Keadaan Muslim pada Masa Indonesia (Puncak Kejayaan Muslim Timor Leste)

0
20

Sarana Peribadatan

Sarana peribadatan yang terpenting adalah masjid. Salah  satu masjid tertua dan terbesar adalah Masjid An-Nur, yang sudah dimulai  pembangunannya pada 1955.  Sejak kehadiran pemerintahan Indonesia di Timor (mulai saat itu dinamai dengan Timor Timur), pembangunan Masjid An-Nur mengalami peningkatan yang signifikan. Mulai sejak itu masjid ini kubahnya dibangun dengan cukup  megah dan diperluas menjadi dua lantai, demikian juga aksesorisnya. Lebih dari itu, kegiatan peribadatan dan taklim menjadi semakin lebih hidup dan bersyi’ar.

Secara menyeluruh pada 1993, terdapat 13 buah masjid (Masjid An-Nur Kampung Alor, Nurul Huda Mantuto, Al-Amala Baucau, Al-Amin Baguia, Al-Ikhlas Quelicai, At-Taqwa  Lospalos, Al-Ikhlas Luro, Nurul Huda Ainaro, Al-Ihsan Same, Nurusy-Syuhada Liguisa) dan 37 buah mushala yang juga tersebar di seluruh wilayah Timor Timur.

Sarana Pendidikan Keagamaan

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, pendidikan Islam di Timor Leste sudah berjalan sejak lama, bermula dari pendidikan di masjid, kemudian berkembang menjadi pendidikan di sekolah khusus agama. Mula-mula yang menjalankan tugas pendidikan ini adalah Ali At-Tamimi, kemudian Habib Abdurrahman al-Habsvi, selanjutnva Pengurus Masjid An-Nur, Hasan Abdullah Balafif, dan kemudian H. Abdullah Basyarewan, yang langsung menjadi guru dan mubaligh yang aktif. Mata pelajaran yang diajarkan dalam aktivitas belajar ini adalah ulum al-Qur’an, bahasa Arab, dan praktik ibadah serta akhlak.  Akan tetapi, kemudian ditambah lagi dengan mata pelajaran sejarah Islam dan bahasa Indonesia, sebagai bahasa pengantar resmi Timor Timur. Pada 3 Oktober 1977, dimulai  pembangunan lembaga pendidikan, yang kemudian berkembang menjadi Taman Kanak-kanak (1978), Madrasah Diniyah (1976), Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah An-Nur (1979). Usaha pendidikan ini kemudian ditingkatkan dengan mengirim beberapa putra Timor Timur ke berbagai lembaga pendidikan (madrasah dan pondok pesantren) di wilayah Indonesia lainnya. Pada tahun ajaran 1977/1978, dikirim 10 orang ke Ponpes Muntilan Yogyakarta, 10 orang ke Ponpes Darus Salam Ciamis dan Ponpes Cililin Bandung, dan 10 orang lannya  ke Ponpes Ath-Thahiriyah Kampung Melayu dan Ponpes Asy-Syafi’iyah Jati Waringin. Pada 1990, siswa yang diutus belajar ke Jawa meningkat hingga berjumlah 74 orang. Setelah tamat mereka melanjutkannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kemudian kembali mengabdi di Timor Timur.

Beberapa guru yang pernah mengajar di Madrasah Diniyah dan Ibtidaiyah An-Nur Dili antara lain adalah: Usman Huwole, Muhsin Maspeke, Muhsin Kanon, Tustam Timole, Piris Iko, Sudirman Pakaya, Gafar Kiona, Adnan Pienga, dan Darwin Maga. Belajar dari sukses Madrasah An-Nur, kemudian didirikan Madrasah Diniyah Asy-Syafi’iyah di Liguissa, Madrasah Diniyah Hasanuddin di Same (Manufahi), dan Madrasah Diniyah di Luro (Lauten). Hingga  1995, telah  terdapat 4 TPA, 4 TKA, 8 Madrasah Diniyah Sasta, 4 Madrasah Ibtidaiyah Sasta, 4 TK Islam, dengan 58 penyuluh agama Islam, 22 orang da’i, 21 imam, 90 orang mubaligh.

Institusi dan Lembaga Keagamaan

Pada 1981, didirikan Baitul Mal Dili, dengan ketuanya H. Abdullah Basyarewan. Kemudian, didirikan Majelis Ulama Provinsi Timtim, yang pada waktu itu diketuai oleh Salim Musallam Syagran (28 Februari 1982): Remaja Masjid An-Nur, dengan ketua Ambarak A. Bazher (22 NoVember 1983), dan Panti  Asuhan Muslim, dan lain-lain. Hal ini bisa dipakai sebagai indikasi bahwa semarak syiar Islam di Timor Timur tidak terlalu jauh berbeda dari saudara-saudara tuanya di provinsi lainnya di Indonesia.

Puncak tertinggi pencapaian syiar Islam di Timor Timur adalah tumbuhnya 22 lembaga dakwah, 37 remaja masjid, 2 kelompok kasidah/gambus, 1 radio dakwah, 6 lembaga penerbit bacaan keagamaan.

Kebebasan Menjalankan Ibadah dan Kebanggaan Menjadi Umat Islam

Sejak 1978, masyarakat Islam mulai mengikuti kegiatan keagamaan secara nasional, seperti Jambore Pramuka, MTQ. Selain itu, juga rajin mendatangkan guru, da’i dari Jakarta dan Surabaya, baik yang menetap di Timor Timur maupun yang datang secara berkala. Masyarakat merasakan kenikmatan dalam menjalankan keyakinan dan ritual keagamaan Islam dan bangga menjadi bagian dari umat Islam.

Keadaan Muslim Pasca-Kemerdekaan (Kemunduran Islam di Timor Leste)

Segera setelah pelaksanaan referendum, yang menyatakan bahwa rakyat Timor Timur memilih merdeka dari Indonesia, dan berakhirnya kekuasaan Indonesia di Timor Timur terjadilah kekacauan dan anarkisme yang sangat dahsyat. Kekacauan ini terjadi  karena pasukan Fretilin, yang tadinya bersembunyi di hutan-hutan, masuk ke kota dan melakukan pembalasan (balas dendam) terhadap rakyat  yang memihak Indonesia. Sebagai jawabannya, sisa-sisa pasukan RI, milisi pro-integrasi, dan rakyat yang pro-Indonesia menolak hasil referendum dan mengadakan pembumihangusan hampir seluruh infrastuktur. Akibatnya, diperkirakan lebih satu juta orang mati. Seluruh rakyat  yang pro-Indonesia dan umat Islam (baik yang datang sebelum integrasi maupun yang datang setelah integrasi) kebanyakan mengungsi ke wilayah Indonesia, dengan menderita sepanjang perjalanan penjarahan seluruh harta hasil mata pencaharian mereka oleh Fretilin atau pengacau keamanan. Sebagian lainnya tetap bertahan di kantong-kantong pemukiman, khususnya di sekitar masjid An-Nur, tetapi dengan penderitaan yang juga luar biasa. Semua hubungan keluar masjid An-Nur diputuskan, suplai bahan makanan diblokir, dan seluruh sarana, media, dan pencapaian tertinggi peradaban Islam yang dicapainya selama lebih dua puluh tahun dihancurkan secara bertahap dan pasti.

Dalam berita terkini, jumlah  umat Islam, yang pernah mencapai 30.389 pada 1995, kini tinggal tidak lebih dari 10.000-an. Jumlah masjid yang tadinya mencapai 13 buah, saat ini tinggal 3 buah saja yang masih aktif, sedangkan kebanyakan mushala yang letaknya saling berjauhan dan tersebar banyak yang sudah beralih fungsi dan pemilik. Bahkan, (maaf) di antaranya ada yang beralih fungsi sebagai kandang kambing. Kebanyakan tokoh-tokoh yang sebelumnya sangat kuat dukungannya pada dakwah Islam terbelah menjadi dua. Yang kuat terpaksa mengungsi ke Indonesia, sedangkan yang lainnya terpaksa menyesuaikan diri dengan perubahan situasi demi keselamatan. Perekonomian negeri ini pasca kemerdekaan sangat tergantung pada bantuan dunia internasional.

Berdasarkan fakta-fakta di Timor Leste sendiri, gambarannya tampak agak pesimis, karena mereka sedang mengalami tekanan yang luar biasa. Akan tetapi, kalau masyarakat Islam di luar Timor Leste, khususnya Indonesia, memberikan perhatian, solidaritas, dan bantuan yang lebih nyata, kemungkinan kebangkitan Islam di Timor Leste masih tetap terbuka kemungkinannya, Insya Allah.

Pemilihan multipartai dan diangkat/ditunjuk dari partai mayoritas. Sebagai kepala pemerintahan, Perdana Menteri  mengepalai dewan menteri atau Kabinet.

Parlemen Timor Leste hanya terdiri dari satu kamar saja dan disebut parlamento Nacionale, dengan jumlah kursi adalah 65. Anggotanya dipilih untuk  masa bakti 5 tahun. Undang-undang Dasar Timor Leste didasarkan pada Konstitusi Portugis. Angkatan bersenjata Timor Leste adalah Falintil-FDTL (F-FDTL), sedangkan angkatan kepolisiannya disebut PNTL (Policia Nacionale Timor Leste). Pembagian wilayah Timor Leste sama dengan pembagian kabupaten pada masa pemerintahan Indonesia, yakni 13 distrik —cuma nama dikembalikan pada istilah Portugis dan istilah kabupaten diganti dengan distrik.

Dalam bidang ekonomi, Timor Leste kurang subur untuk pertanian dan perkebunan, karena hanya sebagian kecil wilayahnya yang dapat ditanami. Pemerintah berharap banyak dari hasil minyak di Celah Timor (Timor Gap) yang dieksplorasi bersama Australia. Namun, Australia justru mendominasi hasilnva dengan memberikan tidak lebih dari 20% hasil minyak  kepada Timor Leste. Walaupun telah  merdeka dari Indonesia, Timor Leste sangat tergantung pada pasokan barang-barang dari Indonesia, mulai dari sembako sampai bahan bakar minyak  dan peralatan elektronik melalui Nusa Tenggara Timur. Australia pernah mencoba menguasai distribusi kebutuhan sehari-hari, tetapi gagal karena harga produksi mereka yang terlalu mahal. Pemerintah Timor Leste mengadopsi dolar AS sebagai mata uang, sehingga mengakibatkan daya  beli rakyat sangat mehurun. Walaupun banyak pedagang Indonesia yang sudah kembali ke Indonesia, tetapi hampir semua roda perekonomian Timor Leste tetap dominan dipegang oleh orang-orang Indonesia, misalnya hampir semua restoran dan toko dipegang oleh pedagang-pedagang Bugis-Makassar dan Padang.

Secara demografis, penduduk Timor Leste diperkirakan mencapai 1.040.880 jiwa (2005). Penduduk Timor Leste merupakan campuran antara suku bangsa Melayu dan Papua. Mayoritas penduduk beragama Katholik (90%), Protestan (5%), Islam (3%), dan sisanya Hindu dan animisme (2%). Di Timor Leste terdapat dua keuskupan (diosis), yakni Diosis Dili dan Diosis Baucau.

Sejak kemerdekaan Timor Leste pada 2002, secara resmi Timor Leste mengakui dua bahasa resmi yakni bahasa Tetum dan bahasa Portugis. Tapi secara faktual di lapangan, ternyata bahasa Indonesia banyak digunakan, karena lebih mudah dan familiar.  Khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa hari ini banyak yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar tulis dan akademik di lembaga-lembaga pendidikan.

***********

Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I.

(Direktur Eksekutif Madani-Center for Islamic Studies)

Diikhtisarkan dari “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, oleh Dr. Saifullah, SA, MA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here