Dikotomi Ilmu; Tantangan Pendidikan Kontemporer

0
13

Dikotomi menurut KBBI diartikan sebagai pembagian atas dua kelompok yang bertentangan. Hal ini lahir atas dasar pandangan yang mendua. Pandangan psikologis Barat atas fakta dan sejarah. Dikotomi adalah kelanjutan dari sekulerisme yang dibawa oleh Barat ke dunia Islam.

Untuk menjawab tantangan dikotomi tersebut, Pemerintah Indonesia banyak melakukan perubahan di bidang pendidikan Islam dalam bidang regulasi. Sejak masa orde baru kita melihat bermunculan berbagai lembaga pendidikan dengan berbagai konsep yang ada.

Setidaknya ada tiga Lembaga Pendidikan Islam Kontemporer yang eksis saat ini, yaitu : Pesantren, Madrasah, dan Sekolah Islam Terpadu. Kelahiran lembaga pendidikan ini, menjawab kebutuhan pada masanya masing – masing.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional dengan ciri khas di dalamnya terdapat masjid, kyai, santri, dan pengajaran kitab kuning. Tujuan pendidikan di pesantren adalah untuk menghasilkan para ahli ilmu agama. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mengalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan dan keagamaan. Ciri umum yang diketahui adalah pesantren memiliki kultur yang khas. Cara pengajarannya yang unik. Kyai yang biasanya adalah pendiri pondok pesantren, memberikan layanan pendidikan secara kolektif atau bandongan (collective learning process) dan layanan individual atau sorogan (individual learning process).

Madrasah merupakan tempat pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama maupun umum, yang berada di bawah naungan Kementerian Agama RI. Lembaga madrasah tidak dapat digantikan dengan lembaga-lembaga lainnya, karena madrasah mempunyai visi, misi dan karakteristik yang sangat spesifik di dalam masyarakat maupun kelembagaannya baik. Lebih dari 20 tahun terakhir, banyak pesantren telah mengadopsi sistem madrasah dan memasukkan mata pelajaran umum dalam sistem pendidikannya. Sistem madrasah diperkenalkan untuk menjembatani kesenjangan antara pesantren dan sekolah yang pada akhirnya melahirkan dualisme dalam sistem pendidikan nasional. Sekolah (umum) yang merupakan lembaga pendidikan di Indonesia warisan penjajah Belanda yang mengajarkan ilmu – ilmu umum yaitu ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora.

Warisan pendidikan Kolonial memiliki ciri yang melekat secara mendasar di dunia Islam. Ciri utama dari warisan tersebut adalah adanya pemisahan secara jelas antara ilmu pengetahuan yang terklasifikasikan (agama dan umum), sedangkan kedudukan pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional merupakan sisi lain yang bersumber dari sistem penyelenggaraan negara yang sesungguhnya juga sebagai bentuk modifikasiyang tidak sempurna atas warisan sejarah masa lalu tentang pendidikan modern yang kita anut. Sebagai akibatnya gejala ini sedikit banyak telah mempengaruhi kemajuan pendidikan khususnya pendidikan Islam. Kondisi seperti ini tentunya menyebabkan pendidikan Islam mengalami kerugian karena yang dihasilkan oleh model-model sekolah tersebut adalah manusia yang tertinggal oleh kemajuan IPTEK di satu sisi dan di sisi lain juga tertinggal dalam pengetahuan agama. Tertinggal dalam bidang IPTEK dikarenakan tidak seluruhwaktu dan potensinya digunakan untuk mempelajari IPTEK akibat kurikulum yang harus dijalani. Tertinggal dalam bidang agama dikarenakan kurikulum yangada hanya terdapat sedikit pelajaran agama, itupun materinya sudah terjauhkan dari nilai-nilai tauhid. Hal itu menyebabkan usaha untuk mengubah atau membentuk sosok pribadi muslim sesuai yang diidamkan oleh pendidikan Islam sangat kecil. Oleh karena itu dibutuhkan lembaga pendidikan Islam alternatif yang mampu menghapus dikotomi ilmu pengetahuan.

Dari dasar pemikiran inilah melahirkan Sekolah Islam Terpadu. Perpaduan antara mata pelajaran umum dan mata pelajaran keagamaan menjadi ciri khas dalam struktur kurikulum Sekolah Islam Terpadu. Sekolah IslamTerpadu tidak memisahkan keduanya menjadi mata pelajaran keagamaan yang fardhu‘ain untuk dipelajari dan ilmu umum yang fardhu kifayah untuk dipelajari, namun kedua-keduanya merupakan rumpun keilmuan yang wajib dipelajari sebagai bekal menjalankan tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Kedua rumpun keilmuan tersebut dianggap sama-sama mempelajari ayat-ayat Allah SWT.

Secara administratif Sekolah Islam Terpadu lahir Pada dekade akhir tahun 1980-an. Sekolah Islam Terpadu mulai bermunculan dengan diawali oleh para aktivis dakwah kampus yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan beberapa universitas ternama lainnya yang tergabung dalam komunitas Jamaah Tarbiyah yang memiliki keprihatinan terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Mereka adalah para aktivis Islam kampus yang berperan penting dalam menyebarkan ideologi Islam kepada para mahasiswa. Kalangan pemuda menjadi target utama dari gerakan ini karena mereka percaya bahwa para pemuda akan menjadi agen perubahan sosial yang sangat penting dalam melakukan Islamisasi seluruh masyarakat Indonesia. Tugas untuk menyiapkan generasi muda Muslim yang punya komitmen dakwah diyakini akan lebih efisien jika melalui pendidikan. Mereka mendirikan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang telah menginspirasi berdirinya Sekolah-Sekolah Islam Terpadu di seluruh wilayah Indonesia. Ada sekitar 1.000 Sekolah Islam Terpadu yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) yang kepengurusannya telah tersebar diseluruh wilayah Indonesia, dan ada sekitar 10.000 Sekolah IslamTerpadu yang secara struktural tidak bergabung di bawah JSIT.

Tahun 1993, ada Lima Sekolah Islam Terpadu di wilayah Jabodetabek. Kelima sekolah itu adalah SDIT Nurul Fikri Depok, SDIT al-Hikmah Jakarta Selatan, SDIT Iqro Bekasi, dan SDIT Ummul Quro Bogor, dan SDIT al-Khayrot Jakarta Timur. Kemudian dari sinilah SIT bermunculan di seluruh Indonesia. Tahun 2017 Lalu, sudah ada 2.418 unit sekolah yang begabung dalam JSIT dengan jumlah tenaga pengajar lebih dari 80.000 Orang.

Khatimah; Apa Setelahnya ?

Dari tiga jenis lembaga pendidikan ini, geliat dakwah Islam cukup menggembirakan. Apalagi kecenderungan masyarakat yang punya minat yang tinggi terhadap pendidikan islam cukup besar. Selain itu kehadiran menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mewakili generasi milenial cukup menjadi angin segar dunia pendidikan islam, di satu sisi. Sebab ada banyak konsep yang akan bisa diajukan sebagai pendidikan alternatif, di tengah pengaruh dan dominasi pendidikan Sekuler di tanah air kita.

Narasi di atas setidaknya menggambarkan kepada kita bagaimana alur perkembangan pendidikan Islam dari masa ke masa. Zaman klasik adalah masa pembangunan dasar-dasar pendidikan individu dan masyarakat. Dan ketika masa telah berganti, Pendidikan Islam berkembang ke arah pembangunan institusi dengan sistem yang lebih kompleks. Dari manajemen, kurikulum serta metode pendidikan. Dalam perjalanannya kini, Pendidikan Islam tetap tampil eksis di tengah arus pendidikan sekuler yang membawa pengaruh ideologi, pemikiran dan budaya. Berbagai macam institusi Pendidikan Islam menjadi alternatif pendidikan umum.

Dari narasi sejarah itu, juga terlihat bahwa Pendidikan adalah poros pembangunan. Ratusan ribu institusi lahir dari pemikir-pemikir pendidikan islam, dari periode awal islam di masa Nabi hingga masuknya islam di Indonesia. Konsep-konsep islam sebagai Din terimplementasi dalam struktur sosial islam (Sholahiyatu al-Islam). Dan hingga kini, masih berlangsung upaya bimbingan, pengarahan dan pendidikan dari jutaan bahkan puluhan juta pendidik yang akan terus melahirkan tokoh-tokoh Pembaharuan Islam berikutnya di abad ini. Insya Allah! (Wallohu  a’lam bi as-Shawab).  

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani – Center for Islamic Studies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here