lebih komprehensif tentang pengislaman bahasa yang terjadi. Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan alat untuk mengungkapkan ide yang ada pada alam pemikiran.

Di awal pembahasannya, Ustadz Syamsuar Hamka, S.Pd. M.Pd.I selaku pemateri pada kegiatan ini menyebutkan peran Islamisasi bahasa yang pada akhirnya menuju Islamisasi pemikiran. Bahasa merupakan sesuatu rencana pandangan alam terhadap hakikat alam semesta. Dan sejak awal Islam telah menyadari ini.

“Keberadaan Islamisasi bahasa layaknya sebagai tapisan atau filter terhadap adanya ajaran yang menyimpang. Konsep kunci Islam yang dibangun atas prinsip kebahasaan menafikan adanya perubahan dan menyatakan konsep Islam sebagai konsep yang final. Sebagaimana diketahui, pandangan terhadap corak dan sifat alam akan dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan. Dengan bahasa inilah, kita melihat realitas yang ada,” ujarnya.

Prof Al-Attas akhirnya menyebutkan bahwa problem bahasa telah menyebabkan masalah paling rumit dalam falsafah Barat yang ada saat ini. Misal tentang konsep ilmu.

“Konsep ilmu yang diajarkan dan dipahami saat ini di berbagai universitas dan institusi pendidikan itu pada dasarnya telah menyerap berbagai macam unsur-unsur peradaban Barat, yang pada akhirnya menghilangkan konsep ketuhanan dalam pembahasannya. Semua mengarah pada sekularisasi. Sehingga jika kita berbicara tentang agama, maka ia dianggap sebagai hal yang tabu atau tidak berlaku untuk umum. Bersifat subjektif dan tidak akan bisa dipakai untuk mengatur urusan negara dan publik,” tegasnya.

Ustadz Syamsuar kemudian menyebutkan juga bahwa konsep bahasa itu yang memengaruhi kata-kata seperti agama, Tuhan, dan iman. Walhasil, di era modern ini sebagian ahli ilmu menganggap konsep agama yang ada pada Islam sama saja dengan konsep Kristen atau pun Yahudi. Begitu pula halnya dengan kata Tuhan. Tuhan dalam Islam disamakan dengan Tuhan agama-agama yang lain.

“Pengislaman bahasa merupakan paham yang utama dalam konsepsi Islam. Oleh karena itu, perlu adanya penjagaan bahasa itu sehingga tidak terkelirukan dan peradaban serta kebudayaan Islam akan terus terjaga. Konsep-konsep bahasa yang diimpor dari asing dan terjadinya talbis (pencampuradukan) akan berakhir pada penafian pengislaman dalam tataran pemikiran dan pemahaman,” pungkasnya.

Pada pembahasan perenggan 40 dan 41, tema bahasan berpindah kepada konsep kesusastraan dan seni dalam Islam dan perbandingannya dengan pemahaman Barat.
Pada awal mulanya, kesusasteraan dipandang sebagai sumber ilmu dan hikmah di masa lalu. Namun, setelah munculnya para ahli fikir dan filsuf maka keutamaannya sebagai sumber ilmu pun direbut.

Pada sesi tanya jawab, Ustadz Syamsuar menjelaskan bahwa pemahaman tentang bahasa dan kesusasteraan selanjutnya akan dikembangkan bahasannya oleh Prof Al Attas di perenggan-perenggan berikutnya.

“Pemahaman tentang pengislaman bahasa dan paham kesusasteraan akan menjadi dasar dalam menguraikan konsep kunci worldview Islam berikutnya,” tuturnya.

Laporan: Sholihin
Editor: Muh Akbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here