Masuk dan Berkembangnya Islam di Myanmar

0
11

Negara Myanmar dulu dikenal sebagai Birma atau Burma, karena sejak 1972 menyebut negaranya dengan nama Republik Sosialis Uni Burma (Dyadaungan Socialist Thammada Myanma Nainnggnan), namun sejak 1989, secara resmi menukar nama negara, dari Burma menjadi Myanmar, dan ibu kotanya, dari Rangoon menjadi Yangoon. Negara ini secara geografis terletak di ekor anak Benua India, di sebelah barat berbatasan dengan dengan laut Andaman, sebelah utara dengan India, timur dengan Cina, dan selatan dengan Thailand.

Luas seluruh wilayah adalah 678.000 km, dengan jumlah penduduk sekitar 45 juta. Mayoritas penduduk Myanmar berbangsa Burma dan beragama Buddha. Di samping itu, terdap­at juga etnis minoritas seperti Karen, Chin, Kachin, Shan, dan Rihingnya.

Secara fisiografis, Myanmar terdiri atas rangkaian atas pegunungan Himalaya, di antaranya terletak memanjang Sungai Irawadi dan Salwen. Perekonomian Myanmar lebih banyak didasarkan pada sektor atau bidang pertanian (yang merupakan 40% GNP negara ini ). Sejak 1962, industri transportasi, perdagangan, dan keuangan dinasionalisasi. Namun, ketika keadaan ekonomi semakin memburuk pemerintah mengajak sektor swasta dan investor asing untuk ikut untuk berinvestasi membangun perekonomian negeri tersebut.


Para pedagang Arab menetap di garis pantai negeri ini selama abad I tahun Hijrah (abad VII masehi), atau sesudahnya. Menurut para sejarawan,para pelaut muslim telah datang ke Burma pada abad IX. Pada 860 M, para pengenalan dari Cina menemukan daerah koloni Persia dan perbatasan Yunnan. Seorang pelancong Persia, Ibnu Khordabheh, pelancong dari Arab abad IX, Suleiman, dan pelancong Persia abad X, Ibnu Al-Faqih, dalam tulisan-tulisan mereka telah menyebut tentang daerah Burma selatan. Sejarawan Arab yang hidup di abad X, Al-Maqdisi, membicarakan hubungan yang telah berkembang antara Burma dan India, Kepulauan Melayu dan Sirlanka. Sejarah Burma mencatat posisi orang-orang arab di masa pemerintahan Raja Anawartha (1044-1077) yang berkembang sebagai penunggang kuda baginda.

Perdagangan kaum muslim di Asia Tenggara mencapai puncaknya hingga abad abad ke tujuh belas, kota-kota di pesisir Burma masuk ke dalam jaringan dagang kaum muslim yang lebih luas. Bahkan, ketika dominasi di kaum muslim di bidang perdagangan mulai surut sebelum akhirnya hancur akibat perdagangan mulai surut sebelum akhirnya hancur akibat perubahan konstelasi politik internasional yang muncul dari rivalnya Eropa, kaum muslim tetap memainkan perang penting di kawasan ini.

Kejatuhan Kesultanan Yunnan di bawah pemerintahan Sultan Sulaiman pada tahun 1873 ke tangan tentara kekaisaran Cina mendorong munculnya gelombang baru pendatang Cina ke bagian utara Burma guna mencari suaka politik. Mulai awal abad XVII dan XIX, di beberapa kota Burma jumlah orang Islam cukup diperhitungkan. Mereka bekerja dalam pemerintahan di bawah hak patronase orang-orang Burma, hinggah saat jatuhnya kerajaan Burma di Mandalay pada 1885. Mereka ternyata dikenal sebagai kelompok oposisi yang paling menentang kedatangan Kolonial Inggris di Burma, bahkan tidak hanya sekadar menolak secara politik,dan diplomasi, melainkam juga dengan kekuatan militer. Penduduk Inggris atas Burma telah mendorong kedatangan para imigran muslim dari India yang didorong keinginan ini untuk mendapatkan penghidupan dan lapangan kerja baru di wilayah itu. Kaum muslim dari India sebagai mana saudara-saudara mereka yang beragama Hindu, bekerja di Burma sebagai pegawai pemerintah, buruh, tukang, polisi, pembuat sepatu, tentara dan juga pedagang. Dalam praktiknya, tidak ada departemen yang stafnyan hanya terdiri dari orang India. Memasuki abad XX, setengah penduduk kota Rangoon adalah orang India, yang sebagiannya adalah muslim.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here