Selayang Pandang Timur Leste: Pergolakan di Pulau Timor

0
21

Timor Leste mempunyai nama lengkap Republik Demokratik Timor Leste (Republika Demokratika Timor loroisa’e Republica Democratica de Timor Leste), dan di sebut juga Timor Lorosa’e. Negara yang sebelum merdeka bernama Timor Portugis dan Timor Timur ini terletak di bagian timur Pulau  Timor. Selain itu, wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat.

Sebagai sebuah negara sempalan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Timor Leste secara resmi merdeka pada 20 Mei 2002.  Sebutan Timor “Leste” sendiri merupakan istilah Portugis dari wilayah tersebut, sedangkan “Lorosa’e” berasal dari bahasa Tetun, yang artinya  maju.

Pulau Timor merupakan sebuah pulau yang terbagi dua wilayah (Timor Barat  dan Timor Timur), masing-masing menjadi bagian dari wilayah Negara Indonesia dan Negara Timor Leste. Secara keseluruhan, pulau ini mempunyai luas 26.133 km. Wilayah barat, yang termasuk ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, terbagi menjadi 4 Kabupaten: Belu, Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Kota terbesarnya adalah Kupang  yang merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bentang alam Pulau  Timor di bagian tengah didominasi oleh pegunungan dan dataran tinggi yang terdiri dari bukit-bukit kapur. Salah satu dataran tertinggi adalah Gunung  Mutis (2.427 m) yang terletak di perbatasan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara.

Perekonomian Timor kurang berkembang karena wilayahnya yang gersang. Hasil pertanian adalah kacang hijau, kayu manis, kayu cendana, sedangkan peternakan yang dikembangkan di wilayah ini adalah lembu dan kuda. Pelabuhan utama di pulau ini adalah Kupang, Dili, dan Atapupu.

Motto  Negara Timor Leste adalah Unidade, Accao e Progresso (bahasa Portugis yang  artinya: Persatuan, Tindakan dan Kemajuan). Negara yang beribukota Dili ini mempunyai lagu kebangsaan Patria dan secara resmi mempunyai dua bahasa nasional, yaitu Tetun dan Portugis. Negara ini merdeka dari Portugis (28 Nopember 1975)  dan dari Indonesia (20 Mei 2002). Luas wilayah Timor Leste adalah 15.410 Km, dengan populasi 1.040.880 jiwa (2005), dan kepadatan 69 jiwa/Km. Negara ini mempunyai pendapatan keseluruhan US $0,37 miliar (2005) dan per kapita US$400 (2005). Oleh karena seringnya penguasa internasional berkuasa di Timor Leste, mata uang yang digunakan adalah US dolar.

Secara ringkas perjalanan sejarah Timor Leste adalah sebagai berikut:

  1. Timor sebelum kedatangan Bangsa Portugis.
  2. Timor Portugis (Timor di bawah Penjajahan Portugis).
  3. Timor Lorosa’e (Timor pada masa peralihan/ kemerdekaan sementara).
  4. Timor Timur (Timor di bawah Pemerintahan Republik Indonesia).
  5. Timor Leste (Timor pasca Kemerdekaan).

Timor Timur di bawah Pemerintahan Portugis

Sejarah Timor Timur berawal dengan kedatangan orang Australoid dan Melanesia di wilayah ini. Orang Portugal (Portugis) mulai berdagang dengan Pulau  Timor pada awal abad XVI dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga. Tome  Pires dalam bukunya Suma Oriental (1514) menvebutkan: “Tuhan menciptakan Maluku untuk  cengkeh, Banda untuk  pala, dan Timor untuk  cendana”. Demikianlah, kebutuhan akan  rempah-rempah mendorong para pedagang berlomba-lomba mengunjungi dan menguasai Timor dan mengadakan berbagai perjanjian dengan pemimpin lokal.

Pada 1566, para misionaris Katholik dari Ordo Dominika telah mendirikan benteng Portugis pertama di Nusa Tenggara Timur untuk  melindungi pedagang dan pemukiman Katholik. Pedagang dan pekerja tersebut menikah dengan penduduk setempat dan melahirkan keturunan campuran yang biasa disebut “tugas”, yang berkembang populasinya dengan sangat cepat. Pada 1600, misalnya, diperkirakan keturunan campuran yang beragama Katolik ini telah mencapai 12.000 orang. Mereka memiliki status sosial, kekayaan, dan kekuasaan yang relatif lebih tinggi dibanding penduduk pribumi lainnya, karena mereka merupakan kepercayaan penguasa Portugis.

Pada 1605, Belanda berhasil mengalahkan Portugis dan menguasai Ambon (Maluku) dan Pulau Solor (1613). Kekalahan ini menyebabkan Portugis berpindah dari Pulau  Solor ke Larantuka. Pemukiman bangsa Portugis pertama di Timor dirintis pada 1633  oleh Michael  Rangel  di Silibau (sebelah barat Atapupu) dengan dua misi, yaitu penginjilan dan perdagangan. Mestizo membangun benteng di Kupang  (1681), sedang Antonio  Coelho  Guerreiro membangun benteng di Lifau (dekat Ambeno). Bahkan, kemudian pejabat pemerintahan, perdagangan, dan penginjilan Portugis di Kupang  berpindah ke Dili (1769). Sejak itu pusat kekuasaan Portugis di Timor berada di Dili. Dua taja lokal yakni Raja Mena dan Raja Asam secara berangsur dikalahkan oleh Portugis, dan selanjutnya dibaptis. Setelah terjadi  beberapa bentrokan dengan Belanda, dibuat perjanjian pada 1859  yang memutuskan bahwa Portugis akan  memberikan bagian barat pulau itu kepada Belanda dan bagian timur tetap dikuasai oleh Portugis. Kemudian, pada 1942  sampai 1945, Jepang menguasai Timor Timur. Namun, setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Portugis kembali menguasai pulau ini.

Timor di bawah Pemerintahan Indonesia

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, keinginan rakyat Timor Timur (khususnya yang beragama Islam) untuk  bergabung dengan Indonesia sudah ada  sejak lama. Hal itu antara lain disebabkan oleh persamaan keyakinan (agama) dan persamaan dan kaitan keturunan, kebudayaan, dan bahasa. Pada akhir 1975, terjadi  pergolakan dan perang saudara akibat ulah Portugis yang meninggalkan tanggung jawab di Timor Leste. Krisis kevakuman kekuasaan ini, membawa pada “proklamasi” kemerdekaan Timor di bawah Fretilin pada 28 Nopember 1975. Dua hari kemudian, 30 Nopember 1975, partai-partai Apodeti, UDT, Trabalista, dan KOTA menandatangani suatu deklarasi (yang dikenal  sebagai Proklamasi Balibo) yang menyatakan Timor berintegrasi dengan Indonesia. Teks Proklamasi ini diserahkan pada Menteri  Luar Negeri RI (Adam  Malik) di Atambua pada 1 Desember 1975.

Setelah Proklamasi Balibo (30-11-1975), dibentuk pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Arnaldo  Dosreis Araujo (sebagai Ketua Eksekutif) dan Guilherme Maria Consalves (sebagai Ketua Legislatif) pada 17 Desember 1975. Pada 31 Mei 1976, Dewan Perwakilan Rakyat Timor Timur mengeluarkan petisi yang isinya mendesak pemerintah Indonesia untuk  menerima dan mengesahkan bersatunya rakyat  serta wilayah Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seminggu kemudian (7 Juni 1976), para pemimpin eksektutif dan legislatif Timor Timur menyerahkan petisi tersebut kepada Presiden di Istana Merdeka, Jakarta. Akhirnya, Proklamasi Balibo mendapat pengesahan resmi melalui  Undang-Undang Nomor 7 tahun 1976 tanggal 15 Juli 1976, yang ditindak lanjuti dengan PP Nomor 19 tahun 1976, yang menyatakan Timor Timur sebagai Provinsi NKRI ke 27 dengan 13 kabupaten dan 64 kecamatan. Seluruh proses ini dipuncaki dengan pengukuhan oleh MPR melalui  ketetapannya Tap MPR nomor VI/ MPR/1978, tanggal 22 Maret  1978.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here