Ngaji Buku Madani Bahas Kesusastraan dan Kesenian dalam Pandangan Prof. Muhammad Naquib al-Attas

0
12

MAKASSAR – Madani Institute (Center For Islamic Studies) kembali melanjutkan kegiatan NgajiBuku: Risalah untuk Kaum Muslimin yang dilaksanakan via daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting pada Jumat (5/11/2021). NgajiBuku merupakan program rutin dari Madani Instute yang mulai terselenggara pada 12 Maret 2021 silam dan sampai saat ini telah mencapai pertemuan yang ke-20.

Kegiatan NgajiBuku ini diisi setiap pekannya oleh Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies, Ustaz Syamsuar Hamka, S,Pd., M.Pd.I. Pada pertemuan kali ini, dibahas 2 perenggan dari buku tersebut.

Ustaz Syamsuar di awal pembahasannya menguraikan lebih jauh mengenai paham kesusastraan dan kesenian dalam pandangan Prof. al-Attas. Pembahasan ini telah dimulai sejak Perenggan ke-40. Kesusastraan dalam hal ini dimasukkan ke dalam budaya yang bersifat non bendawi. Budaya yang halus. Hal ini dapat dilihat pada karya sastra, puisi, novel, dan sebagainya. Ini menunjukkan kemampuan manusia dalam menggunakan nalar, cita rasa, dan karsanya.

“Salah satu puncak dari penggunaan karsa pada manusia adalah sastra itu sendiri. Islam tentunya sangat memuliakan akal. Ia adalah sesuatu yang vital. Oleh karena itu, sastra sendiri dapat menjadi sarana bagi muatan nilai-nilai islam,” ujarnya saat mendaras bagian awal Perenggan 40.

Sebagaimana pemaparan Prof al-Attas, yang bertentangan dengan Islam itu adalah faham perubahan dasar pada kesusastraan. Pada pengalaman Barat misalnya, sastra dulunya menjadi ajang bagi nalar filosofis. Namun, seiring perkembangan zaman, sastra kini penuh dengan nilai-nilai sekular dan pada akhirnya merombak segala tatanan yang ada.

Memang jika ditinjau puisi sekalipun mengalami perubahan dari masa ke masa yang dialami pula oleh sastra Islam. Hal ini tidaklah mengapa selama masih berasas pada cita-rasa asli kebudayaan Islam. Bahkan itu bisa memperkaya perbendaharaan seni bahasa yang ditolak dengan tegas itu adalah perubahan pada dasarnya. Perubahan nilai. Atau perubahan pandangan hidupnya. Makanya setiap muslim harus melekat pada dirinya worldview of Islam termasuk dalam hal kesusastraan.

Ustadz Syamsuar kemudian menguraikan bagaimana dalam Islam, sastra itu berperan sebagai tafsiran dari menguraikan Tanzil (wahyu). Contohnya sangat banyak terdapat pada ulama-ulama terdahulu. Misal Imam Syafii dengan Diwan Imam Syafi’i yang terkenal. Di Nusantara, ada Gurindam 12 Raja Ali Haji yang luar biasa maknanya. Sastra ini bukan lagi sebagai sumber ilmu dan hikmah. Akan tetapi, sastra menjadi tafsiran untuk menguraikan ‘tanda-tanda’ yang ada. Tanda atau ayat yang dimaksud tidak hanya terbatas pada Al-Quran tetapi juga seluruh alam raya ini telah menjadi tanda-tanda. Seluruh alam raya layaknya kitab agung tabii yang menjadi bahan perenungan dan pengamatan.

Pada paparan lanjutannya, Ustaz Syamsuar Hamka mengemukakan salah satu gagasan utama Prof. Al-Attas yakni tentang adab. Konsep mulai dibahas detail pada perenggan 47. Konsep adab sangat erat kaitannya dengan paham kesusastraan.

“Prof Al-Attas memaknai adab sebagai ‘pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta’. Maka adab itu pengenalan sekaligus pengakuan juga,” ujarnya.

Pemateri mencontohkan pada adab terhadap presiden. Maka seseorang itu harus terlebih dahulu mengenal apa presiden itu dan siapa dia maupun latar belakangnya. Setelah mengenalnya maka itu tidak cukup. Kita harus menempatkan presiden sesuai dengan tempatnya. Sesuai dengan neraca keadilan. Oleh karena itu, langkah berikutnya adalah mengakui presiden itu berikut wewenangnya. Jika hanya sebatas pengenalan tanpa pengakuan, maka itu akan menjadi sia-sia saja.

Pengenalan itu ilmu. Sedangkan pengakuan itu adalah amal. Pengenalan tanpa pengakuan itu sia-sia belaka karena menyiratkan sifat ingkar dan angkuh. Pengakuan tanpa pengenalan seperti halnya amal tanpa ilmu yang menyiratkan kejahilan.

“Perlu dipahami bahwa adab ini tidak hanya berlaku pada manusia saja. Adab tidak hanya pada sesama manusia tetapi bagi seluruh alam baik alam tabii, alam insani, maupun alam ilmi,” pungkasnya.

Beliau kemudian menambahkan bahwa jika adab ini diterapkan pada sesama manusia maka inilah yang menyentuh terminologi akhlak. Bagaimana kita berperangai sesuai derajat dan tingkatannya. Dalam bidang ilmu, kita harus memahami hierarki ilmunya. Misal mana ilmu yang fardu ain dan mana yang fardu kifayah.

Untuk menjelmakan adab itu dalam diri manusia, usahanya itulah yang dikenal dengan istilah ta’dib atau pendidikan. Ta’dib ini akan membawa manusia untuk meningkatkan tarafnya dari manusia liar kepada insan yang adabi.

Sekitar 15 menit sebelum acara berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta mempertanyakan beberapa hal yang masih dianggap kurang jelas. Mengingat pada pertemuan kali ini, pembahasan pada perenggan ke-47 cukup panjang dibandingkan perenggan-perenggan sebelumnya.

Laporan: Muh Shalihin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here