Rohingya dan Masa Depan Islam di Burma

0
8

Secara umum ada empat kategori kaum muslim di Myanmar, yaitu muslim India (kalanpathee), muslim Burma (zarbabee), muslim melayu, dan muslim Cina (pashu atau panthay).” Dilihat dari jumlahnya, kaum muslim Burma sedikit berbeda dengan orang Burma yang beragama Buddha. Kaum Burma tetap memakai nama-nama Burma, meskipun mereka juga menggunakan nama muslim yang bisa dipakai di wilayah yang lingkungan mereka sendiri. Kaum muslim India menghindari penggunaan nama muslim untuk berasimilasi dengan masyarakat lokal, secara politis kaum muslim di Burma selalu memiliki perasaan dan sikap positif terhadap negara dan siap mengidentifikasikan diri dengan kebanyakan rakyat Burma lainnya.

Dalam bidang ekonomi, muslim Burma sebagian besar berprofesi sebagai petani, sedangkan muslim keturunan India dikenal sebagai pedagang yang tangguh. Barangkali karena inilah alalasan kaum muslim India lebih banyak menderita dibanding kaum muslim lainnya ketika sosialisme diterapkan secara kaku pada periode pasca 1962. Secara politilk akan tampak bahwa kaum muslim Burma menikmati proteksi dan kebebasan yang lebih besar selain periode demokrasi. Mereka tidak hanya mempunyai wakil yang cukup baik di pemerintahan, tetapi juga merupakan elemen politik yang penting dalam kehidupan politik di Burma. Kudeta militer tahun 1962, yang disusul dengan sistem politik yang didominasi militer di bawah kepemmpinan Burma Socialist Programme Party / BSPP), mencekik ruang politik oposisi dan mempersempit ruang partisipasi mereka di bidang politik. Organisasi-organisasi seperti Burmese Muslim Congress (BMC), yang dibentuk pada 1945 dan diketahui oleh U Razak, merupakan organisasi Islam yang cukup loyal pada kepentingan rakyat Burma, sedangkan Islamic Center of Burma (ICB) bersikap jauh lebih simpatik dan dekat ke BSPP dan pemerintahan Burma.”

Arakan adalah sebuah wilayah dengan luas 36.762 Km dan jumlah penduduk pada 1969 sebesar 1.874 jiwa penduduk ini terbagi ke dalam dua komunitas keagamaan; muslim (tersebut rohingnya) dan budhis (tersebut mogh). Pada 1982 tercatat sekitar 2.6 juta orang hidup di Arakan. Dari angka ini, sekitar 1.460. 000 adalah muslim (sekitar 56% dari total penduduk di wilayah), sedangkan 2.1 juta muslim lainnya hidup di bagian Myanmar diperkirakan mencapai 3.560.000 atau 10,7% dari total penduduk Burma. Jumlah penduduk di Kota Tanaserrim (ibukota Moulmein) adalah sekitar 600.000 jiwa pada 1982, sekitar 20% dari seluruh penduduk kota tersebut. Sisanya tersebut di bagian wilayah Rangoon dan timur laut, moulmeingyun (bagian irawadi), pyanmana dan kyaukse (bagaian mandalay), shebo (bagian sagaing). Mereka diklasifikasikan berdasarkan etnis dan asal usulnya, sehingga kita kenal: muslim Burma, muslim Rohingnya, muslim keturunan India, muslim Huihui (panthay) dan Zebadi. Muslim Rohingnya lebih dekat karena perjuangan bersenjata untuk mendapatkan otonomi di wilayah Arakan utara. Masyarakat Huihui di Myanmar pun semakin menunjukan kecenderungan membaur dengan warga lainnya. Menurut perkiraan jumlah mereka pada 1931 mencapai sekitar 5.000 jiwa dan pada 1960 telah meningkat menjadi 100.000 jiwa mereka berprofesi sebagai pedagang, pengusaha, dan penyedia jasa di kota di belahan tengah dan utara Myanmar. Hal yang unik dari mereka adalah kecenderungan memilih pasangan dengan wanita Burma yang berasal dari suku dan agama yang berbeda.

Masyarakat muslim Burma (penduduk asli yang masuk Islam pada periode awal) pada mulanya berkembang di pusat kerajaan lama di lembah Irawadi bagian tengah, di sekitar Mandalay kebanyakan mereka menekuni usaha pertanian dan pedagang eceran. Disebabkan berbagai konflik dan persoalan etnis lainnya, sehingga banyak muslim keturunan India yang mengungsi ke luar negeri dan muslim Rohingnya lari ke hutan Arakan utara, maka muslim Buirma dan Zebadi merupakan komunitas yang terbesar di antara muslim Myanmar.

Terdapat lebih dari 2.620 masjid di Burma. Di kota-kota besar, bahkan ada beberapa masjid yang berusia ratusan tahun. Kitab suci Al-Qur’an telah di terjemahkan ke dalam Bahasa Burma oleh tim ulama yang menguasai materi tersebut. Demikian halnya, beberapa buku keislaman juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Burma, meski secara keseluruhan literatur keislaman dalam bahasa Burma masih tergolong sangat sedikit. Sekitar lima ribu muslim Burma melakukan ibadah haji setiap tahunnya sebelum 1962. Hukum keluarga berlaku muslim berlaku di lingkungan keluarga muslim setempat. Ada enam ribu Lembaga Pendidikan al-Qur’an, tetapi agama Islam tidak diajarkan di sekolah negeri/pemerintah/kerajaan. Oleh karenanya, barangkali, terdapat sejumlah besar sekolah Islam yang menampung sekitar 60% anak muslim. Sebelum 1964, terdapat tiga sekolah menengah Islam yang kemudian dinasionalisasi pada 1964. Oleh karena pemerintahan Myanmar sedang bergerak kearah politik “pintu terbuka”, baik karena tuntutan dalam negeri maupun desakan internasional, kehidupan masyarakat muslim Myanmar pun ikut terbawa arus pembaruan tersebut, sehingga posisi politik, sosial, dan ekonomi mereka juga meningkat.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here