Masuknya Islam di Kamboja

0
17

Cambodia, atau Camboja, atau Kampuchea, atau disebut juga Kamboja, merupakan salah satu negara yang terletak di kawasan yang disebut Indo-China, di samping Vietnam dan Laos. Kamboja mempunyai luas 181.035 km, dengan jumlah  penduduk 7 juta jiwa. Negara ini berbentuk republik, dengan ibukota Phnom Penh. Bahasa umum dan resmi negara ini adalah bahasa Khmer, agama utama adalah Buddha, sedangkan mata uangnya adalah Rial. Penduduk Hampir  87% populasi Kamboja adalah bangsa Khmer, selebihnya etnik Campa, Melayu, China, dan India. Kotakota penting adalah Phnom Penh, Mattambay, Kompong Cham, dan Kompong chanang.

Sejarah Kamboja bermula sejak abad II SM, dengan munculnya Kerajaan Fu Nan yang telah beragama Hindu. Pada 802 M, Jayavarman II mendirikan Kerajaan Khmer.

Sejak awal abad X, Kamboja berpusat di Angkor (Yashodarapura). Dalam abad XII, Kamboja mencapai puncak kemakmurannya. Namun, penyerbuan bangsa Thai mengakhiri kejayaan Khmer. Pada 1859, Raja Norodom naik tahta. Kemudian, pada 1863, Kamboja dijadikan protektorat Perancis dan kemudian menjadi koloni Perancis. Sesudah pendudukan Jepang 1941-1945, Perancis kembali menguasai negeri ini. Kemudian pada 1949, Kamboja secara de jure menjadi negara merdeka. Mulai 1951, pemerintahan dipegang langsung oleh Norodom Sihanouk. Kebijakan politik Sihanouk adalah konservatisme ke dalam dan netral keluar. Awal 1955, Sihanouk turun tahta untuk  kepentingan ayahnya  Norodom Suramarit. Ia kemudian memimpin suatu partai baru, yakni partai Sangkum Reast Hiyum (Pergerakan Rakyat Sosialis), yang sejak itu menguasai perpolitikan di Kamboja. Norodom Suramarit meninggal dunia  pada 1960  dan Sihanouk, yang sebelumnya telah  memegang jabatan Perdana Menteri, menerima jabatan sebagai Kepala Negara.

Disebabkan gencarnya serbuan gerilya Khmer Merah, yang mendapat bantuan dari Vietnam Utara dan Front Pembebasan Vietnam Selatan (Viet Cong), akhirnya Kamboja terseret ke dalam kancah peperangan Indo-China. Pada 18 Maret  1970, Sihanouk disingkirkan oleh Angkatan Bersenjata Kamboja ketika ia sedang melakukan perjalanan ke luar negeri, yang mengubah Kamboja menjadi republik  (1970). Lon Nol adalah Perdana Menteri  pertama republik  ini, sebelum kemudian menjadi Presiden Republik yang sangat tergantung pada bantuan Amerika Serikat, yang waktu  itu juga tengah menduduki Vietnam Selatan. Bagaimanapun, kemudian pemerintahan Lon Nol jatuh, sehingga Kamboja dikuasai komunis pada 15 April 1975.  Amerika Serikat melakukan pemboman membabi buta  untuk  membalaskan kekalahannya. Kemudian, Sihanouk kembali dipanggil pulang untuk  menjadi kepala Negara Kamboja mulai Agustus 1975 hingga April 1976.

Masuknya Islam dan Kehadiran Orang Campa di Kamboja

Masuk dan berkembangnya Islam di Kamboja tidak dapat dipisahkan dengan datangnya orang Campa di negeri ini. Hal ini karena orang Campa telah  memeluk agama Islam di negeri asalnya di Vietnam Tengah, sebelum kemudian menyebarkannya ke Kamboja. Seperti telah  diuraikan sebelumnya, banyak orang Campa yang meninggalkan tanah airnya karena desakan Nam tien atau pergerakan orang-orang Vietnam ke selatan. Untuk menyelamatkan diri, mereka hijrah ke Kamboja. Di Kamboja mereka bertemu dengan kelompok Melayu yang datang dari Nusantara. Terjadilah akulturasi budaya karena persamaan agama dan rumpun bahasa Austronesia ke dalam sebuah masyarakat baru yang disebut Melayu-Campa atau Jva-Cam. Kehadiran masyarakat Melayu di Kamboja bermula sejak beberapa abad sebelumnya. Sumber-sumber Khmer menyebutkan bahwa dalam abad VII, kaum Jva (Jawa) telah  menghuni beberapa wilayah Khmer sebagai pedagang, pelaut, dan tentara laut. Semasa abad XV, hubungan dunia  Melayu dan Kamboja meningkat dari segi ekonomi dan agama. Ramai  pedagang dan penyebar agama tiba di Kamboja. Menurut sumber-sumber Melayu di Kamboja, kebanyakan orang Melayu berasal dari Borneo, Jawa, Sumatra, Singapura, Terengganu, dan Patani. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, para ketua masyarakat Melayu telah  menjalin kerja sama dan saling membantu dengan raja-raja Khmer.

Pada 1874, penduduk Melayu-Campa berjumlah 25.599 orang. Sepuluh persen penduduk Phnom Penh adalah Melayu-Cam. Di daerah-daerah pemukiman Melayu Campa ini banyak kita temui  masjid dan surau serta tempat pendidikan agama. Kebanyakan masyarakat Melayu Campa bekerja sebagai petani ladang, nelayan, peternak lembu, dan pedagang yang handal, sedangkan sebagian lainnya bekerja selaku kaki tangan kerajaan, mulai dari pegawai tingkat kampung chumtup, mekhum, mesrok, dan chaway srok. Bahkan, ada  beberapa yang bertugas sebagai tentara atau memegang jabatan politik. Keseluruhan fakta ini membuktikan bahwa masyarakat Melayu-Campa telah  benar-benar merasakan Kamboja sebagai negara bangsanya sendiri dan telah  memberikan kesetiaannya kepada Kamboja, termasuk ketika penjajahan Perancis. Sebaliknya, pemerintah Khmer tidak pernah menganggap Melayu-Campa sebagai pendatang atau orang asing, tetapi warga negara bukan pribumi, sebagaimana banyak warga semacam itu lainnya.

Kamboja merdeka dari penjajahan Perancis pada 9 Nopember 1953, di bawah kepala Negara Norodom Sihanouk. Namun, sayangnya masyarakat Melayu-Campa tidak disebut dari sudut etniknya, yakni etnik Melayu-Cam, tetapi disebut sebagai Kliner Islam, sebutan yang dipopulerkan hingga hari ini.

Belakangan kelompok-kelompok minoritas yang dilindungi  di kawasan Pays Montagards du Sud (PMS) di wilayah Vietnam Selatan, yang meliputi Kontum, Pleiku, Ban Methuot, Djing, dan Dalat, dihapuskan dan seluruhnya dianggap masyarakat Vietnam. Hal yang sama juga  dialami oleh sisa-sisa minoritas Campa di Vietnam dan Khmer Krom (masyarakat Khmer yang  berdiam di Vietnam Selatan). Oleh karena itu, masyarakat Melayu-Campa di Kamboja berusaha berjuang bersama masyarakat PMS di Vietnam dan orang-orang Khmer Krom untuk  membentuk organisasi yang disebut FULRO (Front Unifie de Lutte des Races Oprimees atau Barisan Pembebasan Ras-ras Tertindas). FULRO meliputi gabungan dari Front de Liberaton du Champa (Barisan Pembebasan Campa), Front de Liberation du Kampuchea Krom (Barisan Pembebasan Kamboja Krom) dan Front de Liberation du Kampuchea Nord (Barisan Pembebasan Kamboja Utara).

Struktur FULRO terdiri dari Presiden Chau Dara dan dua orang wakil presiden: Y. Bham Enoul (seorang Rade dan Ban Methuot) dan Po Nagar (seorang tentara Kamboja yang berasal dari Kompong Cam, yang di kalangan Islam dikenal  sebagai Les Kosem). Les Kosem seorang tentara dari kesatuan payung Kamboja, yang pada 1970  dilantik menjadi jenderal. Dia merupakan pimpinan Melayu Campa yang berpengaruh dalam angkatan perang dan politik Khmer. Pada masa pemerintahan Lon Nol, nasib Melayu-Campa agak lebih baik, karena kepercayaan dan berbagai posisi diberikan pada Melayu-Campa dan FULRO. Les Kosem ditunjuk menjadi mediator dalam menyelesaikan berbagai konflik intern muslim dan perwakilan Kamboja ke berbagai negara Islam. Namun, setelah kejatuhan Kamboja ke tangan Khmer Merah, Les Kosem melarikan diri ke Malaysia dan meninggal di Kuala Lumpur  pada 1976.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here