Pembina Madani-CIS Bahas Konsepsi dan Kontribusi Ilmu Kalam di Kegiatan MIOF

0
17

MAKASSAR – Madani (Center For Islamic Studies) sukses mengadakan Madani Islamic Online Forum yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting yang diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sabtu malam, (18/12/2021).

Tema yang diangkat pada MIOF kali ini mengenai Konsepsi dan Kontribusi Ilmu Kalam dalam Khazanah Intelektual Islam. Kajian kali ini menghadirkan pemateri yakni Ustadz Dr. Nirwan Syafrin Manurung, M.A, yang merupakan Pembina Madani-CIS sendiri sekaligus peneliti senior pada lembaga INSISTS.

Di awal-awal materinya beliau memaparkan tentang menariknya tema ini. Apalagi jika dihubungkan dengan pandangan yang berkembang di beberapa kalangan tentang konsep ilmu kalam.

“Ilmu kalam saat ini kadang masih menjadi kontroversi. Masih banyak yang kukuh mempertahankan haramnya secara mutlak ilmu kalam ini. Muncul tuduhan bid’ah atau haramnya ilmu kalam masih sering kita dengarkan. Padahal pada dasarnya, entah haram atau tidak, ilmu kalam tidak bisa dipisahkan dari peradaban Islam. Bahkan tidak sedikit kontribusinya terhadap dakwah Islam. Jikalau ada yang menafikan maka secara tidak langsung menafikan ia sebenarnya sedang menafikan peradaban Islam,” ujarnya

Dr. Nirwan kemudian mengutip beberapa pandangan ulama tentang definisi ilmu kalam. Misal, Al-Ijibi menyebut ilmu kalam sebagai ilmu yang tujuannya untuk mengafirmasi akidah dan keimanan dengan mendatangkan hujjah dan bukti untuk menolak syubhat menggunakan hujjah akliah. Hujjah naqliah sudah sama-sama dimaklumi tentang hal tersebut.

Adapun Ibnu Khaldun memandang ilmu kalam sebagai ilmu yang mengandung hujjah-hujjah tentang keimanan dan hujjah aqidah dengan dalil-dalil akal untuk menolak bid’ahnya orang yang menyimpang dari mazhab salaf dan ahlussunnah. Ilmu kalam ini ada untuk merespon pandangan salah tentang akidah islamiyah sebagaimana hal yang disebutkan pada Muqaddimahnya.

Dari definisi yang ada, ilmu kalam ada untuk mempertahankan keimanan dengan dalil aqli. Ia kemudian mengungkapkan keterkaitan ilmu kalam dengan disiplin ilmu agama yang lain.

“Ilmu kalam sangat berkaitan dengan ilmu lain. Terutamanya ilmu ushul fiqh. Pembahasan ushul fiqh bisa dibahas karena ilmu kalam telah mengitsbatkan terlebih dahulu. Misal penggunaan al-Qur’an sebagai sumber utama Islam maka itu dibahas pada ilmu kalam (telah diitsbatkan). Dalam fiqh tidak akan dibahas mengenai posisi al-Qur’an mengapa ia digunakan sebagai sumber,” tegasnya.

Ilmu kalam memang pada awalnya ada untuk mempertahankan keimanan. Sayangnya terjadi perkembangan yang menyebabkan ilmu kalam ada yang berkembang ke arah ekstrim.

Ibnu khaldun dan Syahrastani mengungkapkan adanya penyimpangan mu’tazilah karena mereka mendalami filsafat terlalu dalam sehingga akhirnya terpengaruh pemikirannya. Sehingga akhirnya timbullah dari para ulama tentang kebid’ahannya. Ada yang mengatakan asal ushul fiqh berasal dari ilmu kalam. Sehingga bahwa perbedaan fundamental antara mu’tazilah dengan ahlussunnah adalah pada ushul fiqhnya.

Lebih lanjut, Ustadz Nirwan menjelaskan beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunculan ilmu kalam. Beliau membaginya menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantaranya adalah keberadaannya pada Al-Qur’an dan Sunnah, adanya konflik internal pada masa kekhalifahan. Adapun sebab eksternal berupa adanya filsafat Yunani, masuknya pemikiran asing dalam Islam, dan meluasnya teritori Islam.

Laporan: Shalihin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here