Islam di Brunei Darussalam

0
13

Brunei Darussalam, yang biasa disebut Negara Brunei Darussalam, State of Burnei Abode of Peace, merupakan sebuah kerajaan kaya yang terletak di bagian utara Kalimantan. Brunei diapit oleh dua wilayah Malaysia, Sabah dan Serawak dan diperintah oleh keturunan sultan, sekarang sultan Hassanah Bolkiah. Negara Brunei Darussalam, yang mempunyai luas 5.765 km dan jumlah penduduk 385.660 jiwa ini, menyatakan kemerdekaannya dari protektorat Inggris pada 1 Januari 1984.

Brunei merupakan negara kaya dengan pendapatan negara GDP $9.009 juta dan pendapatan per kapita $24,826. Negara Brunei dibagi menjadi empat daerah: Belait, Muara, Temburong, dan Tutong. Ekonomi Brunei didukung oleh penghasilan minyak dan gas yang cukup besar dan sedikit pertanian, perikanan, dan untuk masa depan industri. Penduduk Brunei kebanyakan adalah keturunan Melayu, sedikit China, Dayak, dan Kadazan. Agama utama dan resmi adalah Agama Islam. Meski demikian, tetap dilindungi pemeluk Kristen, Konghucu, dan Agama Asli.

Kota-kota utama, disamping Bandar Seri Begawan (ibu kota), adalah Muara, Kuala Belait, dan Penaga (minyak dan kota rekreasi). Oleh karena kemakmurannya, pendidikan dan kesehatan diberikan kepada rakyatnya secara cuma-cuma.

MASUKNYA ISLAM DI BRUNEI DARUSSALAM

Brunei telah menerima Islam sebagai agama resmi sejak pemerintahan Sultan Muhammad Syah yang diperkirakan sejak 1368, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Ahmad dan diteruskan oleh menantunya Sultan Sharif Ali (wafat 1432), Islam diperkirakan telah tersebar di Brunei jauh sebelum itu, karena Brunei merupakan daerah transit dan persinggahan pedagang-pedagang yang mengembangkan Islam ke wilayah ini.

Dalam sejarah China dicatatkan bahwa pada 1370 Brunei atau puni pada masa itu rajanya bernama Ma-ha-mo-sya (Sultan Muhammad Syeh), telah mengatur utusan ke China dengan membawa sepucuk surat menggunakan tulisan khat yang bentuknya sama dengan tulisan Hui-ku, tulisan orang Islam keturunan Turki yang mendiami daerah Uighur.

Menurut salasilah Raja-raja Brunei, Sultan Ahmad kemudian digantikan oleh menantunya Sultan Sharif Ali berasal dari Thaif, seorang keturunan Nabi dari jalur Sayyidina Hasan. Beliau kawin dengan putri Sultan Ahmad wafat (1446), Sultan Sharif Ali diangkat menjadi sultan ke III, dengan gelar Sultan Berkat. Panji-panji Negara Brunei Darussalam juga diasaskan oleh Sharif Ali, dengan tiga sayap dan diatasnya terletak “Tunggul Alam Bernaga”. Sultan Sharif Ali wafat pada 1432 dan digantikan oleh putra baginda bernama Sultan Sulaiman. Keturunan Sultan Sharif Ali inilah yang melahirkan keturunan Sultan dan Raja-raja Brunei sampai ke hari ini.

Pemerintah Negara Brunei, sebagaimana tercatat dalam kanun Brunei dan pernah dijalankan sebelumnya menyebar luasnya sistem atau gaya pemerintahan ala Barat (Inggris) adalah suatu pemerintahan yang terdiri dari Sultan, Jema’ah, perunding, Penasehat, yaitu Duli-duli wazir, Pengirang bendahara, Pengirang Di-Gadong, Pengirang Temegong, Pengirang Pemancha, Kadhi Besar, dan beberapa orang Ceteria (sebutan melayu untuk satria-Peny.).

Dimulai pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad Hasan (1582-1598) Brunei mempunyai pemerintahan yang berbentuk piramida; dengan sultan berada pada puncaknya, sedang dibawahnya adalah empat orang wazir, yakni Pengirang Bendahara, Pengirang di Gadong, Pengirang Temogong dan Pengirang pemancha.

Dibawah para wazir terdapat 60 orang Ceteria, yang terdiri dari seorang perdana Ceteria, 4 kepala Ceteria, 8 Ceteria Besar, 16 Ceteria Pengalasan, dan 32 Ceteria Damit. Ceteria adalah jabatan tertinggi selepas wazir dalam susunan hierarki pemerintahan di Brunei. Gelar Ceteria ini adalah anugerah dari Sultan kepada mereka yang berketurunan atau berdarah Raja. Oleh karena itu, rakyat biasa tidak boleh diberi gelar Ceteria.

AWAL MULA PENGARUH INGGRIS DI BRUNEI

Pengaruh Inggris di Brunei bermula dari kedatangan seorang pengembara inggris bernama James Brooke di Kuching, (Serawak) pada 1839. Tidak sampai setengah tahun kemudian, James Brooke mendapat simpati besar dari Pangerang Muda Hashim, wakil Sultan Brunei di Serawak akibat bantuan James Brooke dalam memadamkan pemberontakan kecil di Serawak. Bahkan, pada 1841, James Brooke dilantik menjadi pemegang kuasa (wakil) Sultan Brunei untuk daerah Serawak, menggantikan Pangerang Indera Mahkota, dan kemudian kedudukan James Brooke dikukuhkan dengan (Perjanjian Serawak) 1842.

Pada masa kekuasaan Sultan Omar Ali Syaifuddin II terjadi konflik internal keluarga di raja Brunei, yakni pertentangan yang berakhir dengan pembunuhan Pangeran Muda Hashim (adik Pangeran Badaruddin) dan keluarga mereka pada akhir bulan Oktober 1845 atas perintah Sultan Omar Ali Syaifuddin II. Keadaan ini dimanfaatkan Inggris untuk melakukan tekanan terhadap Sultan Omar Ali Syaifuddin II, dengan memaksa Sultan menyerahkan pulau Labuan kepada Inggris pada 1846.

Pada 22 januari 1848, James Brooke dilantik oleh kerajaan inggris menjadi pesuruhjaya dan konsul Jendral Inggris untuk kerajaan Brunei. Pada 1847, Brunei menandatangani perjanjian persahabatan dan perdagangan dengan Inggris, yang berisi pemberian hak-hak istimewa dibanding perniagaan dan ekstra teritorial kepada warga Inggris yang berniaga di Brunei. Dengan perjanjian tahun 1906, Brunei memberi hak kuasa kepada kerajaan Inggris untuk menempatkan seorang residen di Brunei. Residen ini akan bertugas memberi nasehat dalam segala urusan dan luar negara kecuali masalah-masalah yang berkaitan dengan agama Islam.

Sejak itu, bermula satu era baru,  satu sistem pemerintahan keresidenan (residential system) sama halnya dengan negeri-negeri melayu di Semenanjung Malaka. Dengan itu, Brunei telah kehilangan kemerdekaan dan kebebasannya. Sultan  sudah tidak berkuasa secara penuh, karena yang memegang kuasa de facto adalah residen Inggris. Sistem keresidenan mengubah sama sekali pemerintahan tradisional yang diwarisi berkurung-kurung lamanya, dan sebagai gantinya diasaskan satu sistem pemerintahan ala Barat. Keadaan tersebut berubah lagi setelah Brunei diberikan perlembagaan bertulis oleh Sultan pada 29 september 1959 dan kemerdekaan penuh Brunei pada 1948.

ISLAM BRUNEI DARUSSALAM MASA KINI DAN MASA DEPAN

Perubahan keagamaan di Brunei sejak abad XIX sedikit banyak terkait dengan tanah suci dan dunia melayu lainnya. Pada 1807, di Mekah didirikan rumah wakaf Brunei. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat pendidikan dan pemukiman pemuda-pemuda Brunei bersama-sama dengan komunitas jawi (Baca: keturunan melayu nusantara). Seperti di negara-negara melayu muslim asia tenggara lainnya, wacana ideologi dan pemikiran keagamaan di Brunei, hukum qonun brunei, tidak hanya berisi buku islam, tetapi juga merujuk pada hukum adat.

Kebangkitan nasionalisme melayu memunculkan kerusuhan antara masyarakat Cina dan Melayu pada 24 Maret 1946 di Bandar Brunei. Pada 12 April 1946, beberapa alumni MPSI dan anggota kesatuan guru-guru melayu brunei (PGGMB) mendirikan organisasi pemuda (BARIT). Barisan pemuda ini diharapkan dapat menjadi sarana yang mempersatukan hasrat para pemuda dalam memperjuangkan hak bangsa melayu brunei. Di awal pembentukannya, yang diangkat sebagai ketua adalah Barit Awang Abdul Bin Awang Jaafar, sedangkan sekretarisnya adalah Pangiran Mohammad Yusuf.

Dalam pelembagaan Brunei 1959,terdapat pasal-pasal yang merupakan asas utama identitas negara Brunei, yaitu sebagai berikut

  1. Bab 3 pasal 1 menyatakan: “Agama resmi bagi negara ialah agama Islam menurut ahlusunah waljama’ah tetapi agama-agama yang lain boleh diamalkan dengan aman dan sempurna oleh mereka yang mengamalkannya”.
  2. Bab 4 pasal 1menyatakan: ”Kuasa pemerintah yang tertinggi bagi negeri adalah terletak di dalam tangan sultan”
  3. Bab 4 pasal 5 menyebutkan: ”Maka tiada siapapun boleh dilantik menjadi Menteri besar atau timbalan Menteri atau setiap usaha melainkan orang itu orang melayu yang beragama Islam mengikuti mazhab syafi’i ahlusunnah waljama’ah”.
  4. Bab 82 pasal 1 menyatakan: ”Bahasa resmi negara ialah bahasa Melayu dan hendaklah ditulis dengan huruf yang ditentukan oleh undang-undang bertulis”.
  5. Bab 82 pasal 2 menyatakan: ”Ketua agama ialah sultan”.

Sultan berkuasa atas seluruh soal dalam negara, karena raja menjadi ketua melayu, ketua agama, ketua adat istiadat, dan ketua pemerintahan. Di negara ini, sultan merupakan wakil rakyat yang mutlak dan menjadi pilar negara untuk mengawasi dan menjalankan roda pemerintahan negara yang terdiri dari empat bagian: Kanun, Syarak, Resam dan Adat Istiadat. ” Kanun” merujuk kepada hukum Kanun Brunei yang telah ada sejak Sultan Hasan, sultan ke 9 (1582-1598). ”Syarak” merujuk kepada ajaran agama islam. ” Adat istiadat” merujuk kepada adat istiadat brunei kuno, yang berkaitan dengan sultan, panggilan kehormatan, susunan, dan adat istiadat yang terpakai di kalangan pembesar brunei dan masyarakat pada umumnya. Adapun “resam” merujuk kepada perkara yang di luar adat istiadat atau adat yang diadatkan, seperti resam satu kelompok kecil atau kuak-kuak masyarakat tertentu.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here