Melayu Campa dan Identitas Muslim Kamboja

0
18

Kamboja merdeka dari penjajahan Perancis pada 9 Nopember 1953, di bawah kepala Negara Norodom Sihanouk. Namun, sayangnya masyarakat Melayu-Campa tidak disebut dari sudut etniknya, yakni etnik Melayu-Cam, tetapi disebut sebagai Khmer Islam, sebutan yang dipopulerkan hingga hari ini.

Belakangan kelompok-kelompok minoritas yang dilindungi  di kawasan Pays Montagards du Sud (PMS) di wilayah Vietnam Selatan, yang meliputi Kontum, Pleiku, Ban Methuot, Djing, dan Dalat, dihapuskan dan seluruhnya dianggap masyarakat Vietnam. Hal yang sama juga  dialami oleh sisa-sisa minoritas Campa di Vietnam dan Khmer Krom (masyarakat Khmer yang  berdiam di Vietnam Selatan). Oleh karena itu, masyarakat Melayu-Campa di Kamboja berusaha berjuang bersama masyarakat PMS di Vietnam dan orang-orang Khmer Krom untuk  membentuk organisasi yang disebut FULRO (Front Unifie de Lutte des Races Oprimees atau Barisan Pembebasan Ras-ras Tertindas). FULRO meliputi gabungan dari Front de Liberaton du Champa (Barisan Pembebasan Campa), Front de Liberation du Kampuchea Krom (Barisan Pembebasan Kamboja Krom) dan Front de Liberation du Kampuchea Nord (Barisan Pembebasan Kamboja Utara).

Struktur FULRO terdiri dari Presiden Chau Dara dan dua orang wakil presiden: Y. Bham Enoul (seorang Rade dan Ban Methuot) dan Po Nagar (seorang tentara Kamboja yang berasal dari Kompong Cam, yang di kalangan Islam dikenal  sebagai Les Kosem). Les Kosem seorang tentara dari kesatuan payung Kamboja, yang pada 1970  dilantik menjadi jenderal. Dia merupakan pimpinan Melayu Campa yang berpengaruh dalam angkatan perang dan politik Khmer. Pada masa pemerintahan Lon Nol, nasib Melayu-Campa agak lebih baik, karena kepercayaan dan berbagai posisi diberikan pada Melayu-Campa dan FULRO. Les Kosem ditunjuk menjadi mediator dalam menyelesaikan berbagai konflik intern muslim dan perwakilan Kamboja ke berbagai negara Islam. Namun, setelah kejatuhan Kamboja ke tangan Khmer Merah, Les Kosem melarikan diri ke Malaysia dan meninggal di Kuala Lumpur  pada 1976.

Kondisi Umat Islam Kamboja Hari Ini

Barulah  setelah kejatuhan rezim  Pol Pot dan kemudian diperintah oleh Hun Sen dan Raja Sihanouk, masyarakat Melayu-Campa atau Khmer Islam kembali merasakan sedikit kemerdekaan beragama. Masjid sudah mulai difungsikan kembali dan demikian juga madrasah-madrasah. Masyarakat Islam diletakkan di bawah majelis yang terdiri dari enam orang yang dilantik oleh raja. Majlis Agama Islam Kampuchea (MAIK) dipimpin  oleh seorang Changvang (mufti), (sekarang dijabat oleh Ustadz Kamaruddin Yusoff, dibantu oleh dua orang Pembantu Mufti, sekarang Ustadz Irsyad bin Yusof Kadir/Ketua dan Ustadz Yusof bin Said/ Wakil Ketua, dilengkapi dengan empat orang Pembantu Administratif. sekarang Abd. Wahid bin Abdullah/Sekretaris, Yusof bin Yahya/ Bendahara, Fauzi Bin Yusof/ Wakil Sekretaris dan Ahmad Bin Yusof/ Wakil Bendahara). Di setiap kampung terdapat seorang pemimpin spritual bergelar Hakim. Di daerah Trea (Kompong Cham)  didirikan sekolah Madrasah Hafiz al-Qur’an, kemudian diikuti Sekolah Dubai di Km 9 Pnomh Penh, Darul Aitam di Pochentong, Sekolah Ummul Oura’ di Chrouy Metrei, Madrasa Hajjah Rohimah Tambichik di Nohor Ban: dan Ma’had al-Muhammady di Beng Pruol. Sebenarnya, sebelum rezim  Khmer Merah memerintah Kamboja, banyak pelajar Kamboja yang melanjutkan pedidikannya ke Malaysia, Thailand Selatan, Mesir, Arab Saudi, dan Kuwait. Akan tetapi, pada saat dan setelah Khmer Merah, pelajar-pelajar tersebut agak berkurangan jumlahnya.

Saat ini solidaritas dari badan-badan Islam Internasional dan umat Islam antara bangsa telah muncul, karena nasib umat Islam di Kamboja yang begitu menyedihkan. Rabithah Alam Islami di Mekah, Organisasi Konferensi Islam (OIC), dan lain sebagainya telah  mengulurkan berbagai bantuan, mulai dari pengiriman mushaf al-Qur’an sampai bantuan rehabilitasi masjid dan advokasi nasib umat Islam. Lembaga-lembaga keagamaan, seperti Jema’ah Tabligh dan  Darul Argam, serta Regional Islamic Da’wah Council of South  East Asia & Pacific (RISEAP) dari Malaysia mendatangkan guru dan pendakwah (ulama) serta melakukan berbagai kunjungan silaturrahmi. Saat ini sudah dikukuhkan 320 buah kampung orang Islam (110 di antaranya terdapat di provinsi Kompong Cham), dipulihkan fungsi dan rehabilitasi bangunan 270 masjid dan surau, dan dikukuhkan 600 orang Tuan dan Hakim. Provinsi lainnya yang juga kuat  umat Islamnya adalah Provinsi Battambang dan Kampot.

Hubungan Budaya Melayu Campa dan Asia Tenggara

Seperti sudah disebutkan, terdapat dua etnis yang menyatu di Kamboja, yakni Melayu-Campa. Masyarakat Kamboja telah  memberikan pengakuan dengan menyebut mereka “Cam-Jua”. Istilah “Cam”, atau Cham  berasal dari etnis atau (kerajaan lama) Campa. Orang Melayu sampai di wilayah Kamboja karena bermaksud merantau dari Nusantara, tetapi orang Campa merambah Kamboja karena harus mengungsi secara besar-besaran dari tanah asal mereka di bagian tengah Vietnam sekarang.

Walaupun orang Kamboja tidak dapat membedakan orang Melayu, tetapi kalangan Melayu di

Kamboja sendiri membagi masyarakat mereka menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Orang Jua Krabi (dalam bentuk   tulisan Clilrvea Krabei) menunjukkan orang Melayu yang berasal dari Pulau  Sumatra, khususnya Minangkabau.
  2. Orang Jua Ijava (Chhvea iava), maksudnya orang Melayu yang berasal dari Pulau  Jawa.
  3. Orang Jun Malayu (chhvea Malayou), menunjukkan orang Melayu yang datang dari negeri-negeri Semenanjung Tanah Melayu dan Patani.

Hijrahnya orang Melayu dari Nusantara, dalam rangka berdagang atau karena mereka anak maritim yang senang mengembara di lautan lepas, diperkirakan setelah masuknya Islam di Nusantara, sehingga mereka ikut membawa Islam ke Kamboja. Proses imigrasi itu diperkirakan berlangsung pada abad XIII dan XIV. Orang Melayu telah  memainkan perannya yang besar dalam mengajarkan Islam di Kamboja. Raja Khmer tidak jarang memberi gelar  kepada tokoh-tokoh Islam, seperti “Onkha To Koley”, berasal dari Ukana To’ Kali —Koley berasal dari kata  Kali): (bahasa Melayu) atau Kadi (bahasa Arab yang berarti Hakim): gelar  “Onkha Reachea Mu Sti”, berasal dari Ukana Raja Mufti Mufti (bahasa Arab berarti pemberi fatwa), dan “Onkha Reachea Peanich”, yang berasal dari Ukana Raja Sampatti, senopati (bahasa Jawa yang berarti perwira) yang bertanggung jawab dalam bidang perniagaan dan ekonomi.

Pada akhir abad XVI, sumber- sumber Khmer menyebutkan bahwa terdapat dua tokoh  Melayu Campa, bernama Po Rat atau Cancona (berasal dari Campa) dan Laksmana (dari Melayu) yang berbakti pada Raja Ram I dari Joen Brai (1594-1596). Keduanya dikenal  sebagai pemimpin tentara yang sangat kuat  dan handal, dipercaya memadamkan berbagai pemberontakan, dan diutus memimpin ekspedisi ke berbagai wilayah. Sebagai balas jasa, Raja Khmer menghadiahkan wilayah Thbaung Khum untuk  mereka jadikan sebagai tempat tinggal keturunan dan masyarakat Islam lainnya.

Menjelang abad XVII, orang Melayu berhasil mengislamkan raja Khmer Ramadhipati I (Cau Bana Cand)  (1642-1658). Masuknya Raja Ramadhipati I ke dalam Islam diperkirakan karena kuatnya lobi dan pengaruh Islam di istana, sehingga hanya dengan ikut Islam kekuasaan raja tersebut akan  dapat bertahan. Raja Ramadhipati merupakan satu-satunya raja Khmer yang masuk Islam sampai masa belakangan.

Untuk zaman akhir ini, Malaysia merupakan negara Melayu yang sangat giat melaksanakan pengkajian masalah Campa dan kaitannya dengan Dunia Melayu. Pengkajian itu dilakukan bersama Ecole Francaise d’Extreme Orient, sehingga sejarah Kerajaan Campa dan kaitannya dengan Melayu dapat terungkap karena telah  sangat kabur  sejak lenyapnya Kerajaan Campa itu. Khusus bagi Indonesia, sebenarnya Campa merupakan wilayah budaya yang mempunyai tempat istimewa khususnya pada masa klasik, zaman Majapahit, dan Sriwijaya, karena pergaulan budaya periode tersebut telah  merambah sampai ke daerah Campa —perdagangan dan pertukaran budaya berjalan sangat intensif. Bahkan, dalam cerita lama dikatakan bahwa seorang putri cantik  dari Campa bernama Gayatri telah  berkawin dengan raja muda Singosari. Hal ini menunjukkan bagaimana hubungan itu telah  terjalin sejak lama. Dalam mitos Minangkabau pun, masyarakat Campa dikenal  sebagai masyarakat pendekar yang sangat ditakuti, sehingga masyarakat menggelari seorang pendekar sebagai “Harimau Campo”. Bahkan, salah satu jurus silat yang paling  disegani di Minangkabau adalah jurus “Harimau Campo”. Untuk masa mendatang, perlu diperkuatkan lagi kerja sama akademik antara Indonesia dan Malaysia terutama menyangkut penggalian khazanah lama, pengkajian hubungan Melayu-Campa dan Dunia Melayu dalam kerangka pemahaman sejarah Islam Nusantara, dan dunia.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here