Sejarah Pendidikan Islam: Pendidikan pada Abad Kontemporer dan di Indonesia

0
14

Pendidikan pada Abad Kontemporer
Periode modern dalam sejarah Islam dimulai dari tahun 1800 M dan  berlangsung hingga sekarang.  Di awal periode ini kondisi Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Dan pada  pertengahan abad ke-20M, dunia Islam mulai bangkit dan memerdekakan negerinya dari penjajahan kolonialisme.
Periode ini dilatarbelakangi oleh munculnya renaissance  di Eropa. Dan kejadian tersebut membangkitkan bangsa Barat dari keterpurukan yang telah lama terjadi dan mencapai kemajuan. Dengan kemajuan, Barat mulai melakukan berbagai riset dan perjalanan ke belahan bumi yang lain hingga mengalami kemajuan dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah ekspedisi ke wilayah Timur lewat jalur lautan. Perkembangan Barat di bidang sains yang sangat pesat, serta euforia liberalisasi dan sekularisasi merambah dunia Islam. Barat mendatangi Timur dengan misi Imperialisme.
Setelah satu persatu negara Islam berada di bawah pengaruh Barat, keadaan tersebut menyadarkan umat Islam tentang kemunduran dan perlunya kebangkitan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebangkitan (shahwah) umat Islam, diantaranya adalah pertama, timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyaknya paham asing yang masuk dan diterima oleh masyarakat Islam. Dimana paham tersebut bertentangan dengan konsep Islam yang benar. Kedua, pada periode ini Barat mendominasi dunia di bidang politik. Hal ini menyadarkan para intelektual muslim yang menempuh studi di Barat atas ketertinggalan oleh Barat.
Dengan kesadaran umat Islam akan ketertinggalan mereka oleh bangsa Barat, para intelektual muslim mulai melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya, diantaranya melalui bidang pendidikan.
Ada banyak tokoh yang menggagas pembaharuan pemikiran Islam setelah mengalami kemunduran. Diantaranya tokoh pemikiran pendidikan islam kontemporer adalah Muhammad Abduh. Muhammad Abduh meletakkan empat kerangka dasar dalam pembaruan umat, yaitu pertama, purifikasi, berupa pemurnian kembali ajaran islam. Kedua, reformasi, yaitu menyusun ulang kurikulum pembelajaran institusi al-Azhar dengan tidak hanya menitik beratkan pada kajian turats dan buku-buku klasik berbahasa Arab tetapi juga, meletakkan ilmu filsafat dan logika, sejarah dan kajian agama Eropa, sehingga menjadi dasar analisa kemunduran dan kemajuan umat. Ketiga, pembelaan Islam, yaitu upaya untuk mempertahankan jati diri keislaman di tengah arus westernisasi. Keempat, reformulasi, yaitu upaya membuka kembali pintu ijtihad.
Selain Abduh, kita juga mendapati Rasyid Ridha. Tokoh ini berupaya memajukan ide pengembangan kurikulum dengan muatan ilmu agama dan umum yang ia wujudkan dengan pendirian sekolah di Kairo pada tahun 1912 bernama Madrasah Ad-Da’wah wa Al-Irsyad. Di Indonesia, pemikiran Abduh dan Rasyid Ridha banyak mempengaruhi perjalanan dan patron ormas Islam, Muhammadiyah. Warisan -warisan pemikirannya, diantaranya Risalah Al-Tauhid, Tafsir Al Manar, banyak diadopsi oleh KH. Ahmad Dahlan dan berpengaruh bagi pembaruan Muhammadiyah yang didirikan 8 Dzulhijjah 1330 H.


Pemikiran pendidikan yang digagas Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha sama-sama bercorak modernisme. Dimana keduanya, berusaha untuk memperkecil kesenjangan (dualisme) pendidikan. Mereka berupaya menyelaraskan dan menyeimbangkan porsi pelajaran agama dengan pelajaran umum. Hal ini dilakukan untuk memasukkan ilmu-ilmu umum ke dalam kurikulum sekolah agama dan memasukan pendidikan agama ke dalam kurikulum modern yang didirikan pemerintah sebagai sarana untuk mendidik tenaga-tenaga administrasi, militer, kesehatan, perindustrian.
Melanjutkan analisa problematika dikotomi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-Attas tampil menggagas islamisasi ilmu. Al-Attas adalah salah satu pemikir dan pembaharu yang memberi kontribusi dalam pendidikan Islam berupa rumusan strategi dalam proyek islamisasi ilmu. Bukan dengan teori dan gagasan belaka, ia dengan konsisten berupaya mewujudkan ide-idenya dalam bentuk pendirian Universitas Islam. Tahun 1987, ia mendirikan The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) setelah mendapat dukungan dari negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) pasca ceramahnya di Konferensi Internasional Pendidikan Islam, Makkah 1977. Ia merancang dan membuat arsitektur sendiri bangunan ISTAC, merancang kurikulum, dan membangun perpustakaan ISTAC yang kini tercatat sebagai salah satu perpustakaan terbaik di dunia dalam Islamic Studies. Dampaknya, alumnus-alumnus ISTAC tampil menjadi pemikir yang membendung sekulerisasi di belahan dunia Islam.

Pendidikan Islam di Indonesia
Di Indonesia, kedatangan bangsa Belanda membawa pengaruh terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam. Sebab kedatangan Belanda di tanah air membawa tujuan besar imperialisme, kolonialisme dan misionarisme. Mereka membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Dalam upaya menjalankan misi tersebut, kebijakan pendidikan yang diterapkan setelah menguasai politik berusaha untuk menghambat pendidikan bagi penduduk pribumi yang beragama Islam, termasuk lembaga-lembaga pendidikannya.[ Anzar Abdullah, Perkembangan Pesantren dan Madrasah di Indonesia dari Masa Kolonial sampai Masa Order Baru. Jurnal Paramita Vol. 23 No. 2 – Juli 2013, hlm. 195]
Di Indonesia, terdapat banyak tokoh pendidikan yang berperan besar terhadap Pergerakan Nasional. Salah satunya, seperti Syaikh Abdullah Ahmad. Beliau merupakan orang pertama yang mempelopori pendirian sekolah agama tahun 1909 M dengan sistem klasikal dengan sarana dan prasarananya. Ia mendirikan sekolah Adabiah yang berubah menjadi HIS Adabia dengan penyelenggaraan pendidikan integratif. Gagasannya menyadarkan umat islam tentang pentingnya memadukan ilmu-ilmu agama dan umum untuk mewujudkan kesejahteraan dunia dan akhirat.
Sejalan dengan Syaikh Abdullah, di masa kolonial, KH. Ahmad Dahlan juga berupaya menjawab permasalahan umat berupa kemunduran dan dikotomi ilmu melalui rekonstruksi kurikulum antara dua model pendidikan. Ia memasukkan pendidikan agama dalam lembaga pendidikan umum. Dan memasukkan pelajaran umum dalam lembaga pendidikan agama. Melalui Muhammadiyah, ia berhasil menyebarluaskan gagasan modernisasinya dan hingga kini kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan mencatat ada 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/MTs, 1.143 SMA/MA, 67 PP, dan 172 Perguruan Tinggi di Indonesia.
Sementara itu, KH. Hasyim Asy’ari, tahun 1926 di Jawa Timur mendirikan organisasi Nahdhatul Ulama yang bertujuan mempertahankan ajaran Ahl Sunnah wal-Jama’ah serta tradisi Islam dalam pengembangan sumber daya manusia. Dengan latar belakang pendidikan Pesantren, ia melakukan gerakan kemasyarakatan yang amat luas. Sebagai ulama ia memimpin Pesantren Tebuireng, dan juga melakukan upaya ofensif terhadap Belanda. Selain berjihad melawan Belanda, KH Hasyim Asy’ari juga menghasilkan karya-karya monumental seperti Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim yang kini menjadi subjek pokok sebagian besar kurikulum pesantren di Jawa Timur.
Pasca kemerdekaan, Dr. Mohammad Natsir tampil mengembangkan Pendidikan Islam. Beliau dikenal sebagai pendiri Masyumi yang kemudian berubah menjadi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Mohammad Natsir, adalah seorang yang memiliki komitmen yang kuat dengan islam. Terbukti dengan pendirian Pondok Pesantren Mahasiswa pertama di Indonesia, PP. Ulil Albab tahun 1987 di kampus UIKA Bogor. Di sana, ia bersama dengan KH. Syuhada Bahri dan KH. Didin Hafidhuddin mendidik mahasiswa-mahasiswa yang komitmen terhadap dakwah dan perjuangan Islam dalam bingkai politik ke-indonesia-an selama masa Orde Baru. Selain itu, atas usahanya mendirikan DDII, lahir kader-kader dakwah yang ideologis dari sistem pendidikan da’i, yang menurut beliau guru harus memiliki pengabdian untuk kemajuan bangsa dan negara.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here